Oleh: inoors | 25 Maret 2008

Saudaraku….Ayo Kita Melihat !


pd_eyes_070425_msAlangkah nista apabila dilihat, alangkah hina apabila dipandang, ketika kita melihat ke belakang melihat dari manakah kita berasal, dari manakah kita diciptakan. Tidak peduli itu raja, presiden, direktur, karyawan, sopir, tukang becak dan beragam status sosial di masyarakat semua manusia itu diciptakan sama. Dari bahan pokok yang sama sekali tidak ada nilainya. Tidak ada orang yang tak jijik dengannya. Tidak ada orang yang bangga dan memamerkannya. Ya…! dengan kuasa dan kehendak Allah dari sprema lah kita (manusia) tercipta.

Allah berfirman :

Dari apakah Allah menciptakannya? Dari setetes mani, Allah menciptakannya lalu menentukannya. (QS. ’Abasa : 18-19)

Ya, setelah Allah mempertemukan sperma dengan ovum, Allah tidaklah membiarkan manusia itu begitu saja, akan tetapi Allah telah menentukan. Yang dimaksud dengan menentukannya ialah menentukan fase-fase berikutnya. Kemudian ketika kita berusia 40 hari dalam kandungan Allah menentukan umur, rezki, dan nasib kita. Allah telah membuatkan mata bagi kita agar kita bisa melihat dan menikmati indahnya alam ciptaan-Nya.

Coba bayangkan andaikan kita terlahir atau sedang tidak bisa melihat, apa yang bisa kita perbuat? Mungkin kita tidak pernah akan bisa berada di depan komputer untuk membaca tulisan ini. Allah melengkapi kita dengan dua tangan dan kaki dan segenap panca indra, agar kita bisa seperti sekarang ini, Siapapun itu orangnya, maka Allah lah yang telah memberikan semua itu kepada manusia.
Allah berfirman :

Kemudian dia memudahkan jalannya. (QS. ’Abasa : 20)

Memudahkan jalan maksudnya memudahkan kelahirannya atau memberi persediaan kepadanya untuk menjalani jalan yang benar atau jalan yang sesat. Memudahkan segala sesuatu untuk kita, termasuk rezeki. Ya Allah lah yang memudahkan kita mendapatkan rezeki.

Bagi petani misalnya, petani ketika menanam padi dia hanyalah berusaha membuat pesemaian benih, mengolah tanah lalu menanamkan benih itu ke tanah tersebut. Lalu apakah tugas petani selanjutnya? Ia hanyalah menjaga dan memupuknya, dan bisa ditinggal begitu saja hingga menunggu waktu panen. Lalu kalau kita berpikir, siapakah yang menumbuhkan benih padi tersebut hingga berbuah. Siapakah yang menambah mili demi mili, centi demi centi pertumbuhan tanaman padi itu setiap hari? Siapakah yang memunculkan bulir-bulir padi yang begitu melimpah ruah hingga bisa dipanen? Apakah petani? Tidak, setelah manusia berusaha, yang bisa dilakukan manusia adalah memberi tugas kepada Allah untuk menumbuhkan, mebuahkan tanaman tersebut hingga bisa dipanen. Ya begitulah, dengan sambil enak-enakan tidur Allah yang bekerja menumbuhkan, membuahkan bulir-bulir padi hingga bisa dipanen.

Begitu pula bagi pedagang. Pedangang mendapatkan rezeki dengan menggelar dan menata barang dagangannya sedemikain rupa. Lalu apa yang dilakukannya? Dengan santainya dia menunggu datangnya pembeli, bisa sambil tilawah, lihat televisi, membaca, atau hilir mudik kesana kesini. Kalau dipikir siapakah yang mampu menggerakkan hati sekian banyak jumlah pembeli untuk singgah di kios atau tokonya, bahkan tidak sekedar singgah tetapi juga tertarik hatinya untuk membeli barang dagangan tersebut, sehingga dia mendapatkan keuntungan? Lagi-lagi dengan sambil santai dia menyerahkan tugas-tugas tersebut kepada Allah. Bahkan ketika suatu saat tidak ada pembeli atau tanaman gagal panen (bagi petani) mungkin manusia akan marah, mengumpat, misuh-misuh (red : Jawa = berkata kasar) yang tidak sadar bahwa yang dia marahi sebenarnya Allah, Na’udzubillahi min dzalik).

Padahal ketika Allah melakukan itu semua untuk manusia adalah karena rasa kasih sayang Allah kepada manusia, tidak mengharapkan imbalan apa-apa kepada manusia. Bahkan seharusnya lah kita yang sangat memerlukan untuk menyembah kepada Nya. Tetapi apa yang telah dilakukan manusia untuk kasih sayang Allah tersebut? Sebagian ada yang taat, sebagiannya lagi malah mengingkari keberadaan-Nya. Terkadang ada yang tidak mengingkari Allah, tetapi berbuat ndableg. Ketika Allah memerintahkan sholat misalnya, yang total dalam satu hari rata-rata memerlukan waktu tidak sampai satu jam enggan untuk mengerjakannya. Belum lagi dengan sejuta kemaksiatan yang telah dilakukannya. Wah..wah.., manusia…manusia, kok seenaknya sendiri ya? Mana ungkapan terimaksih kita kepada Allah? Padahal Allah telah memberikan kenikmatan yang kita tidak bisa mengukurnya kepada manusia, lalu apa yang akan kita berikan kepada Nya? Akankah ada nilainyakah dihadapan Nya jika dibanding dengan yang diberikan Nya kepada kita? Padahal kita harus segera membaca ayat berikut ini :

Kemudian dia mematikannya dan memasukkannya ke dalam kubur, Kemudian bila dia menghendaki, dia membangkitkannya kembali. (QS. ’Abasa : 21-22)

Saudaraku, manusia hidup di dunia ini tidaklah selamanya. Ketika tiba waktu yang telah ditentukan Nya maka kita akan kembali kepada Nya. Selanjutnya kita akan berada di alam kubur sambil menunggu saatnya kita kita dipanggil satu per satu untukmenyerahkan LPJ (Laporan Pertanggung Jawaban) kepada Nya, berkumpul dengan seluruh manusia yang pernah hidup dari awal sampai akhir kehidupan (setelah semuanya mengalami kematian). Kita semoga kita menyadari bahwa kita bukanlah milik siapa-siapa, melainkan milik Allah. Selanjutnya semoga kita akan sadar bahwa dunia ini hanyalah tempat ujian untuk mendapatkan SIM dalam perjalanan menuju surga, yang dimana bila kita tidak lulus maka Allah akan memasukkan kita ke penjara (neraka), juga ketika kita sudah mempunyai SIM tetapi tetap melanggar aturan lalu lintas, terlebih tidak mau berusaha mencari SIM tetapi tetap nekat berkendara. Firman Allah :

Sekali-kali jangan; manusia itu belum melaksanakan apa yang diperintahkan Allah kepadanya. (QS. ’Abassa : 23).

Betul sekali memang, bahwa ternyata manusia secara umum dengan berbagai macam persoalan dan generasinya secara keseluruhan, belum melaksanakan yang sesungguhnya apa yang diperintahkan Allah kepadanya hingga akhir masa hidupnya. Belum mengingat dan menyadari asal-usul kejadiannya dengan sebaik-baiknya, belum bersyukur kepada Penciptanya, Pemberinya petunjuk, dan Pemberinya jaminan dengan syukur yang sebenar-benarnya. Juga belum melaksanakan perjalanan di muka bumi untuk mencari persiapan guna menghadapi hari perhitungan dan pembalasan. Demikianlah mereka secara umum, dan lebih dari itu banyak sekali di antara mereka yang berpaling, congkak, dan menyombongkan diri terhadap petunjuk.

Saudaraku, marilah kita segera berbenah…!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: