Oleh: inoors | 6 Januari 2009

Ta’liq Thalaq dan Thalaq Langsung (Thalaq, Hukum dan Konsekuensinya 3)

D. TA’LIQ THALAQ DAN THALAQ LANGSUNG

Thalaq dapat terjadi dengan cara diucapkan secara langsung, atau broken-heartdengan digantungkan dengan suatu syarat atau disandarkan pada waktu yang akan datang :

Ø Thalaq yang langsung jatuh, ialah thalaq yang diucapkan langsung tanpa ikatan syaratapapun dan tidak disandarkan pada waktu yang akan datang, misalnya suami yang mengatakan pada istrinya : “ engkau saya thalaq “, maka thalaqnya itu jatuh pada saat diucapkan

Ø Thalaq mu’allaq atau thalaq yang tergantung, ialah thalaq yang diucapkan suami dengan suatu syarat, misalnya suami mengatakan kepada istrinya : “ kalau saya meninggalkan kamu sekian tahun, maka jatuh thalaq saya atas kamu “, maka thalaq tersebut akan jatuh/sah bila memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :

o Harus disandarkan pada sesuatu yang belum ada tetapi akan ada ( sebagaimana contoh diatas ). Apabila digantungkan atas sesuatu yang sudah ada, maka thalaqnya jatuh pada saat ta’liq diucapkan meskipun digantungkan pada sayarat tertentu, seperti “ apabila anak kita yang II lahir, kamu saya thalaq, padahal anak mereka telah lahir “

o Sewaktu ta’liq thalaq diucapkan, wanita yang akan dithalaq masih dalam ikatan pernikahan yang sah

1. Ta’liq thalaq ada 2 ( dua ) macam

a. Ta’liq Qosami / ta’liq sumpah, yaitu ta’liq yang maksudnya seperti sumpah untuk melakukan atau meninggalkan sesuatu, misalnya seorang suami mengatakan pada istrinya : “ kalau kamu pergi, maka kamu saya thalaq “, maksud ucapan tersebut adalah melarang istrinya pergi dan bukan thalaq.

Menurut Ibnu Taimiyyah dan Ibnu Qoyyim :

1). Tidak jatuh thalaq, apabila sumpahnya tidak terjadi, dan suami

tersebut wajib membayar kafaroh

2). Jatuh thalaq, apabila ta’liq / yang digantungkan tersebut terjadi

b. Ta’liq syarthi, yaitu ta’liq yang maksudnya jatuhnya thalaq apabila syaratnya terpenuhi, misalnya suami berkata pada istrinya : “ kalau saya tidak lulus ujian, engkau saya thalaq “.

Thalaq seperti ini jatuh, menurut mayoritas Ulama’

2. Bilangan thalaq

Thalaq itu tiga kali, dua kali ( yang I dan II ) dinamakan tholaq roj’i ( suami berhak untuk meruju’ kembali wanita mantan istrinya ), dan yang ketiga kali disebut thalaq bain ( suami tidak lagi berhak untuk meruju’ mantan istrinya kecuali dengan syarat-syarat tertentu ), berdasarkan firman Allah :

Artinya : “ Talak (yang dapat dirujuki) dua kali. setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma’ruf atau menceraikan dengan cara yang baik. tidak halal bagi kamu mengambil kembali sesuatu dari yang Telah kamu berikan kepada mereka, kecuali kalau keduanya khawatir tidak akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami isteri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, Maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh isteri untuk menebus dirinya. Itulah hukum-hukum Allah, Maka janganlah kamu melanggarnya. barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah mereka Itulah orang-orang yang zalim. Kemudian jika si suami mentalaknya (sesudah Talak yang kedua), Maka perempuan itu tidak lagi halal baginya hingga dia kawin dengan suami yang lain. Kemudian jika suami yang lain itu menceraikannya, Maka tidak ada dosa bagi keduanya (bekas suami pertama dan isteri) untuk kawin kembali jika keduanya berpendapat akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Itulah hukum hukum Allah, diterangkan-Nya kepada kaum yang (mau) Mengetahui. “ ( QS. 2 : 229-230

Ayat tersebut menjelaskan bahwa thalaq itu tiga kali dan suami mempunyai hak meruju’ istrinya setelah thalaq pertama dan kedua

3. Macam-macam thalaq :

a. Dilihat dari aspek bilangannya, thalaq dibagi menjadi :

1) Thalaq Roj’i, ialah tholaq yang sah dengan ketentuan suami

mempunyai hak untuk meruju’ istrinya ( yaitu thalaq yang dijatuhkan pada kali pertama dan kedua ), berdasarkan firman Allah yang artinya :

“ Talak (yang dapat dirujuki) dua kali. setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma’ruf atau menceraikan dengan cara yang baik. “ ( QS. 2 : 229 )

2) Thalaq Bain, ialah thalaq yang sah, dimana suami tidak lagi mempunyai hak ruju’ kecuali dengan syarat tertentu.

Thalaq bain ada dua macam :

a) Bain Shughro ( kecil ), ialah thalaq yang dengannya suami tidak boleh meruju’ wanita mantan istrinya kecuali, dengan akad baru dan mahar baru, seperti thalaq dengan keputusan hakim, thalaq yang berlangsung hingga habis masa ‘iddah ( 3 quru’ ), khulu’dan thalaq yang terjadi sebelum adanya hubungan suami istri, berdasarkan firman Allah yang artinya :

Artinya : “ Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu menikahi perempuan- perempuan yang beriman, Kemudian kamu ceraikan mereka sebelum kamu mencampurinya Maka sekali-sekali tidak wajib atas mereka ‘iddah bagimu yang kamu minta menyempurnakannya. Maka berilah mereka mut’ah, dan lepaskanlah mereka itu dengan cara yang sebaik- baiknya. ( QS. 33 : 49 )

Artinya : Apabila mereka Telah mendekati akhir iddahnya, Maka rujukilah mereka dengan baik atau lepaskanlah mereka dengan baik ( QS. 65 : 2 )

b) Bain Kubro ( besar ), ialah thalaq yang dengannya suami tidak berhak untuk meruju’ wanita mantan istrinya, kecuali wanita tersebut nikah lagi dengan laki-laki lain kemudian diceraikan ( yaitu thalaq yang dijatuhkan untuk yang ketiga kalinya ), berdasarkan firman Allah :

Artinya : “Kemudian jika si suami mentalaknya (sesudah Talak yang kedua), Maka perempuan itu tidak lagi halal baginya hingga dia kawin dengan suami yang lain. Kemudian jika suami yang lain itu menceraikannya, Maka tidak ada dosa bagi keduanya (bekas suami pertama dan isteri) untuk kawin kembali jika keduanya berpendapat akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Itulah hukum-hukum Allah, diterangkan-Nya kepada kaum yang (mau) Mengetahui. “ ( QS. 2 : 230 )

b. Dilihat dari aspek hukumnya, thalaq dibagi menjadi :

1) Thalaq Sunnah, yaitu thalaq yang jatuh menurut ketentuan syar’i berikut .

a) Thalaq tersebut dilakukan karena alasan syar’i

b) Thalaq tersebut dilakukan dalam keadaan istri suci dan belum dicampuri

c) Thalaq tersebut dilakukan dengan berurutan ( pertama, kedua dan ketiga )

2) Thalaq Bid’ah, yaitu thalaq yang bertentangan dengan syara’, seperti menthalaq istri tiga kali sekaligus, atau menthalaq istri dalam keadaan haidh atau menthalaq istri dalam keadaan suci yang telah dicampurinya

c. Dilihat dari aspek lafadz yang dipakai, thalaq dibagi menjadi :

1) Thalaq Sharih, ialah thalaq dengan lafadz yang jelas menunjukkan arti cerai

2) Thalaq dengan kinayah, ialah thalaq yang dilakukan dengan lafadz sindiran

4. Masalah Thalaq Tiga pada satu waktu

Para ulama’ sependapat tentang haramnya thalaq tiga yang dijatuhkan sekaligus, namun mereka berbeda pendapat apakah thalaq dengan cara tersebut jatuh atau tidak ? dan kalau jatuh thalaq, apakah dianggap satu thalaq atau tiga thalaq ?

Jumhur ulama’ berpendapat bahwa thalaq tersebut jatuh, namun mereka berbeda pendapat, apakah jatuh ketiga-tiganya atau jatuh satu thalaq ? :

a. Ulama’ yang berpendapat bawa thalaqnya jatuh ketiga-tiganya, berpegang pada beberapa dalil, diantaranya :

عن عبادة بن الصامت قال : طلق جدي امرأة له ألف تطليقة فانطلق الي رسول الله صلي الله عليه و سلم فذكر له ذلك فقال النبي صلي الله عليه و سلم : ما اتقي الله جدك، أما ثلاث فله و أما تسعمائة و سبع و تسعون فعدوان و ظلم ان شاء الله عذبه و ان شاء غفر له

Artinya : “ Dari ‘Ubadah bin Shamit, ia berkata : kakek saya menceraikan istrinya dengan seribu thalaq, kemudian ia menghadap Rasulullah saw untuk mengadukan hal itu, beliau Rasulullah saw bersabda : kakekmu itu tidak takut kepada Allah, tiga thalaq tersebut adalah haknya sedang yang sembilan ratus sembilan puluh tujuh adalah permusuhan dan aniaya, kalau Allah kehendaki Ia akan mengadzabnya dan kalau mau Ia akan memaafkannya “ ( HR. Abdur Rozaq )

b. Sedang Ulama yang berpendapat bahwa thalaq tersebut dianggap sebagai satu thalaq, berpegang pada beberapa dalil, diantaranya :

ان أبا الصحباء قال لابن عباس : ألم تعلم أن الثلاث كانت تجعل واحدة في عهد رسول الله صلي الله عليه و سلم و أبو بكر و صدرا من خلافة عمر؟ قال : نعم

Artinya : “ Bahwasanya Abu Shahba’ berkata kepada Ibnu ‘Abbas : Apakah engkau tidak tahu kalau thalaq tiga itu dianggap satu thalaq di masa Rasulullah saw, di masa Abu Bakar dan di masa Umar ? Ibnu ‘Abbas menjawab : ya, saya tahu “ ( HR. Muslim)

Rasulullah saw bersabda kepada Rukanah yang telah menceraikan istrinya tiga kali dalam satu tempat :

فانما تلك واحدة فارجعها ان شئت، فراجعها

Artinya : “ Thalaq tersebut adalah thalaq satu, ruju’lah kalau engkau mau, kemudian ia ( Rukanah ) meruju’nya “ ( HR. Ahmad dan Abu Daud )

5. Thalaq dengan keputusan Hakim

Imam Malik, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad berpendapat bahwa suami istri dapat diceraikan dengan keputusan hakim, karena beberapa alasan, diantaranya :

a. Istri tidak diberi nafkah

b. Untuk menghindari bahaya karena perlakuan dholim suami

c. Karena ditinggal suami dengan 3 syarat :

1) Kepergian suami tanpa ada alasan syar’i

2) Sudah lewat satu tahun

3) Istri merasa tidak aman dengan kepergian suami

d. Syiqoq, yaitu ketika terjadi sengketa antara suami istri yang sulit untuk didamaikan

e. Karena suami menjadi narapidana

Ditulis Oleh : Ust. H. Agung
Cahyadi, MA. (Materi
dalam program Islamic Short Course Menengah, Pusda YDSF 2008)


Responses

  1. makasi boz artikelnya ……. kapan-kapan gw berkunjung lagi

  2. Makasih byk.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: