Oleh: inoors | 1 Januari 2009

Thalaq (Thalaq, Hukum dan Konsekuensinya 2)

C. THALAQ

16174Thalaq ialah lepasnya ikatan pernikahan dengan lafadz khusus, yang merupakan hak suami dan apabila telah terjadi tidak lagi dapat dibatalkan kembali, sebagaimana sabda Rasulullah saw :

لا قيلولة في الطلاق

Artinya : “ Tidak ada pembatalan dalam thalaq “ ( HR. Al-‘Uqhaili > Nailul Authar VI/238 )

1. Rukun thalaq

a. Al- Muthalliq/pelaku thalaq

Dengan syarat sebagai berikut :

1) Suami mukallaf ( baligh dan berakal )

2) Atas kehendak sendiri/tidak terpaksa

b. Thalaq karena marah

Seorang yang sangat marah sehingga tidak menyadari apa yang diucapkannya , maka thalaqnya tidak sah, berdasarkan sabda Rasulullah saw :

لا طلاق في اغلاق

Artinya : “ Tidak sah thalaq dalam keadaan marah “( HR. Abu Daud, Ahmad dan Ibnu Majah )

c. Thalaq karena gila

Orang yang gila sebagaimana juga orang yang marah ( seperti pada poin I ), thalaqnya tidak sah, sabda Rasulullah saw :

رفع القلم عن ثلاثة : عن الصبي حتي يحتلم و عن النائم حتي يستيقظ و عن المجنون حتي يفيق

Artinya : Dimaafkan atas ummatku tiga orang : Seorang bayi hingga baligh, dan seorang yang tidur hingga ia bangun dan orang yang gila hingga ia sadar “ ( Ahmad, Abu Daud, Hakim dan yang lainnya )

d. Thalaq karena mabuk

Thalaq yang diucapkan seorang yang mabuk yang tidak menyadari apa yang diucapkanya, ada dua kondisi ; > apabila mabuknya terjadi dengan cara yang haram ( dengan kesadaran dan kemauan sendiri ) , maka thalaqnya jatuh./.sah ( menurut mayoritas ulama’ kecuali Hanabilah ), >. > namun apabila mabuknya tersebut terjadi dengan cara yang tidak haram ( misalnya, karena terpaksa ) maka thalaqnya tidak sah

e. Thalaq karena terpaksa

Orang yang dipaksa ( tidak punya keinginan dan tidak punya pilihan ) untuk menceraikan istrinya , maka thalaqnya tidak sah, dengan dalil sebagai berikut

Artinya : “ Kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman ( Dia tidak berdosa ) “ ( QS. 16 : 106 )

Rasulullah saw bersabda :

رفع عن أمتي الخطأ و النسيان و ما استكرهوا عليه

Artinya : “ Dimaafkan atas ummatku kekeliruan, lupa dan karena terpaksa “ ( HR. Ibnu Majah, Ibnu Hibban, Daru Quthni dan Hakim )

2. Al-Qhasdu /atas dasar kesadaran

a. Thalaq dengan bergurau;

b. Thalaq yang diucapkan dengan bergurau atau main-main dianggap jatuh/sah, sesuai dengan sabda Rasulullah saw :

ثلاث جدهن جد و هزلهن جد : النكاح و الطلاق و الرجعة

Artinya : “ Tiga perkara yang apabila dilakukan dengan sungguh-sungguh dianggap sah, dan apabila dilakukan dengan bergurau juga dianggap sah, yaitu : nikah, thalaq dan ruju’ “ ( HR. Tirmidzi )

c. Thalaq karena keliru

Thalaq yang dilakukan karena keliru, dengan tidak disengaja untuk diucapkan., hukumnya sebagai berikut :

1) Menurut Syafi’iyyah, tidak sah

2) Menurut Mayoritas Ulama’ : thalaqnya jatuh demi hukum, sedang menurut agama ( hubungan antara pelaku dengan Allah ) tidak jatuh thalaqnya, sehingga istrinya tetap halal

d. Perbedaan antara bergurau dan keliru

Kalau “ bergurau “ ada unsur kesengajaan dan kesadaran, namun “ keliru “ tidak ada unsur kesengajaan dan kesadaran

3. Mahallutthalaq/obyek thalaq ( istri )

Thalak yang dijatuhkan atas seorang wanita, tidak dianggap sah kecuali apabila memenuhi beberapa syarat berikut :

Ø Ada ikatan pernikahan yang sah

Ø Masih dalam masa ‘iddah dari thalaq roj’i, karena wanita tersebut masih dalam ikatan pernikahan sampai habis masa ‘iddahnya

4. Shighoh/bentuk lafadh yang dipakai

Thalaq dapat jatuh dengan segala macam cara yang menunjukkan berakhirnya hubungan pernikahan, baik dengan ucapan, tulisan, isyarat atau dengan utusan, dengan syarat-syarat sebagai berikut :

F Memakai lafadh yang menunjukkan arti cerai secara bahasa atau kebiasaan, baik dengan ucapan, tulisan atau isyarat

F Al-Muthalliq/pelaku thalaq memahami artinya meskipun dengan bahasa asing

F Ditujukan kepada istri yang sah

a. Thalaq dengan ucapan

Ucapan yang dipakai dalam thalaq ada dua macam ; Sharih ( tegas ) atau Kinayah ( sindiran )

1) Ucapan sharih ialah dengan memakai kata-kata yang dapat difahami maknanya dengan jelas, seperti : kamu saya cerai, saya thalaq atau dengan kata lain yang menunjukkan arti thalaq

Thalaq dengan kata-kata yang sharih/jelas mengakibatkan jatuhnya thalaq meskipun dengan senda gurau

2) Kinayah atau sindiran harus mengandung makna cerai, misalnya “ ilhaqi biahliki “/ kembalilah kepada keluargamu, atau “ Amruki biyadiki “ /urusanmu ditanganmu, kata tersebut mengandung makna pemberian hak dan kebebasan untuk menentukan pilihan

Thalaq dengan kinayah tidak mengakibatkan sahnya thalaq kecuali dengan niat ( niat untuk menceraikan )

b. Thalaq dengan tulisan

Thalaq dengan tulisan dapat dianggap jatuh/sah, meskipun suami yang menulis dapat berbicara/tidak bisu, dengan syarat : tulisannya jelas dan tertentu

Jelas artinya dapat dibaca, misalnya dalam lembaran kertas dengan huruf yang dapat dibaca

Tertentu artinya ditujukan kepada istrinya, misalnya : wahai istriku, engkau saya ceraikan

Apabila tulisan tersebut tidak menunjukkan alamat yang jelas, maka tidak jatuh thalaq kecuali dengan niat thalaq, misalnya : istriku saya ceraikan

c. Thalaq dengan isyarat

Bagi orang yang bisu, isyarat merupakan bahasa komunikasi, yang karenanya kberkedudukan sama dengan ucapan orang tidak bisu dalam menjatuhkan thalaq, apabila isyarat tersebut dimaksudkan untuk mengakhiri ikatan pernikahan

d. Thalaq dengan mengirim utusan

Apabila thalaq dapat jatuh dengan ucapan atau dengan tulisan bahkan dengan isyarat, maka thalaq juga sah disampaikan oleh seorang utusan yang diutus seorang laki-laki untuk menyampaikan kepada istrinya, bahwa ia diceraikan oleh suaminya

CATATAN :

a. Suami yang mengharamkan istri

Apabila seorang suami mengatakan kepada istrinya : “ engkau haram bagiku “, apakah ucapan semacam itu dianggap thalaq atau bukan ?

Disini ada dua kemungkinan ;

1) Apabila ucapan tersebut dimaksudkan hanya semata-mata ia tidak akan mencapuri istrinya, maka tidak menyebabkan jatuhnya thalaq, tetapi ia wajib membayar kafaroh yamin/sumpah, sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu ‘Abbas :

اذا حرم الرجل امرأته فهي يمين يكفرها ثم قال : لقد كان لكم في رسول الله صلي الله عليه و سلم أسوة حسنة

Artinya : “ Apabila seorang suami mengharamkan dirinya atas istrinya, maka hal tersebut termasuk sumpah yang harus ditebus dengan kafaroh, kemudian beliau berkata , sungguh telah ada contoh yang baik bagimu dalam diri Rasulullah saw “ ( HR. Muslim )

‘Aisyah berkata :

آلي رسول الله صلي الله عليه و سلم من نسائه و حرم فجعل الحرام حلالا و جعل في اليمين الكفارة

Artinya : “ Rasulullah saw pernah meng-iila’ istrinya dan mengharamkan ( berhubungan dengan istrinya ), kemudian yang haram itu dijadikan halal dan sumpah tersebut ditebusnya dengan kafaroh “ ( HR. Tirmidzi )

2). Apabila ucapan tersebut dimaksudkan untuk menceraikan istrinya dengan menggunakan lafadh “ tahrim/pengharaman “, maka hal tersebut menyebabkan jatuhnya thalaq, karena kata “ pengharaman : itu kinayah thalaq

b. Menebus sumpah thalaq

Barang siapa yang bersumpah akan menthalaq istrinya dan kemudian sumpahnya ia langgar, maka ia hanya wajib membayar kafaroh dan tidak perlu menjatuhkan thalaq

c. Saksi dalam thalaq

Mayoritas Ulama’ berpendapat bahwa thalaq dapat jatuh tanpa adanya saksi, karena thalaq adalah hak suami, Allah berfirman yang artinya :

Artinya : “ Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu menikahi perempuan- perempuan yang beriman, Kemudian kamu ceraikan mereka .“ ( QS. 33 : 49 )

Ditulis Oleh : Ust. H. Agung
Cahyadi, MA. (Materi
dalam program Islamic Short Course Menengah, Pusda YDSF 2008)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: