Oleh: inoors | 24 Desember 2008

Perselisihan Suami Istri (Thalaq, Hukum dan Konsekuensinya 1)

A. PERSELISIHAN SUAMI & ISTRI DAN TERAPI NUSYUZ

  1. Perselisihan suami dan istri broken-home-joint-custodys600x6001

Perselisihan antara suami dan istri adalah masalah yang bisa terjadi pada sebuah keluarga siapapun, dan Islam mengakui kemungkinan terjadinya hal tersebut dan untuk itu Islam telah mengajarkan kepada kita langkah-langkah antisipasi yang seharusnya ditempuh bagi upaya perbaikan.

Oleh karena suami adalah pemimpin dan penanggung jawab dalam rumah tangga, maka ia menjadi orang yang paling bertanggung jawab untuk ber-inisiatif mencari solusi dari perselisihan yang terjadi

Dan tegaknya komunikasi/musyawaroh antara suami dan istri, menjadi kata kunci bagi upaya mencari solusi tersebut. Rasulullah saw bersabda kepada istrinya ‘Aisyah :

اني لأعلم اذا كنت عني راضية و اذا كنت علي غضبي … أما اذا كنت عني راضية تقولين : لا ورب محمد، و اذا كنت علي غضبي قلت : لا و رب ابراهيم فقالت : أجل

Artinya : “ Sungguh saya mengetahui dan hafal ya ‘Aisyah, kapan engkau rela padaku dan kapan engkau marah, adapun ketika engkau rela padaku, engkau akan mengatakan ( dalam sumpahmu ) “ tidak, demi Robb Muhammad “, namun bila engkau marah, engkau akan mengatakan “ tidak, demi Robb Ibrahim “, maka ‘Aisyahpun menjawab “ benar ya Rasulullah “ ( HR. Bukhori dan Muslim )

  1. Terapi Nusyuz

Nusyuz adalah sebuah kemaksiatan, yaitu tidak dilaksanakannya kewajiban suami istri, baik dilakukan oleh suami, seperti suami yang berlaku kasar atau tidak memberikan nafkah kepada istri, atau dilakukan oleh seorang istri, seperti istri yang keluar rumah dengan tidak mendapatkan izin dari suami, istri yang tidak mau melayani suami

a. Apabila nusyuz terjadi dari fihak istri, misalnya istri tidak taat kepada suami, maka ada tiga langkah yang seyogyanya ditempuh oleh seorang suami dalam rangka untuk melakukan perbaikan, sebagaimana firman Allah :

Artinya : Maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh Karena Allah Telah memelihara (mereka). wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, Maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, Maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha besar. “ ( QS. 4 : 34 )

Ketiga langkah tersebut, sebagaimana dijelaskan dalam ayat diatas adalah sebagai berikut :

1) Memberikan nasihat, apabila istri durhaka, maka suami tidak boleh dengan terburu-buru menghukumnya atau menyakitinya atau menceraikannya, ia berkewajiban untuk menasehatinya dengan baik terlebih dahulu, misalnya dengan mengingatkannya akibat nusyuz di dunia dan akhirat

2) Memutuskan hubungan baik, apabila nasihat – seperti pada poin pertama – belum bermanfaat bagi upaya perbaikan istri, maka suami menempuh langkah kedua, dengan memutuskan hubungan baik, misalnya berpisah ranjang, tidak makan bersama ( dengan batasan waktu sesuai dengan kebutuhan ), mendiamkannya dengan tidak bercakap-cakap dengannya /dengan batasan waktu maksimal tiga hari

3) Memukulnya, apabila langkah kedua belum juga bermanfaat, maka suami diperkenankan menempuh langkah ketiga, dengan memukulnya dengan pukulan yang tidak menyaktinya

b. Apabila nusyuz terjadi dari suami, maka fihak istrilah yang harus berinisiatif untuk melakukan perbaikan, misalnya dengan mengajak damai, meskipun ia harus merelakan untuk melepaskan sebagian haknya ( seperti yang dilakukan oleh Saudah binti Zum’ah ), langkah tersebut sebagaimana diisyaratkan oleh Allah dalam firmannya :

Artinya : Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz atau sikap tidak acuh dari suaminya, Maka tidak Mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya, dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka) walaupun manusia itu menurut tabiatnya kikir, dan jika kamu bergaul dengan isterimu secara baik dan memelihara dirimu ( dari nusyuz dan sikap tak acuh ), Maka Sesungguhnya Allah adalah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. ( QS. 4 : 128 )

c. Apabila upaya perbaikan dari kedua belah fihak ( suami istri ) belum juga memberikan manfaat dan keduanya tetap pada apa yang telah dilakukan ( nusyuz ), maka dalam kondisi tersebut diperlukan kehadiran fihak ketiga/eksternal untuk mengambil langkah perbaikan, itulah langkah antisipasi yang di isyaratkan Allah dalam firmannya :

Artinya : Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, Maka kirimlah seorang hakam ( juru pendamai ) dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan. jika kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami-isteri itu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal. “ ( QS. 4 : 35 )

Demikianlah Islam mengajarkan kepada kita, agar perselisihan antara suami istri – yang memang bisa terjadi pada keluarga siapapun juga – diupayakan secara optimal untuk diperbaiki, demi menjaga kedamaian keluarga yang merupakan tujuan dari sebuah pernikahan dalam Islam ( QS. 30 : 21 ), Rasulullah saw bersabda :

ألا أخبركم بأفضل من درجة الصلاة و الصيام و الصدقة ؟ قالوا : بلي يا رسول الله، قال : ” صلاح ذات البين فان فساد ذات البين هي الحالقة لا أقول تحلق الشعر و لكن تحلق الدين “

Artinya : “ Tidakkah aku beritahukan kepada kalian tentang sesuatu yang lebih utama derajatnya dari pada sholat, puasa dan shodaqoh ? para shahabat menjawab : tentu kami mau ya Rasulullah, Rasulullah saw bersabda : baiknya hubungan suami istri, karena sesungguhnya rusaknya hubungan suami istri itu Pemangkas, saya tidak bermaksud memangkas rambut akan tetapi memangkas agama “ ( HR. Tirmidzi )

Adapun apabila segala upaya perbaikan bagi terwujudnya kembali “ kehidupan yang damai dan tentram antara suami dan istri “ dengan nasihat, pemutusan hubungan, pemukulan, perdamaian dan yang lainnya tidak juga berhasil, maka berpisah ( thalaq ) adalah jalan yang terbaik sebagai alternatif yang terakhir, meskipun hal tersebut tidak disukai oleh Allah swt, sebagaimana sabda Rasulullah saw :

أبغض الحلال الي الله الطلاق

Artinya : “ Halal yang paling dibenci oleh Allah ialah thalaq “ ( HR. Abu Daud, Ibnu Majah dan Hakim )

B. FURQOH

  1. Ma’na Furqoh

Furqoh artinya lepasnya akad/ikatan pernikahan dan terputusnya hubungan suami istri.

Furqoh ada 2 macam :

a. Furqoh karena fasakh

b. Furqoh karena thalaq

  1. Fasakh

Fasakh ialah rusaknya akad pernikahan dan hilangnya hak nikah kembali secara otomatis atau hak pilih, karena sebab-sebab yang bisa merusak sahnya akad pernikahan, baik terjadi setelah akad, seperti murtadnya salah satu dari suami atau istri. Atau yang sudah terjadi sebelumnya, seperti nikahnya saudara sesusuan

Sedang thalaq ialah lepasnya akad/ikatan pernikahan yang sah dengan tidak hilangnya hak nikah kembali ( kecuali thalaq bain kubro )

Ditulis Oleh : Ust. H. Agung
Cahyadi, MA. (Materi
dalam program Islamic Short Course Menengah, Pusda YDSF 2008)


Responses

  1. pengertin syikok dalam bab talaq dan bagamana tinjauna hukum tentang hal tersebui


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: