Oleh: inoors | 21 Agustus 2008

10 Untai Cinta Untuk Mempelai

1. Milikilah Visi dan Misi Bersama

Sendi bangunan keluarga muslim adalah taqwallah. Ketaqwaan pada Allah SWT mendasari setiap aktivitas rumah tangga yang mereka bangun. Cita-cita menjadi keluarga sakinah mawaddah wa rahmahadalah cita-cita yang dibangun berdasarkan amal dan tindakan. Bukan hanya symbol dan angan-angan tanpa usaha untuk mewujudkannya. Visi dan misi yang harus difahami adalah bahwa membentuk rumah tangga yang Islami adalah lading yang subur pahala untuk meraih ridha-Nya.gelang-006

2. Pahamilah Karakter dan Kebiasaan Pasangan Kita

Tiap individu punya keunikan sendiri. Pengalaman, ilmu dan lingkunganlah yang membentuk keunikan itu. menikah dengan seseorang berarti kita menikah dengan sosok yang unik yang meniscayakan kemauan untuk memahami karakter dan kebiasaan-kebiasaannya. Dalam perjalanannya, tiap pasangan harus mengevaluasi apakah karakter dan kebiasaannya efektif dan justru kontra produktif dengan harapan-harapan yang akan dibangun. kematangan emosi tiap pasangan akan teruji untuk bisa fleksibel dalam memainkan peran rumah tangga dan mengelola perbedaan karakter menjadi sebuah kekuatan yang konstruktif.

3. Saling Memberi dan Menerima

Menerima dan memberikan yang terbaik pada pasangan kita harus dilandasi dengan ketaqwaan pada Allah SWT dan cinta. Hal ini juga yang disyaratkan oleh Nabi SAW, bahwa sebaik-baik manusia adalah mereka yang paling baik terhadap keluarganya. Ketaqwaan kepada Allah dan rasa cinta serta kasih sayang yang tumbuh di antara pasangan akan membentuk keikhlasan dan setiap pengorbanan yang mereka berikan. Muara keikhlasan ini adalah berkah yang mengiringi di dunia hingga akhirat.

4. Berbagi Peranlah Secara Proporsional

Berbagi peran bukanlah hal yang mudah, tapi dengan niat yang kuat dan usaha yang keras, Insya Allah setiap pasangan akan belajar untuk dapat melakukannya. Dua kunci penting dalam berbagi peran adalah komunikasi dan manajemen diri. Komunikasi yang sehat, jujur dan terbuka akan menjadi wahana yang efektif untuk saling memahami peran masing-masing, bagaimana memproporsikan peran di dalam dan di luar rumah tangga serta dinamisasi peran itu, sejak awal pernikahan hingga hari tua. Mnajemen diri pun amatlah penting sehingga dapat diputuskan sebuah skala prioritas dalam strategi pembangunan rumah tangga dan memberi keputusan terbaik dalam keluarga.

5. Saling Belajarlah untuk Kemajuan Bersama

Ilmu dalam keluarga muslim adalah kunci akan bertahan dan semakin benderangnya cahaya dalam rumah tangga. Saling belajar adalah kunci yang tak boleh terlepas dari genggaman. anak belajar dari orang tua, isteri belajar dari suami, suami belajar dari isteri, orang tua belajar dari anak-anak. Berangkat dari iktikad baik untuk saling belajar, saling mendukung, saling mengingatkan, demi kemajuan masing-masinglah rangkaian generasi yang terbentuk akan progresif dari zaman ke zaman.

6. Saling Berusaha untuk Mewujudkan Harapan Masing-Masing

Tiap manusia memiliki ambisi dan impian dalam hidupnya, baik sebelum maupun setelah menikah. Sebagai partner hidup, maka selayaknyalah isteri maupun suami perlahan mempelajari mimpi-mimpi itu. Kemudian, harapan tiap pihak itu menjadi harapan bersama, bagian tak terpisahkan dan harapan masing-masingnya. dalam perjalanan akan terukur konteks pencapaian kelayakannya dan prioritas terwujudnya. Cinta dan kesabaran adalah kata dalam seni dalam mewujudkan impian-impian dan kesuksesan.

7. Berlomba-Lombalah dalam Beramal Shalih

Tiap-tiap jiwa akan dimintai pertanggungjawabannya. masing-masing, baik isteri maupun suami akan dimintai pertanggungjawaban terhadap apa yang dipimpinnya. Dalam beramal shalih, tak ada istilah “cukup” atau alakadarnya saja. Baik suami dan isteri memiliki komitmen untuk contoh kebaikan bagi yang lain. Bila tidak memiliki komitmen untuk berlomba dalam amal shalih, yang justru saling mengandalkan kualitas ibadah kita karena orang lain.

8. Menjadi Kontributor Dakwah / Kemashlahatan Ummat

Perjalanan rumah tangga muslim harus menjadi yang bermakna luar biasa. Kehidupan di dalamnya menjadi energi yang kokoh untuk bisa terlibat dalam masyarakat yang kering akan nilai-nilai Islam. Kemashlahatan umat turut menjadi agenda besar dalam kehidupan rumah tangga. Sungguh apa saja yang mereka milki menjadi wakaf atas dakwahnya.

9. Menjadi Teladan bagi Masyarakat

Cahaya akhlak Islami yang mereka hidupkan di dalamnya mampu menerangi dan menyejukkan orang-orang disekitarnya. Tata cara hidup keluarga muslim dibangun menjadi rujukan tiap keluarga yang mendambakan kebahagiaan dunia dan akhirat. Menjadi guru dan tuladan di tengah masyarakat bukanlah khayal, ia adalah cita-cita.

10. Mendidik Anak-Anak dengan Gaya dan Cara Hidup Islami

“Ibu adalah sekolah, yang apabila engkau persiapkan dia berarti engkau telah mempersiapkan suatu bangsa dengan dasar yang baik”. Jadikan Qur’an sebagai referensi yang paling shahih dalam mendidik anak. Dekatkan mereka untuk mencintai Al-Qur’an sebagai hiasan sehari-hari dalam mendidik anak-anak kita kelak.


Responses

  1. Ass wr wb,mohon keredaan dan kerelaan serta keihlasan Ust.Nasirul Haq karena saya telah mengunduh tulisan anda untuk saya berikan kepada anak saya yang Insya ALLAH akan menikah pada tahun ini mohon do’a dan restunya.wassalam mu’alikum wr wb.

  2. Wa’alaikumus salam wr. wb. Mohon maaf, terlambat merespon. Alhamdulillah jika tulisan ini dapat bermanfaat bagi siapa saja. Terimakasih.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: