<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Baitii Jannatii</title>
	<atom:link href="http://inoors.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://inoors.wordpress.com</link>
	<description>To Make The Home As The Heaven</description>
	<lastBuildDate>Fri, 06 Jan 2012 07:40:59 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='inoors.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Baitii Jannatii</title>
		<link>http://inoors.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://inoors.wordpress.com/osd.xml" title="Baitii Jannatii" />
	<atom:link rel='hub' href='http://inoors.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Penggolongan Ahli Waris (Faraidh 4)</title>
		<link>http://inoors.wordpress.com/2009/11/06/penggolongan-ahli-waris-faraidh-4/</link>
		<comments>http://inoors.wordpress.com/2009/11/06/penggolongan-ahli-waris-faraidh-4/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Nov 2009 06:49:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>inoors</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[Waris]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://inoors.wordpress.com/2009/11/06/penggolongan-ahli-waris-faraidh-4/</guid>
		<description><![CDATA[A. PENGGOLONGAN AHLI WARIS 1. Ahli waris dari golongan laki-laki : Orang yang berhak mendapatkan warisan dari kaum laki-laki ada lima belas : a. Anak laki-laki b. Cucu laki-laki ( dari anak laki-laki ) dan seterusnya kebawah c. Bapak d. Kakek ( dari fihak bapak ) dan seterusnya ke atas ( dari fihak laki-laki e. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=inoors.wordpress.com&amp;blog=3095047&amp;post=411&amp;subd=inoors&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>A.	PENGGOLONGAN AHLI WARIS<br />
1.	Ahli waris dari golongan laki-laki :<img class="alignright size-full wp-image-412" title="uang" src="http://inoors.files.wordpress.com/2009/11/uang.jpg?w=500" alt="uang"   /><br />
Orang yang berhak mendapatkan warisan dari kaum laki-laki ada lima belas  :<br />
a.	Anak laki-laki<br />
b.	Cucu laki-laki ( dari anak laki-laki ) dan seterusnya kebawah<br />
c.	Bapak<br />
d.	Kakek ( dari fihak bapak ) dan seterusnya ke atas ( dari fihak laki-laki<br />
e.	saja )<br />
f.	Saudara kandung laki-laki<span id="more-411"></span><br />
g.	Saudara laki-laki seayah<br />
h.	Saudara laki-laki seibu<br />
i.	Anak laki-laki dari saudara kandung laki-laki dan seterusnya kebawah<br />
j.	Anak laki-laki dari saudara laki-laki seayah<br />
k.	Paman ( saudara kandung bapak )<br />
l.	Paman ( saudara bapak seayah )<br />
m.	Anak laki-laki  dari paman ( saudara kandung ayah )<br />
n.	Anak laki-laki paman  ( saudara bapak seayah )<br />
o.	Suami<br />
p.	Laki-laki pemerdeka budak<br />
2.	Ahli waris dari golongan wanita :<br />
Adapun ahli waris dari kaum wanita ada sepuluh :<br />
a.	Anak perempuan<br />
b.	Ibu<br />
c.	Anak perempuan ( dari keturunan anak laki-laki )<br />
d.	Nenek ( ibu dari ibu )<br />
e.	Nenek ( ibu dari bapak )<br />
f.	Saudara kandung perempuan<br />
g.	Saudara perempuan seayah<br />
h.	Saudara perempuan seibu<br />
i.	Istri<br />
j.	Perempuan pemerdeka budak<br />
B.	PEMBAGIAN WARISAN MENURUT AL-QUR’AN<br />
Jumlah bagian yang telah ditentukan Al-Qur’an ada enam macam  :<br />
1.	Separuh  ( ½  )<br />
2.	Seperempat  ( ¼  )<br />
3.	Seperdelapan  ( 1/8  )<br />
4.	Dua pertiga   ( 2/3  )<br />
5.	Sepertiga  ( 1/3  )<br />
6.	Seperenam  (  1/6  )<br />
Perlu diketahui bahwa yang berhak mendapatkan warisan tersebut dalam Al-Qur’an, terbagi menjadi dua kelompok ;<br />
	Ash-haabul Furuudh<br />
	‘Ashabah.</p>
<br />Posted in Fiqih  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/inoors.wordpress.com/411/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/inoors.wordpress.com/411/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/inoors.wordpress.com/411/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/inoors.wordpress.com/411/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/inoors.wordpress.com/411/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/inoors.wordpress.com/411/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/inoors.wordpress.com/411/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/inoors.wordpress.com/411/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/inoors.wordpress.com/411/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/inoors.wordpress.com/411/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/inoors.wordpress.com/411/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/inoors.wordpress.com/411/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/inoors.wordpress.com/411/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/inoors.wordpress.com/411/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=inoors.wordpress.com&amp;blog=3095047&amp;post=411&amp;subd=inoors&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://inoors.wordpress.com/2009/11/06/penggolongan-ahli-waris-faraidh-4/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3ff52b0a48e65b4e1150dd0ed13db5d3?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">inoors</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://inoors.files.wordpress.com/2009/11/uang.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">uang</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sebab Sebab Hak Waris (Faraidh 3)</title>
		<link>http://inoors.wordpress.com/2009/10/10/sebab-sebab-hak-waris-faraidh-3/</link>
		<comments>http://inoors.wordpress.com/2009/10/10/sebab-sebab-hak-waris-faraidh-3/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 Oct 2009 03:59:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>inoors</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[Waris]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://inoors.wordpress.com/?p=408</guid>
		<description><![CDATA[A. SEBAB-SEBAB HAK WARIS Ada 3 hal yang menjadi sebab munculnya hak waris menurut yang disepakati oleh para Ulama’, yaitu : 1. Hubungan Nasab, bentuk hubungan ini ada tiga : a. Ushuul, yaitu jamak dari ashl yang artinya Bapak dan Ibu, berikut yang diatas mereka, yaitu Kakek, Buyut dan seterusnya ( dari jalur laki-laki ), [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=inoors.wordpress.com&amp;blog=3095047&amp;post=408&amp;subd=inoors&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>A.	SEBAB-SEBAB  HAK WARIS</p>
<p>Ada 3 hal yang menjadi sebab munculnya hak waris menurut yang disepakati <img class="alignright size-thumbnail wp-image-409" title="uang-dinar1" src="http://inoors.files.wordpress.com/2009/11/uang-dinar1.jpg?w=150&#038;h=120" alt="uang-dinar1" width="150" height="120" />oleh para Ulama’, yaitu :</p>
<p>1.	Hubungan Nasab, bentuk hubungan ini ada tiga  :</p>
<p>a.	Ushuul, yaitu jamak dari ashl yang artinya Bapak dan Ibu, berikut yang diatas mereka, yaitu Kakek, Buyut dan seterusnya ( dari jalur laki-laki ), kakek dari ibu tidak termasuk di dalamnya</p>
<p>b.	Furuu’, yaitu jamak dari far’, ialah Putra dan Putri dan yang dibawah mereka, seperti Cucu dan seterusnya ( yang dari jalur laki-laki ). Putra dari anak perempuan tidak termasuk di dalamnya <span id="more-408"></span></p>
<p>c.	Hawaasyi, yaitu setiap yang punya hubungan nasab peranakan dari mayit, dari fihak bapaknya, atau setiap furuu’ dari ushuul mayit. Mereka termasuk saudara dan saudari mayit, anak-anak mereka, paman, bibi dan anak-anak mereka. serta setiap nasab kebawah</p>
<p>2.	Hubungan Pernikahan, yaitu hubungan pernikahan yang sah, meskipun belum terjadi hubungan suami istri</p>
<p>3.	Hubungan Walaa, yaitu kepemilikan hak waris yang penyebabnya adalah karena seseorang telah memerdekakan budaknya</p>
<p>B.	HAL-HAL YANG MENGHALANGI HAK WARIS</p>
<p>Hal yang bisa menghalangi seseorang mendapatkan haknya sebagai pewaris adalah sebagai berikut :</p>
<p>1.	Budak, Seseorang yang berstatus sebagai budak, tidak mempunyai hak untuk mewarisi sekalipun dari saudaranya, demikian juga sebaliknya, sebab segala sesuatu yang dimiliki seorang budak secara langsung menjadi milik tuannya.</p>
<p>2.	Pembunuhan, seorang yang membunuh fihak yang akan mewariskan, tidak berhak mendapatkan warisan, Rasulullah saw bersabda :</p>
<p style="text-align:right;">ليس  للقاتل  من  الميراث  شيء</p>
<p>Artinya : “ Tidak ada hak waris sedikitpun bagi si pembunuh “ ( HR. Nasai dan Daru Quthni )</p>
<p>3.	Perbedaan Agama, Seorang Muslim tidak dapat mewarisi ataupun diwarisi oleh non Muslim, sebagaimana sabda Rasulullah saw :</p>
<p style="text-align:right;">لا  يرث  المسلم  الكافر  و لا يرث  الكافر  المسلم</p>
<p>Artinya : “ Orang Muslim tidak mewarisi orang kafir dan orang kafir tidak mewarisi orang muslim “ ( HR. Jama’ah kecuali Nasai )</p>
<p>C.	RUKUN DAN SYARAT SAHNYA PEWARISAN</p>
<p>1.	Rukun waris</p>
<p>a.	Pewaris, yaitu orang yang meninggal dunia atau yang diangap telah meninggal dunia</p>
<p>b.	Ahli waris, yaitu yang berhak untuk menerima harta peninggalan mayit</p>
<p>c.	Harta warisan, yaitu segala jenis benda atau kepemilikan yang ditinggalkan mayit</p>
<p>2.	Syarat-syarat pewarisan</p>
<p>a.	Meninggalnya seseorang, baik secara hakiki maupun secara hukum</p>
<p>b.	Adanya ahli waris yang hidup secara hakiki pada waktu pewaris meninggal dunia</p>
<p>c.	Tidak adanya halangan yang menghalangi pewarisan</p>
<p>(Ust. H. Agung Cahyadi, MA.)</p>
<br />Posted in Fiqih  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/inoors.wordpress.com/408/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/inoors.wordpress.com/408/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/inoors.wordpress.com/408/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/inoors.wordpress.com/408/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/inoors.wordpress.com/408/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/inoors.wordpress.com/408/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/inoors.wordpress.com/408/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/inoors.wordpress.com/408/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/inoors.wordpress.com/408/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/inoors.wordpress.com/408/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/inoors.wordpress.com/408/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/inoors.wordpress.com/408/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/inoors.wordpress.com/408/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/inoors.wordpress.com/408/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=inoors.wordpress.com&amp;blog=3095047&amp;post=408&amp;subd=inoors&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://inoors.wordpress.com/2009/10/10/sebab-sebab-hak-waris-faraidh-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3ff52b0a48e65b4e1150dd0ed13db5d3?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">inoors</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://inoors.files.wordpress.com/2009/11/uang-dinar1.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">uang-dinar1</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tingkatan Ahli Waris (Faraidh 2)</title>
		<link>http://inoors.wordpress.com/2009/09/01/tingkatan-ahli-waris-faraidh-2/</link>
		<comments>http://inoors.wordpress.com/2009/09/01/tingkatan-ahli-waris-faraidh-2/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Sep 2009 03:48:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>inoors</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[Waris]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://inoors.wordpress.com/?p=405</guid>
		<description><![CDATA[TINGKATAN AHLI WARIS Warisan diberikan kepada ahli waris berdasarkan urutan tingkatannya ( kepada tingkat pertama , kedua dan berikutnya ), bila tingkat pertama tidak ada , baru kepada tingkat yang berikutnya Berikut ahli waris berdasarkan urutan dan derajatnya : 1. Ash-habul Furudh, golongan inilah yang pertama diberi bagian harta warisan sebelum yang lainnya, yaitu mereka [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=inoors.wordpress.com&amp;blog=3095047&amp;post=405&amp;subd=inoors&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p dir="ltr"><strong>TINGKATAN AHLI WARIS</strong></p>
<p dir="ltr"><strong> </strong></p>
<p dir="ltr"><img class="alignleft size-full wp-image-406" title="harta-waris" src="http://inoors.files.wordpress.com/2009/11/harta-waris.jpg?w=500" alt="harta-waris"   />Warisan diberikan kepada ahli waris berdasarkan urutan tingkatannya ( kepada tingkat pertama , kedua dan berikutnya ), bila tingkat pertama tidak ada , baru kepada tingkat yang berikutnya</p>
<p dir="ltr"><strong>Berikut ahli waris berdasarkan urutan dan derajatnya :</strong></p>
<ol>
<li><strong>1. </strong><strong><em>Ash-habul Furudh</em></strong>, golongan inilah yang pertama diberi bagian harta warisan sebelum yang lainnya, yaitu mereka yang ditetapkan Al-Qur’an, As-Sunnah dan Ijma’ mendapatkan bagian dari harta waris dengan jumlah tertentu. Mereka ada dua belas orang ;  4 laki-laki dan  8 perempuan, yaitu :
<ol>
<li>Bapak, Kakek keatas, Suami dan Saudara laki-laki seibu</li>
<li>Istri, Anak perempuan, Saudari kandung, Saudari seayah, Saudari seibu, Putri anak laki-laki, Ibu dan Nenek keatas<span id="more-405"></span></li>
</ol>
</li>
<li><strong>2. </strong><strong><em>‘Ashabah An-Nasabiyah</em></strong><strong>,</strong> setelah ash-haabul furuudh, golongan inilah yang mendapat giliran ke dua untuk mendapatkan bagian dari harta warisan, yaitu kerabat yang mempunyai hubungan nasab dengan mayit yang berhak mengambil seluruh harta waris bila sendiri, dan berhak mendapatkan sisa harta waris setelah dibagi kepada Ash-habul Furuudh.</li>
</ol>
<p dir="ltr"><strong>Dan mereka ada 3 kelompok :</strong></p>
<ol>
<li><strong><em>‘Ashabah Bin-nafsi</em></strong> ( laki-laki ), mereka ialah :</li>
</ol>
<p dir="ltr">1)      Fihak Anak, yaitu Anak kebawah</p>
<p dir="ltr">2)      Fihak Bapak, yaitu Bapak keatas</p>
<p dir="ltr">3)      Fihak Saudara, yaitu Sudara kandung, Saudara sebapak, Anak paman kandung, Anak paman sebapak kebawah</p>
<p dir="ltr">4)      Fihak Paman, yaitu Paman kandung, Paman sebapak, Anak paman kandung, Anak paman sebapak kebawah</p>
<ol>
<li><strong><em>‘Ashabah Bil Ghoiri</em></strong> (  Perempuan ), mereka ialah :</li>
</ol>
<p dir="ltr">1)      Anak putri, apabila mempunyai saudara laki-laki</p>
<p dir="ltr">2)      Putri anak laki-laki, apabila mempunyai saudara laki-laki</p>
<p dir="ltr">3)      Saudari kandung, apabila mempunyai saudara laki-laki</p>
<p dir="ltr">4)      Saudari sebapak, apabila mempunyai saudara laki-laki</p>
<ol>
<li><strong><em>‘Ashabah Ma’al Ghoiri</em></strong>, yaitu  Saudari-saudari kandung atau sebapak, apabila pewaris mayit  mempunyai putri dan tidak mempunyai putra</li>
<li><strong>3. </strong><strong><em>Dikembalikan ke Ash-habul Furuudh</em></strong>/penambahan jatah bagi Ash-habul Furudh ( selain suami istri )</li>
</ol>
<p dir="ltr">Apabila harta warisan yang telah dibagikan kepada Ash-haabul Furuudh dan ‘Ashabah diatas masih juga tersisa, maka sisa tersebut diberikan/ditambahkan kepada Ash-habul Furuudh selain suami istri ( sesuai dengan bagian masing-masing ), hal tersebut dikarenakan hak waris suami istri disebabkan adanya ikatan pernikahan, sedangkan hak waris bagi Ash-habul Furuudh selain suami istri disebabkan karena nasab, yang karenanya lebih berhak dibandingkan yang lainnya.</p>
<ol>
<li><strong>4. </strong><strong><em>Uulul Arhaam</em></strong><strong>/kerabat</strong>, yaitu kerabat mayit yang ada kaitan rahim – dan tidak termasuk Ash-habul Furuudh dan juga bukan ‘Ashabah -, seperti paman dan bibi dari fihak ibu, bibi dari fihak ayah.</li>
</ol>
<p dir="ltr">Apabila amayit tidak mempunyai kerabat sebagai Ashaabul Furuudh maupun ‘Ashabah, maka para kerabat yang masih mempunyai ikatan rahim dengannya berhak mendapatkan waris, berdasarkan firman Allah :</p>
<p dir="ltr">و أولوا الأرحام  بعضهم أولي  ببعض</p>
<p dir="ltr">Artinya : <em>“ Dan orang-orang yang mempunyai hubungan darah satu sama lain lebih berhak ( waris mewarisi ) “</em> ( QS. 33 : 6 )</p>
<p dir="ltr">Dan sebagaimana sabda Rasulullah saw :</p>
<p style="text-align:right;" dir="ltr">الخال  وارث  من  لا  وارث  له</p>
<p dir="ltr">Artinya : <em>“ Paman dari fihak ibu adalah pewaris bagi yang tidak mempunyai ahli waris :” </em>( HR. Ahmad, Abu Daud, Nasai, Ibnu Majah , Hakim dan Ibnu Hibban )</p>
<p dir="ltr"><strong><em>5. </em></strong><strong><em>Dikembalikan/ditambahkan kepada bagian suami istri</em></strong></p>
<ol>
<li><strong>6. </strong><strong><em>‘Ashabah karena sebab</em></strong>, ada beberapa bentuk yang disebut dengan ‘Ashabah karena sebab :
<ol>
<li>Orang yang memerdekakan budak, tetapi untuk bagian ini tidak ada lagi pada masa kini</li>
<li>Orang yang diberikan wasiat lebih dari sepertiga harta warisan ( selain ahli waris )</li>
<li>Baitul Maal, Rasulullah saw bersabda :</li>
</ol>
</li>
</ol>
<p style="text-align:right;" dir="ltr">الله  و  رسوله  مولي  من  لا  مولي  له</p>
<p dir="ltr">Artinya  : <em>“ Allah dan Rasul-Nya merupakan maula bagi yang tidak mempunyai maula “,</em> maksudnya  ialah pewaris bagi yang tidak mempunyai ahli waris  ( HR. Ahmad dan yang lainnya).</p>
<p dir="ltr">
<p dir="ltr">(Ust. H. Agung Cahyadi, MA.)</p>
<br />Posted in Fiqih  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/inoors.wordpress.com/405/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/inoors.wordpress.com/405/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/inoors.wordpress.com/405/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/inoors.wordpress.com/405/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/inoors.wordpress.com/405/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/inoors.wordpress.com/405/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/inoors.wordpress.com/405/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/inoors.wordpress.com/405/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/inoors.wordpress.com/405/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/inoors.wordpress.com/405/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/inoors.wordpress.com/405/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/inoors.wordpress.com/405/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/inoors.wordpress.com/405/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/inoors.wordpress.com/405/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=inoors.wordpress.com&amp;blog=3095047&amp;post=405&amp;subd=inoors&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://inoors.wordpress.com/2009/09/01/tingkatan-ahli-waris-faraidh-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3ff52b0a48e65b4e1150dd0ed13db5d3?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">inoors</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://inoors.files.wordpress.com/2009/11/harta-waris.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">harta-waris</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tentang Ilmu Waris (Faraidh 1)</title>
		<link>http://inoors.wordpress.com/2009/08/05/tentang-ilmu-waris-faraidh-1/</link>
		<comments>http://inoors.wordpress.com/2009/08/05/tentang-ilmu-waris-faraidh-1/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 05 Aug 2009 02:57:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>inoors</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[Waris]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://inoors.wordpress.com/?p=395</guid>
		<description><![CDATA[A. PENDAHULUAN Ilmu Faroidh ( ilmu yang membahas tentang warisan ), merupakan salah satu disiplin ilmu syari’at yang sangat mulia, yang Allah sendiri berkenan menjelaskannya secara langsung dan jelas dalam Al –Qur’an Banyak nash hadits yang menganjurkan dan menjelaskan keutamaan mempelajari ilmu tersebut, dengan tujuan yang jelas yaitu agar hukum dan syari’at Allah tetap tegak, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=inoors.wordpress.com&amp;blog=3095047&amp;post=395&amp;subd=inoors&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>A.	PENDAHULUAN</p>
<p><img class="alignright size-full wp-image-399" title="timbangan_warna" src="http://inoors.files.wordpress.com/2009/08/timbangan_warna.jpg?w=500" alt="timbangan_warna" />Ilmu Faroidh ( ilmu yang membahas tentang warisan ), merupakan  salah satu disiplin ilmu syari’at yang sangat mulia, yang Allah sendiri berkenan menjelaskannya secara langsung dan jelas  dalam Al –Qur’an  Banyak nash hadits yang menganjurkan dan menjelaskan keutamaan mempelajari ilmu tersebut, dengan tujuan yang jelas yaitu agar hukum dan syari’at Allah tetap tegak, Nabi saw bersabda :</p>
<p>تعلموا  الفرائض  و علموها  فانها نصف العلم و هو ينسي و هو أول شيء  ينزع  من أمتي</p>
<p>Artinya : “ pelajarilah ilmu Faroidh dan ajarkanlah, karena ilmu faroidh merupakan separuh ilmu dan ia akan dilupakan dan ia ilmu yang pertama kali dicabut dari umatku “ ( HR. Ibnu Majah dan Daru Quthni ) .<span id="more-395"></span> <img src="https://inoors.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/wordpress/img/trans.gif" alt="" /></p>
<p>B. MA’NA FAROIDH</p>
<p>Faroidh adalah bentuk jamak dari kata faridhoh dan berasal dari kata al fardh yang artinya bagian atau jatah, sebagaimana hadits dari Ibnu ‘Abbas : ألحقوا</p>
<p>الفرائض  بأهلها  فما بقي فهو لأولي  رجل  ذكر</p>
<p>Artinya : “ Berikan warisan kepada yang berhak, jika masih tersisa maka harta itu untuk keluarga lelaki terdekat “ ( HR. Bukhori dan Muslim )  Sedangkan Ilmu Faroidh yang juga biasa disebut dengan ilmu Mawaariits atau ilmu Miraats, menurut pengertian syar’i ialah ilmu yang mempelajari tentang siapa yang berhak mewarisi dan siapa yang tidak berhak, serta bagian dari setiap ahli waris</p>
<p>C.	BEBERAPA ISTILAH DALAM ILMU FAROIDH</p>
<p>Ada beberapa istilah penting yang sering dipakai dalam pembahasan ilmu Faroidh, diantaranya  :</p>
<p>1.	Fardh, bentuk jamaknya Furudh, yang artinya bagian atau jatah yang sudah ditetapkaan berdasarkan syari’at</p>
<p>2.	Ash-haabul Furudh, yaitu golongan yang pertama kali/yang paling berhak mendapatkan bagian harta warisan. Merekalah fihak yang bagiannya telah ditentukan dalam Al-Qur’an, As-Sunah dan Ijma’</p>
<p>3.	‘Ashabah, adalah pewaris harta yang dalam Al-Qur’an tidak ditetapkan bagiannya secara khusus dengan jumlah tertentu. Dan mereka inilah fihak yang hanya menerima harta yang tersisa setelah harta waris dibagikan kepada Ash-haabul Furuudh</p>
<p>4.	Waarits, yaitu ahli waris ialah setiap yang berhak menerima harta warisan, baik dari Ash-haabul Furuudh atau ‘Ashabah</p>
<p>5.	Miraats, yaitu berpindahnya hak kepemilikan dari orang yang meninggal kepada ahli warisnya yang masih hidup</p>
<p>6.	Tarikah, ialah segala sesuatu yang ditinggalkan pewaris ( muwarrits ) untuk ahli waris ( waarits ) berupa harta warisan ( mauruuts ), yang biasanya juga disebut dengan miraats atau turaats atau irth</p>
<p>7.	Ashl, bentuk jamaknya ushuul, ialah bapak, ibu, kakek, nenek dan seterusnya ke atas</p>
<p>8.	Far’, bentuk jamaknya furuu’, ialah anak dan kebawahnya</p>
<p>9.	Hawaasyi, bentuk jamak dari haassyiyah, ialah cabang dari ashl, seperti saudara laki-laki atau saudara perempuan dari mayit atau anak saudaranya, atau paman dari fihak bapak dan putra-putra pamannya</p>
<p>10.	Kalaalah, ialah mayit yang tidak mempunyai anak dan bapak</p>
<p>D.	KEWAJIBAN YANG TERKAIT DENGAN TARIKAH/HARTA PENINGGALAN</p>
<p>Hak-hak yang harus ditunaikan terkait dengan harta peninggalan seorang yang meninggal adalah :</p>
<p>1.	Biaya perawatan jenazah</p>
<p>2.	Utang piutang</p>
<p>3.	Wasiat, dengan batasan maksimal sepertiga</p>
<p>4.	Warisan</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>(Ust. H. Agung Cahyadi, MA.)</p>
<br />Posted in Fiqih  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/inoors.wordpress.com/395/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/inoors.wordpress.com/395/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/inoors.wordpress.com/395/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/inoors.wordpress.com/395/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/inoors.wordpress.com/395/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/inoors.wordpress.com/395/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/inoors.wordpress.com/395/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/inoors.wordpress.com/395/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/inoors.wordpress.com/395/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/inoors.wordpress.com/395/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/inoors.wordpress.com/395/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/inoors.wordpress.com/395/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/inoors.wordpress.com/395/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/inoors.wordpress.com/395/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=inoors.wordpress.com&amp;blog=3095047&amp;post=395&amp;subd=inoors&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://inoors.wordpress.com/2009/08/05/tentang-ilmu-waris-faraidh-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3ff52b0a48e65b4e1150dd0ed13db5d3?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">inoors</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://inoors.files.wordpress.com/2009/08/timbangan_warna.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">timbangan_warna</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="https://inoors.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/wordpress/img/trans.gif" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Do&#8217;a Mohon Keturunan Yang Baik</title>
		<link>http://inoors.wordpress.com/2009/07/14/doa-mohon-keturunan-yang-baik/</link>
		<comments>http://inoors.wordpress.com/2009/07/14/doa-mohon-keturunan-yang-baik/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 14 Jul 2009 07:52:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>inoors</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ruang Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Do'a]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://inoors.wordpress.com/2009/07/14/doa-mohon-keturunan-yang-baik/</guid>
		<description><![CDATA[Rabbi la tadzarnii fardan wa anta khairul waritsin &#8220;Ya Tuhanku, janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri, dan Engkaulah Waris yang paling baik&#8220;. Al Qur&#8217;an mengisahkan, bahwa do&#8217;a di atas diantaranya dipanjatkan oleh Nabi Zakaria &#8216;Alaihis Salam pada usianya yang lanjut. Ketika tulang-tulangnya telah rapuh dan rambutnya semakin memutih, Zakaria memanjatkan do&#8217;a kepada Allah untuk [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=inoors.wordpress.com&amp;blog=3095047&amp;post=394&amp;subd=inoors&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p dir="ltr" align="center"><strong><em>Rabbi la tadzarnii fardan wa anta khairul waritsin</em></strong></p>
<p dir="ltr" align="center">&#8220;<em>Ya Tuhanku, janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri, dan Engkaulah Waris yang paling baik</em>&#8220;.</p>
<p dir="ltr">Al Qur&#8217;an mengisahkan, bahwa do&#8217;a di atas diantaranya dipanjatkan oleh <img class="alignright size-medium wp-image-393" title="sujud-ibu" src="http://inoors.files.wordpress.com/2009/07/sujud-ibu.jpg?w=220&#038;h=144" alt="sujud-ibu" width="220" height="144" />Nabi Zakaria &#8216;Alaihis Salam pada usianya yang lanjut. Ketika tulang-tulangnya telah rapuh dan rambutnya semakin memutih, Zakaria memanjatkan do&#8217;a kepada Allah untuk mendapatkan keturunan, sehingga merasa khawatir tidak akan ada yang meneruskan perjuangan dakwahnya.</p>
<p dir="ltr">Di sisi lain ia merasa pesimis atas terkabulnya do&#8217;a yang dipanjatkan, mengingat usianya telah udzur. Maka kemudian ia mengatakan : &#8220;Dan Engkaulah Waris yang paling baik&#8221;. Sebagai ungkapan pasrah kepada Allah bilamana do&#8217;anya tidak dikabulkan. Penyerahan seperti ini adalah bagian dari etika berdo&#8217;a yang selalu dilakukan oleh para Nabi, sehingga kemudian do&#8217;anya dikabulkan Allah.<span id="more-394"></span></p>
<p dir="ltr">Allah Maha Tahu atas keprihatinan hamba-Nya. Lalu do&#8217;a Zakaria pun dikabulkan. &#8220;<em>Maka kemudian Kami mengabulkan do&#8217;a Zakaria, dan Kami anugerahkan kepadanya seorang anak bernama Yahya, dan Kami jadikan isterinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam mengerjakan perbuatan perbuatan yang baik. Dan mereka berdo&#8217;a kepada Kami dengan harap dan cemas, serta mereka adalah orang-orang yang khusyu&#8217; kepada Kami</em>&#8220;. (QS. Al Anbiya&#8217; : 90)</p>
<p dir="ltr">Nabi Zakaria senantiasa memanjatkan do&#8217;a kepada Allah untuk mendapatkan keturunan yang baik sebagai pelanjut perjuangannya. Disamping membaca do&#8217;a di atas Nabi Zakaria juga memanjatkan do&#8217;a :</p>
<p dir="ltr"><strong><em>Rabbi hablii min ladunka dzurriyatan thayyibatan innaka sami&#8217;ud du&#8217;a-i.</em></strong></p>
<p dir="ltr"><em>&#8220;Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi-Mu seorang anak yang baik. Sungguh Engkau Maha Pendengar do&#8217;a&#8221;. </em>(QS. Ali Imran : 38).</p>
<p dir="ltr">Allah pun kemudian mengabulkan do&#8217;a Zakaria, sedang ia tengah berdiri shalat di Mihrab. &#8220;<em>Sungguh Allah telah memberikan khabar gembira kepadamu dengan kelahiran seorang putera bernama Yahya, yang membenarkan kalimat yang datang dari Allah, menjadi ikutan menahan diri dari pengaruh hawa nafsu, dan seorang Nabi dari keturunan orang-orang shaleh</em>&#8220;.</p>
<p dir="ltr">Lalu Zakaria berikata : &#8220;<em>Ya Tuhanku, bagaimana aku bias mendapatkan anak sedangkan aku sudah sangat tua dan istriku pun seorang yang mandul?</em>&#8220;. Allah berfirman : &#8220;<em>Demikianlah, allah berbuat apa saja yang dikehendaki-Nya</em>&#8220;. Zakaria berkata : &#8220;<em>Berilah aku suatu tanda bahwa istriku telah mengandung</em>&#8220;. Allah berfirman : &#8220;<em>Tandanya adalah kamu tidak dapat berkata-kata dengan manusia selama tiga hari, kecuali dengan isyarat. Dan sebutlah nama Tuhanmu sebanyak-banyaknya serta bertasbihlah di waktu petang dan pagi hari</em>&#8220;. (QS. Ali Imran : 39-40).</p>
<p dir="ltr">Do&#8217;a di atas baik sekali dibaca oleh orang yang lama belum dikaruniai anak, agar segera mendapatkannya. Dan tidak kalah baiknya pula dibaca oleh setiap muslim agar mendapatkan keturunan yang shaleh.</p>
<br />Posted in Ruang Keluarga  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/inoors.wordpress.com/394/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/inoors.wordpress.com/394/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/inoors.wordpress.com/394/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/inoors.wordpress.com/394/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/inoors.wordpress.com/394/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/inoors.wordpress.com/394/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/inoors.wordpress.com/394/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/inoors.wordpress.com/394/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/inoors.wordpress.com/394/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/inoors.wordpress.com/394/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/inoors.wordpress.com/394/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/inoors.wordpress.com/394/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/inoors.wordpress.com/394/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/inoors.wordpress.com/394/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=inoors.wordpress.com&amp;blog=3095047&amp;post=394&amp;subd=inoors&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://inoors.wordpress.com/2009/07/14/doa-mohon-keturunan-yang-baik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3ff52b0a48e65b4e1150dd0ed13db5d3?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">inoors</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://inoors.files.wordpress.com/2009/07/sujud-ibu.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">sujud-ibu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Manajemen Diri dan Keluarga di Bulan Ramadhan</title>
		<link>http://inoors.wordpress.com/2009/07/10/manajemen-diri-dan-keluarga-di-bulan-ramadhan/</link>
		<comments>http://inoors.wordpress.com/2009/07/10/manajemen-diri-dan-keluarga-di-bulan-ramadhan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 10 Jul 2009 08:54:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>inoors</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ruang Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://inoors.wordpress.com/?p=380</guid>
		<description><![CDATA[Allah swt Maha Pengasih dan Maha Penyayang kepada umat manusia yang beriman kepada-Nya. Diantara tanda kasih sayang Allah kepada orang-orang beriman  ialah dijadikan-Nya bulan Ramadhan sebagai kesempatan terbuka bagi mereka untuk mendekatkan diri kepada Allah, memperbanyak tabungan kebaikan serta memperbaiki kualitas diri, keluarga dan masyarakatnya. Orang-orang mukmin yang memiliki ambisi kuat untuk meraih banyak kebaikan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=inoors.wordpress.com&amp;blog=3095047&amp;post=380&amp;subd=inoors&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p dir="ltr">Allah swt Maha Pengasih dan Maha Penyayang kepada umat manusia yang beriman kepada-Nya. Diantara tanda kasih sayang Allah kepada orang-orang beriman  ialah dijadikan-Nya bulan Ramadhan sebagai kesempatan terbuka bagi mereka untuk mendekatkan diri kepada Allah, memperbanyak tabungan kebaikan serta memperbaiki kualitas diri, keluarga dan masyarakatnya.</p>
<p dir="ltr"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-388" title="productivity364big" src="http://inoors.files.wordpress.com/2009/07/productivity364big.jpg?w=150&#038;h=123" alt="productivity364big" width="150" height="123" />Orang-orang mukmin yang memiliki ambisi kuat untuk meraih banyak kebaikan di bulan Ramadhan sudah tentu memiliki rencana yang matang untuk memasuki bulan yang penuh berkah ini. Baik yang terkait dengan persiapan-persiapan menyambut datangnya bulan Ramadhan maupun program-program amal shaleh selama sebulan penuh.</p>
<p dir="ltr">Oleh sebab itu, mengingat besarnya pahala amal di bulan Ramadhan dan banyaknya amal shaleh yang dapat dilakukan selama bulan ini, maka segalanya perlu diatur dan ditata agar dapat dilaksanakan sesuai dengan kaidah-kaidah syariah serta bermanfaat dunia-akhirat. Sehingga berpuasa tidak sekedar meninggalkan makan, minum dan ber’kumpul’ antara suami dan istri. Tetapi benar-benar berpuasa Ramadhan secara jasmani dan ruhani.<span id="more-380"></span></p>
<p dir="ltr"><strong><em> </em></strong></p>
<p dir="ltr"><strong><em>Manajemen Ramadhan</em></strong></p>
<p dir="ltr"><strong><em> </em></strong></p>
<p dir="ltr">Banyak hal dalam kehidupan orang beriman &#8211; khususnya di bulan Ramadhan – yang harus dimenej dengan baik, diantaranya:</p>
<ol>
<li><strong><em>1. </em></strong><strong><em>Manajemen Hati.</em></strong></li>
</ol>
<p dir="ltr">Untuk mencapai amal yang berkualitas, seorang mukmin harus memiliki hati yang bersih. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah saw:</p>
<p dir="ltr" align="center"><strong>إن فى الجسد مضغة، إذا صلحت صلح الجسد كله، وإذا فسدت فسد الجسد كله، ألا وهي القلب</strong>. متفق عليه<strong> </strong></p>
<p dir="ltr"><em>Sesungguhnya di dalam tubuh ada segumpal daging; jika ia baik maka baik pula seluruh tubuh, dan jika ia rusak maka rusak pula seluruh tubuh. Segumpal daging itu adalah qalbu.</em> Muttafaq ‘alaih.</p>
<p dir="ltr">
<p dir="ltr">Dengan hati yang bersih, seorang mukmin memulai puasa Ramadhan dan melaksanakan semua amaliyah Ramadhan dengan niat yang ikhlas yaitu mendapatkan ridha Allah swt. semata. Dengan hati yang bersih, ia lebih mudah menerima nasihat selama bulan Ramadhan. Dan dengan hati yang bersih pula, ia lebih bisa menahan hawa nafsu serta dorongan-dorongan untuk berbuat maksiyat lainnya.</p>
<p dir="ltr">
<ol>
<li><strong><em>2. </em></strong><strong><em>Manajemen Waktu</em></strong></li>
</ol>
<p dir="ltr">Kita banyak menjumpai ayat-ayat Al-Qur’an yang menyebutkan bahwa Allah swt bersumpah dengan waktu. Perhatikan saja firman-firman Allah yang berisi tentang sumpah dengan waktu shubuh, dhuha, siang, sore, malam dan seterusnya. Hal ini menunjukkan betapa mulianya kedudukan waktu di sisi Allah dan betapa pentingnya memperhatikan waktu.</p>
<p dir="ltr">Ibadah Ramadhan adalah ibadah yang sangat ketat aturan waktunya. Hal-hal yang terkait dengan waktu dan penting untuk diperhatikan selama menjalankan shiyam Ramadhan diantaranya: penentuan awal dan akhir Ramadhan, sahur, ifthar (berbuka), qiyamullail, i’tikaf dan sebagainya. Sementara itu, ada ibadah-ibadah yang dapat dilakukan sepanjang waktu, seperti: dzikrullah, tilawah Al-Qur’an, thalabul ’ilmi (mencari ilmu), ith’am (memberi makan/ifthar), infaq dan sebagainya.</p>
<p dir="ltr">Oleh sebab itu, orang mukmin yang berpuasa harus memenuhi bulan Ramadhan dengan ibadah dan amal shalih secara maksimal. Jangan sampai ada hari atau detik yang terlewati sementara tidak ada kebaikan atau pahala yang bisa didapatkan. Sangat rugi orang yang mengisi siang hari Ramadhan dengan ’main kartu’ atau tidur semata dan amat sangat rugi orang yang menghabiskan malam-malam bulan Ramadhan dengan begadang atau menghitung laba bisnis duniawi semata atau digunakan untuk tidur semalam suntuk.</p>
<p dir="rtl"><strong>عن عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: أَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمَنْكِبِي فَقَالَ: (كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ) وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ يَقُولُ: إِذَا أَمْسَيْتَ فَلَا تَنْتَظِرْ الصَّبَاحَ وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلَا تَنْتَظِرْ الْمَسَاءَ وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ. رواه البخاري</strong></p>
<p dir="ltr">Abdullah bin Umar ra berkata: Rasulullah saw pernah memegang pundakku lalu bersabda, <em>“Hiduplah di dunia ini seperti orang asing atau orang yang sedang menyeberang jalan”</em>. Kemudian Ibnu Umar berkata: ”<em>Apabila kamu berada di waktu sore, maka jangan menunggu datangnya waktu pagi. Dan apabila kamu berada di waktu pagi, maka jangan menunggu datangnya waktu sore. Manfaatkan sehatmu sebelum datang sakitmu dan manfaatkan hidupmu sebelum datang kematianmu”.</em> (Hr. Bukhari)</p>
<p dir="ltr">Dengan manajemen waktu yang baik selama Ramadhan, diharapkan seorang mukmin menjadi orang yang disiplin, tepat waktu dan menghargai waktu dengan harga yang sangat mahal.</p>
<p dir="ltr">
<ol>
<li><strong><em>3. </em></strong><strong><em>Manajemen Tenaga.</em></strong></li>
</ol>
<p dir="ltr">Ibadah di bulan Ramadhan membutuhkan energi fisik yang besar. Di siang hari, kita harus menahan lapar karena berpuasa. Padahal aktivitas ubudiyah tidak boleh berkurang, bahkan harus ditingkatkan dari bulan-bulan sebelumnya. Sementara di malam hari, kita harus mengurangi jatah istirahat/tidur sebab ada qiyam Ramadhan serta tadarus Al-Qur’an yang sering sampai larut.</p>
<p dir="ltr">
<p dir="ltr">Oleh sebab itu, untuk sempurnanya ibadah di bulan Ramadhan dibutuhkan kondisi fisik yang baik. Karenanya kita harus menghemat energi agar tidak terbuang untuk hal-hal yang tidak bermanfaat atau duniawi semata serta mengharuskan kita untuk mengkonsumsi makanan dan minuman yang benar-benar halal dan thayyib, minimal tidak menimbulkan gangguan terhadap tubuh selama berpuasa.</p>
<p dir="ltr">Selain itu, puasa bukanlah sarana untuk memperlemah dan menyaikit fisik orang mukmin. Justru sering terbukti bahwa berbagai penyakit manusia dapat disembuhkan dengan cara berpuasa.</p>
<p dir="ltr">Oleh karena itu, sahur dan ifthar menjadi ’keharusan’ untuk dilakukan oleh orang yang berpuasa agar tubuhnya tetap mendapatkan hak selama bulan Ramadhan.</p>
<p dir="rtl"><strong>عَنْ أَنَسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: (تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً) </strong>الترمذى<strong> </strong></p>
<p dir="ltr">Dari Anar ra, bahwasanya Rasulullah saw bersabda, <em>“Barsahurlah, sebab sesungguhnya pada makan sahur itu ada berkahnya”.</em> (hr. Tirmidzi)</p>
<p dir="ltr">Dengan memenej energi secara baik selama bulan Ramadhan, maka diharapkan seorang mukmin menjadi sehat jasmani sehingga mampu memikul beban ibadah dan dakwah di luar Ramadhan.</p>
<p dir="ltr">
<ol>
<li><strong><em>4. </em></strong><strong><em>Manajemen Harta.</em></strong></li>
</ol>
<p dir="rtl"><strong>عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ وَكَانَ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ فَلَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدُ </strong><strong>بِالْخَيْرِ مِنْ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ</strong><strong> </strong><strong>(رواه البخاري)</strong><strong> </strong></p>
<p dir="ltr">Dari Ibnu Abbars ra, ia berkata, <em>“Rasulullah saw adalah orang yang paling pemurah. Dan sifat pemurah beliau itu semakin bertambah pada bulan Ramadhan ketika didatangi oleh Jibril. Jibril selalu mendatangi beliau setiap malam di bulan Ramadhan, lalu bertadarus Al-Qur’an dengan Rasulullah. Sesungguhnya Rasulullah saw. sangat pemurah dengan kebaikan melebihi kebaikan angin yang berhembus”.</em> (hr. Bukhari).</p>
<p dir="ltr">Hadits diatas mengajari kita untuk memiliki sifat <em>hubbul infaq</em> (cinta infaq) dengan segala bentuk kebaikan kepada orang lain terutama di bulan Ramadhan. Infaq di bulan Ramadhan bisa berupa; menunaikan zakat, <em>ifthar sho’im</em> (memberi makan berbuka kepada orang yang berpuasa), <em>kafalah yatim</em> (memberi santunan kepada anak yatim), <em>kiswatul ’Ied</em> (memberi pakaian hari raya kepada orang lain) atau bentuk kebaikan lainnya.</p>
<p dir="ltr">Sementara itu, dalam realita kehidupan masyarakat muslim kita menjumpai peningkatan anggaran belanja selama bulan Ramadhan melebihi bulan-bulan sebelumnya. Peningkatan itu ’biasanya’ digunakan untuk meningkatkan menu berbuka dan sahur, mempercantik rumah, membeli makanan dan minuman untuk hidangan tamu iedul fitri, ongkos transportasi mudik plus oleh-olehnya, pakaian hari raya dan lain-lain.</p>
<p dir="ltr">
<p dir="ltr">Dengan demikian, diperlukan manajemen keuangan yang tepat selama bulan Ramadhan. Tujuannya agar harta yang kita miliki tidak habis untuk memenuhi kebutuhan jasmani semata. Tetapi ada diantaranya yang disimpan di rekening bank ukhrawi, dan hanya itulah harta kita yang sesungguhnya.</p>
<p dir="ltr">
<ol>
<li><strong><em>5. </em></strong><strong><em>Manajemen Keluarga</em></strong></li>
</ol>
<p dir="rtl"><strong>عن عائشة رضي الله عنها أن النبي صلى الله عليه وسلم كان إذا دخل العشر الاواخر أحيى الليل، وأيقظ أهله، وشد المئزر. رواه البخاري ومسلم</strong><strong> </strong></p>
<p dir="ltr">Dari Aisyah ra, bahwasanya Nabi saw. apabila telah memasuki sepuluh hari terakhir (bulan Ramadhan); beliau menghidupkan waktu malam, membangunkan keluarganya dan mengencangkan ikat sarungnya. (hr. Bukhari dan Muslim).</p>
<p dir="ltr">Selama bulan Ramadhan, suasana keluarga harus dikondisikan untuk mematuhi dan menghormati bulan suci. Sehingga meskipun di dalam sebuah keluarga  terdapat anggota yang tidak berpuasa, namun kondisi umum dalam rumah tersebut harus tetap dalam suasana berpuasa. Meskipun hubungan antara suami dan istri ’tidak sebebas’ seperti di luar Ramadhan, namun kaharmonisan antara keduanya tetap harus dijaga. Di bulan Ramadhan, keharmonisan keluarga bukan semata-mata ketika makan sahur dan berbuka bersama. Tetapi keharmonisan itu juga dapat tercipta ketika semua anggotanya melakukan qiyam Ramadhan, tadarus Al-Qur’an, i’tikaf di masjid pada sepuluh malam terakhir dan lain-lain.</p>
<p dir="ltr">Kita semua menyadari bahwa yang berkuasa untuk melakukan <em>ta’liful qulub</em> (menyatukan hati) hanyalah Allah swt. Oleh sebab itu, kita harus banyak memohon kepada Allah agar hati-hati semua anggota keluarga dijadikan-Nya menyatu dengan cara mendekatkan diri kepada-Nya. Dengan demikian, Ramadhan menjadi sarana yang tepat untuk menjalin keharmonisan keluarga.</p>
<p dir="ltr">
<p dir="ltr"><em> Wallahu a’lam bishshawab.</em></p>
<p dir="ltr">
<p dir="ltr">
<p dir="ltr">
<p dir="ltr">
<p dir="ltr">Oleh: <em>Ust.</em> <em>Farid Dhofir, Lc.M.Si.</em></p>
<p dir="ltr">(Dalam Islamic Short Course Ramadhan 2008)</p>
<p dir="ltr">
<br />Posted in Ruang Keluarga  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/inoors.wordpress.com/380/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/inoors.wordpress.com/380/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/inoors.wordpress.com/380/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/inoors.wordpress.com/380/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/inoors.wordpress.com/380/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/inoors.wordpress.com/380/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/inoors.wordpress.com/380/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/inoors.wordpress.com/380/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/inoors.wordpress.com/380/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/inoors.wordpress.com/380/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/inoors.wordpress.com/380/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/inoors.wordpress.com/380/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/inoors.wordpress.com/380/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/inoors.wordpress.com/380/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=inoors.wordpress.com&amp;blog=3095047&amp;post=380&amp;subd=inoors&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://inoors.wordpress.com/2009/07/10/manajemen-diri-dan-keluarga-di-bulan-ramadhan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3ff52b0a48e65b4e1150dd0ed13db5d3?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">inoors</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://inoors.files.wordpress.com/2009/07/productivity364big.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">productivity364big</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Memperbaiki Niat (Proposal Nikah 2)</title>
		<link>http://inoors.wordpress.com/2009/07/07/memperbaiki-niat-proposal-nikah-2/</link>
		<comments>http://inoors.wordpress.com/2009/07/07/memperbaiki-niat-proposal-nikah-2/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 07 Jul 2009 06:48:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>inoors</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ruang Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Proposal Nikah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://inoors.wordpress.com/?p=364</guid>
		<description><![CDATA[Innamal a&#8217;malu binniyat&#8230;&#8230;. Niat adalah kebangkitan jiwa dan kecenderungan pada apa-apa yang muncul padanya berupa tujuan yang dituntut yang penting baginya, baik secara segera maupun ditangguhkan. Niat Ketika Memilih Pendamping 1. Rasulullah bersabda &#8220;Barangsiapa yang menikahkan (putrinya) karena silau akan kekayaan lelaki meskipun buruk agama dan akhlaknya, maka tidak akan pernah pernikahan itu dibarakahi-Nya, Siapa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=inoors.wordpress.com&amp;blog=3095047&amp;post=364&amp;subd=inoors&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em> </em></p>
<p><strong><em>Innamal a&#8217;malu binniyat&#8230;&#8230;.</em></strong><strong> </strong></p>
<p><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-365" title="Tatapan" src="http://inoors.files.wordpress.com/2009/07/tatapan.jpg?w=149&#038;h=150" alt="Tatapan" width="149" height="150" />Niat adalah kebangkitan jiwa dan kecenderungan pada apa-apa yang muncul padanya berupa tujuan yang dituntut yang penting baginya, baik secara segera maupun ditangguhkan.</p>
<p><strong>Niat Ketika Memilih Pendamping</strong></p>
<ol>
<li><em>1. </em>Rasulullah bersabda <em>&#8220;Barangsiapa yang menikahkan (putrinya) karena silau akan kekayaan lelaki meskipun buruk agama dan akhlaknya, maka tidak akan pernah pernikahan itu dibarakahi-Nya, Siapa yang menikahi seorang wanita karena kedudukannya, Allah akan menambahkan kehinaan kepadanya, Siapa yang menikahinya karena kekayaan, Allah hanya akan memberinya kemiskinan, Siapa yang menikahi wanita karena bagus nasabnya, Allah akan menambahkan kerendahan padanya, Namun siapa yang menikah hanya karena ingin menjaga pandangan dan nafsunya atau karena ingin mempererat kasih sayang, Allah senantiasa memberi barakah dan menambah kebarakahan itu padanya.&#8221;</em>(HR. Thabrani).<em> </em></li>
<li><em><span id="more-364"></span>2. </em><em>Janganlah kamu menikahi wanita karena kecantikannya, mungkin saja kecantikan itu membuatmu hina. Jangan kamu menikahi wanita karena harta / tahtanya mungkin saja harta / tahtanya membuatmu melampaui batas. Akan tetapi nikahilah wanita karena agamanya. Sebab, seorang budak wanita yang shaleh, meskipun buruk wajahnya adalah lebih utama.</em> (HR. Ibnu Majah).<em> </em></li>
<li><em>3. </em><em>Nabi SAW. bersabda : Janganlah kalian menikahi kerabat dekat, sebab (akibatnya) dapat melahirkan anak yang lemah (baik akal dan fisiknya) </em>(Al Hadits).<em> </em></li>
<li><em>Dari Jabir r.a., Sesungguhnya Nabi SAW. telah bersabda, Sesungguhnya perempuan itu dinikahi orang karena agamanya, kedudukan, hartanya, dan kecantikannya ; maka pilihlah yang beragama.&#8221; </em>(HR. Muslim dan Tirmidzi).</li>
</ol>
<p><strong>Niat dalam Proses Pernikahan</strong></p>
<p>Masalah niat tak berhenti sampai memilih pendamping. Niat masih terus menyertai berbagai urusan yang berkenaan dengan terjadinya pernikahan. Mulai dari memberi mahar, menebar undangan walimah, menyelenggarakan walimah. Walimah lebih dari dua hari lebih dekat pada mudharat, sedang walimah hari ketiga termasuk riya&#8217;. <em>&#8220;Berikanlah mahar (mas kawin) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan.&#8221;</em>(Qs. An Nisaa (4) : 4).</p>
<p>Rasulullah SAW bersabda : <em>&#8220;Wanita yang paling agung barakahnya, adalah yang paling ringan maharnya&#8221;</em> <strong>(HR. Ahmad, Al Hakim, Al Baihaqi dengan sanad yang shahih)</strong>. Dari Aisyah, bahwasanya Rasulullah SAW. telah bersabda, <em>&#8220;Sesungguhnya berkah nikah yang besar ialah yang sederhana belanjanya (maharnya)&#8221;</em> <strong>(HR. Ahmad)</strong>. Nabi SAW pernah berjanji : <em>&#8220;Jangan mempermahal nilai mahar. Sesungguhnya kalau lelaki itu mulia di dunia dan takwa di sisi Allah, maka Rasulullah sendiri yang akan menjadi wali pernikahannya.&#8221;</em> <strong>(HR. Ashhabus Sunan)</strong>. Dari Anas, dia berkata : &#8221; Abu Thalhah menikahi Ummu Sulaim dengan mahar berupa keIslamannya&#8221; <strong>(Ditakhrij dari An Nasa&#8217;i</strong>)..Subhanallah..</p>
<p>Proses pernikahan mempengaruhi niat. Proses pernikahan yang sederhana dan mudah insya Allah akan mendekatkan kepada bersihnya niat, memudahkan proses pernikahan bisa menjernihkan niat. Sedangkan mempersulit proses pernikahan akan mengkotori niat.<em> &#8220;Adakanlah perayaan sekalipun hanya memotong seekor kambing.&#8221;</em> <strong>(HR. Bukhari dan Muslim)</strong></p>
<p>Pernikahan haruslah memenuhi kriteria <em>Lillah, Billah, dan Ilallah</em>. Yang dimaksud <strong>Lillah</strong>, ialah niat nikah itu harus karena Allah. Proses dan caranya harus <strong>Billah</strong>, sesuai dengan ketentuan dari Allah.. Termasuk didalamnya dalam pemilihan calon, dan proses menuju jenjang pernikahan (bersih dari pacaran / nafsu atau tidak). Terakhir <strong>Ilallah</strong>, tujuannya dalam rangka menggapai keridhoan Allah.</p>
<p>Sehingga dalam penyelenggaraan nikah tidak bermaksiat pada Allah ; misalnya : adanya pemisahan antara tamu lelaki dan wanita, tidak berlebih-lebihan, tidak makan sambil berdiri (adab makanan dimasyarakat biasanya standing party-ini yang harus di hindari, padahal tidak dicontohkan oleh Rasulullah SAW yang demikian), Pengantin tidak disandingkan, adab mendo&#8217;akan pengantin dengan do&#8217;a : <em>Barokallahu laka wa baroka &#8216;alaikum wa jama&#8217;a baynakuma fii khoir.</em>. (Semoga Allah membarakahi kalian dan melimpahkan barakah kepada kalian), tidak bersalaman dengan lawan jenis, Tidak berhias secara berlebihan (&#8220;<em>Dan janganlah bertabarruj (berhias) seperti tabarrujnya jahiliyah yang pertama&#8221; </em>- Qs. Al Ahzab (33),</p>
<p><strong>Meraih Pernikahan Ruhani</strong></p>
<p>Jika seseorang sudah dipenuhi dengan kecintaan dan kerinduan pada Allah, maka ia akan berusaha mencari seseorang yang sama dengannya. Secara psikologis, seseorang akan merasa tenang dan tentram jika berdampingan dengan orang yang sama dengannya, baik dalam perasaan, pandangan hidup dan lain sebagainya. Karena itu, berbahagialah seseorang yang dapat merasakan cinta Allah dari pasangan hidupnya, yakni orang yang dalam hatinya Allah hadir secara penuh. Mereka saling mencintai bukan atas nama diri mereka, melainkan atas nama Allah dan untuk Allah.</p>
<p>Betapa indahnya pertemuan dua insan yang saling mencintai dan merindukan Allah. Pernikahan mereka bukanlah semata-mata pertemuan dua insan yang berlainan jenis, melainkan pertemuan dua ruhani yang sedang meniti perjalanan menuju Allah, kekasih yang mereka cintai. Itulah yang dimaksud dengan pernikahan ruhani. KALO KITA BERKUALITAS DI SISI ALLAH, PASTI YANG AKAN DATANG JUGA SEORANG (JODOH UNTUK KITA) YANG BERKUALITAS  PULA (Al Izzah 18 / Th. 2)</p>
<p><strong>Penutup</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><em>&#8220;Hai, orang-orang beriman !! Janganlah kamu mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Allah kepada kamu dan jangan kamu melampaui batas, karena Allah tidak suka kepada orang-orang yang melampaui batas.&#8221; </em><strong>(Qs. Al Maidaah (5) : 87).</strong><em> </em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Karena sesungguhnya setelah kesulitan itu ada kemudahan. Dan sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan</em> <strong>(Qs. Alam Nasyrah (94) : 5- 6 )</strong>.</p>
<p>Ibunda dan Ayahanda yang sangat saya hormati, saya sayangi dan saya cintai atas nama Allah.. demikanlah proposal ini (secara fitrah) saya tuliskan. Saya sangat berharap Ibunda dan Ayahanda.. memahami keinginan saya. Atas restu dan doa dari Ibunda serta Ayahanda..saya ucapkan &#8220;Jazakumullah Khairan katsiira&#8221;. &#8220;Ya Allah, jadikanlah aku ridho terhadap apa-apa yang Engkau tetapkan dan jadikan barokah apa-apa yang telah Engkau takdirkan, sehingga tidak ingin aku menyegerakan apa-apa yang engkau tunda dan menunda apa-apa yang Engkau segerakan.. YA ALLAH BERILAH PAHALA DALAM MUSIBAHKU KALI INI DAN GANTIKAN UNTUKKU YANG LEBIH BAIK DARINYA.. Amiin&#8221;</p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Dedicated to : My inspiration &#8230;. yang pernah singgah dan menghuni &#8220;hati&#8221; &#8230;Astaghfirullah !! Saat langkah ada didunia maya, tak menapak di bumi-Nya..Lalu, kucoba atur gelombang asa..Robbi kudengar panggilanMu tuk meniti jalan RidhoMu.. Kuharap ada penolong dari hambaMu meneguhkan tapak kakiku di jalan-Mu dan menemani panjangnya jalan dakwah yang harus aku titi.. &#8221; Saat Cinta dan Rindu  tuk gapai Syurga dan Syahid di jalanNya makin membuncah..&#8221;</em></p>
<p><strong>Maraji / Referensi :</strong></p>
<ol>
<li>Majalah Ishlah, Edisi Awal Tahun 1995.</li>
<li>Fiqh Islam, H. Sulaiman Rasyid, 1994, Cet. 27, Bandung, Sinar Baru Algesindo.</li>
<li>Fikih Sunnah 6, Sayyid Sabiq, 1980, cet. 15, Bandung, Pt. Al Ma&#8217;arif.</li>
<li>Kupinang Engkau dengan Hamdalah, Muhammad Faudzil Adhim, 1998, Yogyakarta, Mitra Pustaka.</li>
<li>Indahnya Pernikahan Dini, Muhammad Faudzil Adhim, 2002, Cet. 1, Jakarta, Gema Insani Press.</li>
<li>Rintangan Pernikahan dan Pemecahannya, Abdullah Nashih Ulwan, 1997, Cet. 1, Jakarta, Studia Press.</li>
<li>Perkawinan Masalah Orang muda, Orang Tua dan Negara, Abdullah Nashih Ulwan, 1996, Cet. 5, Jakarta, Gema Insani Press.</li>
<li>Kebebasan Wanita, jilid 1, 5, 6, A.H.A. Syuqqah, 1998, Cet.1, Jakarta, Gema Insani Press</li>
<li>Sulitnya Berumah Tangga, Muhammad Utsman Al Khasyt, 1999, Cet. 18, Jakarta, Gema Insani Press.</li>
</ol>
<p>10. Majalah Cerdas Pemuda Islam Al Izzah, Wahai Pemuda, Menikahlah, No. 17/Th. 2 31 Mei 2001, Jakarta, YPDS Al Mukhtar.</p>
<br />Posted in Ruang Keluarga  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/inoors.wordpress.com/364/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/inoors.wordpress.com/364/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/inoors.wordpress.com/364/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/inoors.wordpress.com/364/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/inoors.wordpress.com/364/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/inoors.wordpress.com/364/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/inoors.wordpress.com/364/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/inoors.wordpress.com/364/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/inoors.wordpress.com/364/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/inoors.wordpress.com/364/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/inoors.wordpress.com/364/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/inoors.wordpress.com/364/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/inoors.wordpress.com/364/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/inoors.wordpress.com/364/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=inoors.wordpress.com&amp;blog=3095047&amp;post=364&amp;subd=inoors&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://inoors.wordpress.com/2009/07/07/memperbaiki-niat-proposal-nikah-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3ff52b0a48e65b4e1150dd0ed13db5d3?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">inoors</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://inoors.files.wordpress.com/2009/07/tatapan.jpg?w=149" medium="image">
			<media:title type="html">Tatapan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Proposal Nikah (1)</title>
		<link>http://inoors.wordpress.com/2009/03/31/proposal-nikah-1/</link>
		<comments>http://inoors.wordpress.com/2009/03/31/proposal-nikah-1/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 31 Mar 2009 03:08:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>inoors</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ruang Keluarga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://inoors.wordpress.com/?p=350</guid>
		<description><![CDATA[Latar Belakang Ibunda dan Ayahanda yang sangat saya hormati, saya cintai dan sayangi, semoga Allah selalu memberkahi langkah-langkah kita dan tidak putus-putus memberikan nikmatNya kepada kita. Amin Ibunda dan Ayahanda yang sangat saya hormati&#8230;sebagai hamba Allah, saya telah diberi berbagai nikmat. Maha Benar Allah yang telah berfirman : &#8220;Kami akan perlihatkan tanda-tanda kebesaran kami di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=inoors.wordpress.com&amp;blog=3095047&amp;post=350&amp;subd=inoors&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Latar Belakang</strong></p>
<p><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-356" title="Writing3" src="http://inoors.files.wordpress.com/2009/03/writing31.gif?w=150&#038;h=150" alt="Writing3" width="150" height="150" />Ibunda dan Ayahanda yang sangat saya hormati, saya cintai dan sayangi, semoga Allah selalu memberkahi langkah-langkah kita dan tidak putus-putus memberikan nikmatNya kepada kita. Amin  Ibunda dan Ayahanda yang sangat saya hormati&#8230;sebagai hamba Allah, saya telah diberi berbagai nikmat. Maha Benar Allah yang telah berfirman : &#8220;Kami akan perlihatkan tanda-tanda kebesaran kami di ufuk-ufuk dan dalam diri mereka, sehingga mereka dapat mengetahui dengan jelas bahwa Allah itu benar dan Maha Melihat segala sesuatu&#8221;.</p>
<p>Nikmat tersebut diantaranya ialah fitrah kebutuhan biologis, saling membutuhkan terhadap lawan jenis.. yaitu: Menikah ! Fitrah pemberian Allah yang telah lekat pada kehidupan manusia, dan jika manusia melanggar fitrah pemberian Allah, hanyalah kehancuran yang didapatkannya..Na&#8217;udzubillah ! Dan Allah telah berfirman : &#8220;Janganlah kalian mendekati zina, karena zina adalah perbuatan yang buruk lagi kotor&#8221; (Qs. Al Israa&#8217; : 32).</p>
<p><span id="more-350"></span>Ibunda dan Ayahanda tercinta..melihat pergaulan anak muda dewasa itu sungguh amat memprihatinkan, mereka seolah tanpa sadar melakukan perbuatan-perbuatan maksiat kepada Allah. Seolah-olah, dikepala mereka yang ada hanya pikiran-pikiran yang mengarah kepada kebahagiaan semu dan sesaat. Belum lagi kalau ditanyakan kepada mereka tentang menikah. &#8220;Saya nggak sempat mikirin kawin, sibuk kerja, lagipula saya masih ngumpulin barang dulu,&#8221; ataupun Kerja belum mapan , belum cukup siap untuk berumah tangga, begitu kata mereka, padahal kurang apa sih mereka. Mudah-mudahan saya bisa bertahan dan bersabar agar tak berbuat maksiat. Wallahu a&#8217;lam.</p>
<p>Ibunda dan Ayahanda tersayang..bercerita tentang pergaulan anak muda yang cenderung bebas pada umumnya, rasanya tidak cukup tinta ini untuk saya torehkan. Setiap saya menulis peristiwa anak muda di  majalah Islam, pada saat yang sama terjadi pula peristiwa baru yang menuntut perhatian kita..Astaghfirullah.. Ibunda dan Ayahanda..inilah antara lain yang melatar belakangi saya ingin menyegerakan menikah.</p>
<p>Dasar Pemikiran  Dari Al Qur’an dan Al Hadits :</p>
<p>1.	Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. JIKA MEREKA MISKIN ALLAH AKAN MENGKAYAKAN MEREKA DENGAN KARUNIANYA. Dan Allah Maha Luas (pemberianNya) dan Maha Mengetahui.&#8221; (QS. An Nuur (24) : 32).</p>
<p>2.	Dan segala sesuatu kami jadikan berpasang-pasangan, supaya kamu mengingat kebesaran Allah.&#8221; (QS. Adz Dzariyaat (51) : 49).</p>
<p>3.	Maha Suci Allah yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui¡¨ (Qs. Yaa Siin (36) : 36).</p>
<p>4.	Bagi kalian Allah menciptakan pasangan-pasangan (istri-istri) dari jenis kalian sendiri, kemudian dari istri-istri kalian itu Dia ciptakan bagi kalian anak cucu keturunan, dan kepada kalian Dia berikan rezeki yang baik-baik (Qs. An Nahl (16) : 72).</p>
<p>5.	Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. (Qs. Ar. Ruum (30) : 21).</p>
<p>6.	Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi pelindung (penolong) bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma&#8217;ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasulnya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah ; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (Qs. At Taubah (9) : 71).</p>
<p>7.	Wahai manusia, bertaqwalah kamu sekalian kepada Tuhanmu yang telah menjadikan kamu satu diri, lalu Ia jadikan daripadanya jodohnya, kemudian Dia kembangbiakkan menjadi laki-laki dan perempuan yang banyak sekali. (Qs. An Nisaa (4) : 1).</p>
<p>8.	Wanita yang baik adalah untuk lelaki yang baik. Lelaki yang baik untuk wanita yang baik pula (begitu pula sebaliknya). Bagi mereka ampunan dan reski yang melimpah (yaitu : Surga) (Qs. An Nuur (24) : 26).</p>
<p>9.	..Maka nikahilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi dua, tiga, atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (nikahilah) seorang saja..(Qs. An Nisaa&#8217; (4) : 3).</p>
<p>10.	Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak pula bagi perempuan yang mukminah apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan akan ada bagi mereka pilihan yang lain tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan RasulNya maka sesungguhnya dia telah berbuat kesesatan yang nyata. (Qs. Al Ahzaab (33) : 36).</p>
<p>11. Anjuran-anjuran Rasulullah untuk Menikah : Rasulullah SAW bersabda: &#8220;Nikah itu sunnahku, barangsiapa yang tidak suka, bukan golonganku !&#8221;(HR. Ibnu Majah, dari Aisyah r.a.).</p>
<p>12.	Empat macam diantara sunnah-sunnah para Rasul yaitu : berkasih sayang, memakai wewangian, bersiwak dan menikah (HR. Tirmidzi).</p>
<p>13.	Dari Aisyah, &#8220;Nikahilah olehmu kaum wanita itu, maka sesungguhnya mereka akan mendatangkan harta (rezeki) bagi kamu¡¨ (HR. Hakim dan Abu Dawud).</p>
<p>14. Jika ada manusia belum hidup bersama pasangannya, berarti hidupnya akan timpang dan tidak berjalan sesuai dengan ketetapan Allah SWT dan orang yang menikah berarti melengkapi agamanya, sabda Rasulullah SAW: &#8220;Barangsiapa diberi Allah seorang istri yang sholihah, sesungguhnya telah ditolong separoh agamanya. Dan hendaklah bertaqwa kepada Allah separoh lainnya.&#8221; (HR. Baihaqi).</p>
<p>15.	Dari Amr Ibnu As, Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasannya ialah wanita shalihat.(HR. Muslim, Ibnu Majah dan An Nasai).</p>
<p>16.	&#8220;Tiga golongan yang berhak ditolong oleh Allah  (HR. Tirmidzi, Ibnu Hibban dan Hakim) : a. Orang yang berjihad / berperang di jalan Allah. b. Budak yang menebus dirinya dari tuannya. c. Pemuda / i yang menikah karena mau menjauhkan dirinya dari yang haram.&#8221;</p>
<p>17.	&#8220;Wahai generasi muda ! Bila diantaramu sudah mampu menikah hendaklah ia nikah, karena mata akan lebih terjaga, kemaluan akan lebih terpelihara.&#8221; (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Mas&#8217;ud).</p>
<p>18.	Kawinlah dengan wanita yang mencintaimu dan yang mampu beranak. Sesungguhnya aku akan membanggakan kamu sebagai umat yang terbanyak (HR. Abu Dawud).</p>
<p>19.	Saling menikahlah kamu, saling membuat keturunanlah kamu, dan perbanyaklah (keturunan). Sesungguhnya aku bangga dengan banyaknya jumlahmu di tengah umat yang lain (HR. Abdurrazak dan Baihaqi).</p>
<p>20.	Shalat 2 rakaat yang diamalkan orang yang sudah berkeluarga lebih baik, daripada 70 rakaat yang diamalkan oleh jejaka (atau perawan) (HR. Ibnu Ady dalam kitab Al Kamil dari Abu Hurairah).</p>
<p>21.	Rasulullah SAW. bersabda : &#8220;Seburuk-buruk kalian, adalah yang tidak menikah, dan sehina-hina mayat kalian, adalah yang tidak menikah&#8221; (HR. Bukhari).</p>
<p>22.	Diantara kamu semua yang paling buruk adalah yang hidup membujang, dan kematian kamu semua yang paling hina adalah kematian orang yang memilih hidup membujang (HR. Abu Ya¡¦la dan Thabrani).</p>
<p>23.	Dari Anas, Rasulullah SAW. pernah bersabda : Barang siapa mau bertemu dengan Allah dalam keadaan bersih lagi suci, maka kawinkanlah dengan perempuan terhormat. (HR. Ibnu Majah,dhaif).</p>
<p>24.	Rasulullah SAW bersabda : Kawinkanlah orang-orang yang masih sendirian diantaramu. Sesungguhnya, Allah akan memperbaiki akhlak, meluaskan rezeki, dan menambah keluhuran mereka (Al Hadits).</p>
<p><strong>Tujuan Pernikahan</strong></p>
<p>1.	Melaksanakan perintah Allah dan Sunnah Rasul.</p>
<p>2.	Melanjutkan generasi muslim sebagai pengemban risalah Islam.</p>
<p>3.	Mewujudkan keluarga Muslim menuju masyarakat Muslim.</p>
<p>4.	Mendapatkan cinta dan kasih sayang.</p>
<p>5.	Ketenangan Jiwa dengan memelihara kehormatan diri (menghindarkan diri dari perbuatan maksiat / perilaku hina lainnya).</p>
<p>6.	Agar kaya (sebaik-baik kekayaan adalah isteri yang shalihat).</p>
<p>7.	Meluaskan kekerabatan (menyambung tali silaturahmi / menguatkan ikatan kekeluargaan)</p>
<p><strong>Kesiapan Pribadi </strong></p>
<p>1.	Kondisi Qalb yang sudah mantap dan makin bertambah yakin setelah istikharah. Rasulullah SAW. bersabda : Man Jadda Wa Jadda (Siapa yang bersungguh-sungguh pasti ia akan berhasil melewati rintangan itu).</p>
<p>2.	Termasuk wajib nikah (sulit untuk shaum).</p>
<p>3.	Termasuk  tathhir (mensucikan diri).</p>
<p>4.	Secara materi, Insya Allah siap. ¡§Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya¡¨  (Qs. At Thalaq (65) : 7)</p>
<p><strong>Akibat Menunda atau Mempersulit Pernikahan</strong></p>
<p>1.	Kerusakan dan kehancuran moral akibat pacaran dan free sex.</p>
<p>2.	Tertunda lahirnya generasi penerus risalah.</p>
<p>3.	Tidak tenangnya Ruhani dan perasaan, karena Allah baru memberi ketenangan dan kasih sayang bagi orang yang menikah.</p>
<p>4.	Menanggung dosa di akhirat kelak, karena tidak dikerjakannya kewajiban menikah saat syarat yang Allah dan RasulNya tetapkan terpenuhi.</p>
<p>5.	Apalagi sampai bersentuhan dengan lawan jenis yang bukan mahramnya. Rasulullah SAW. bersabda: &#8220;Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, janganlah ia bersunyi sepi berduaan dengan wanita yang tidak didampingi mahramnya, karena yang menjadi pihak ketiganya adalah syaitan.&#8221; (HR. Ahmad) dan &#8220;Sungguh kepala salah seorang diantara kamu ditusuk dengan jarum dari besi lebih baik, daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya&#8221; (HR. Thabrani dan Baihaqi)</p>
<p>.. Astaghfirullahaladzim.. Wa Na&#8217;udzubillahi min dzalik</p>
<p>Namun, umumnya yang terjadi di masyarakat di seputar pernikahan adalah sebagai berikut ini :<br />
1.	Status yang mulia bukan lagi yang taqwa, melainkan gelar yang disandang:Ir, DR, SE, SH, ST, dan sebagainya.</p>
<p>2.	Pesta pernikahan yang wah / mahar yang tinggi, sebab merupakan kebanggaan tersendiri, bukan di selenggarakan penuh ketawadhu&#8217;an sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. (Pernikahan hendaklah dilandasi semata-mata hanya mencari ridha Allah dan RasulNya. Bukan di campuri dengan harapan ridha dari  manusia (sanjungan, tidak enak kata orang). Saya yakin sekali.. bila Allah ridha pada apa yang kita kerjakan, maka kita akan selamat di dunia dan di akhirat kelak.)</p>
<p>3.	Pernikahan dianggap penghalang untuk menyenangkan orang tua.</p>
<p>4.	Masyarakat menganggap pernikahan akan merepotkan Studi, padahal justru dengan menikah penglihatan lebih terjaga dari hal-hal yang haram, dan semakin semangat menyelesaikan kuliah.</p>
<br />Posted in Ruang Keluarga  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/inoors.wordpress.com/350/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/inoors.wordpress.com/350/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/inoors.wordpress.com/350/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/inoors.wordpress.com/350/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/inoors.wordpress.com/350/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/inoors.wordpress.com/350/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/inoors.wordpress.com/350/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/inoors.wordpress.com/350/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/inoors.wordpress.com/350/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/inoors.wordpress.com/350/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/inoors.wordpress.com/350/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/inoors.wordpress.com/350/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/inoors.wordpress.com/350/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/inoors.wordpress.com/350/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=inoors.wordpress.com&amp;blog=3095047&amp;post=350&amp;subd=inoors&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://inoors.wordpress.com/2009/03/31/proposal-nikah-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3ff52b0a48e65b4e1150dd0ed13db5d3?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">inoors</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://inoors.files.wordpress.com/2009/03/writing31.gif?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">Writing3</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dhihar (Talaq, Hukum dan Konsekuensinya 5)</title>
		<link>http://inoors.wordpress.com/2009/01/28/dhihar-talaq-hukum-dan-konsekuensinya-5/</link>
		<comments>http://inoors.wordpress.com/2009/01/28/dhihar-talaq-hukum-dan-konsekuensinya-5/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Jan 2009 08:34:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>inoors</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ruang Keluarga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://inoors.wordpress.com/?p=373</guid>
		<description><![CDATA[A. DHIHAR 1. Pengertian Dhihar berasal dari dhohr yang artinya punggung. Dan yang dimaksud ialah :  ucapan seorang suami kepada istrinya :  “ Engkau seperti punggung ibuku “ Dimasa Jahiliyah dhihar dianggap thalaq, kemudian Islam membatalkannya dengan ketentuan ; suami dilarang menggauli istrinya sebelum membayar kafarah Ibnu Qoyyim memberikan alasan, bahwa dhihar dimasa jahiliyah dianggap [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=inoors.wordpress.com&amp;blog=3095047&amp;post=373&amp;subd=inoors&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p dir="ltr"><strong><em> </em></strong></p>
<p><strong>A. </strong><strong>DHIHAR</strong><br />
<strong>1. </strong><strong>Pengertian </strong><br />
<strong><em>Dhihar</em></strong> berasal dari dhohr yang artinya punggung. Dan yang dimaksud ialah :  <em>ucapan seorang suami kepada istrinya :  “ Engkau seperti punggung ibuku</em> “<br />
<img class="alignleft size-thumbnail wp-image-377" title="divorce" src="http://inoors.files.wordpress.com/2009/07/divorce.jpg?w=150&#038;h=115" alt="divorce" width="150" height="115" />Dimasa Jahiliyah dhihar dianggap thalaq, kemudian Islam membatalkannya dengan ketentuan ; suami dilarang menggauli istrinya sebelum membayar kafarah<br />
Ibnu Qoyyim memberikan alasan, bahwa dhihar dimasa jahiliyah dianggap thalaq yang kemudian dibatalkan Islam, maka kita tidak boleh kembali kepada hukum yang telah dibatalkan ( mansuukh ).<br />
<strong>2. </strong><strong>Hukum dhihar</strong><br />
Para Ualama sepakat bahwa dhihar hukumnya haram, Allah berfirman  :<br />
Artinya : .” <em>Orang-orang yang mendhihar istrinya di antara kamu, (menganggap istrinya sebagai ibunya, padahal) tiadalah istri mereka itu ibu mereka. ibu-ibu mereka tidak lain hanyalah wanita yang melahirkan mereka. dan Sesungguhnya mereka sungguh-sungguh mengucapkan suatu perkataan mungkar dan dusta. dan Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.</em> “  ( QS. 58 : 2 )<span id="more-373"></span><br />
Hukum ini bermula dari kisah Aus bin Tsabit yang telah men-dhihar istrinya Haulah binti Malik bin Tsa’labah yang mengadu kepada Allah, dan kemudian Allahpun berkenan untuk mendengar pengaduannya dengan menurunkan ayat tersebut diatas<br />
<strong>3. </strong><strong>Hukum Dhihar  :</strong><br />
Apabila seorang suami men-dhihar istrinya, maka timbul beberapa akibat hukum  :<br />
<strong><em>Suami haram untuk mengauli istrinya sebelum ia membayar kafaroh</em></strong>,  Allah berfirman  :<br />
Artinya : “ <em>Orang-orang yang menzhihar istri mereka, Kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang mereka ucapkan, Maka (wajib atasnya) memerdekakan seorang budak sebelum kedua suami istri itu bercampur. Demikianlah yang diajarkan kepada kamu, dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.</em> “  ( QS. 58 : 3)<br />
<strong><em>Suami wajib untuk membayar kafaroh agar bisa mengauli istrinya</em></strong>. Dalam hal ini istri dapat menuntut suaminya untuk segera membayar kafaroh tersebut, dengan ketentuan sebagaimana firman Allah berikut  :<br />
Artinya : “ <em> Orang-orang yang menzhihar istri mereka, Kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang mereka ucapkan, Maka(wajib atasnya) memerdekakan seorang budak sebelum kedua suami istri itu bercampur. Demikianlah yang diajarkan kepada kamu, dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.</em><br />
<em>Barangsiapa yang tidak mendapatkan (budak), Maka (wajib atasnya) berpuasa dua bulan berturut-turut sebelum keduanya bercampur. Maka siapa yang tidak Kuasa (wajiblah atasnya) memberi makan enam puluh orang miskin. Demikianlah supaya kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. dan Itulah hukum-hukum Allah, dan bagi orang kafir ada siksaan yang sangat pedih. </em>“  ( QS. 58 : 3-4 )<br />
<strong>B. </strong><strong>IILA’ </strong></p>
<p><strong>1. </strong><strong>Pengertian </strong><strong>Iila’</strong></p>
<p>Berarti sumpah. Menurut pengertian syari’i, Iila’ berarti : “ <em>bersumpah dengan nama Allah atau sifat-Nya untuk tidak menggauli istrinya  secara mutlak atau selama lebih dari empat bulan ( Jumhur Ulama ) dan selama empat bulan atau lebih ( Hanafiyah ) </em>“<br />
Artinya : “  <em>Kepada orang-orang yang meng-ilaa&#8217; istrinya diberi tangguh empat bulan (lamanya). Kemudian jika mereka kembali (kepada istrinya), Maka Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan jika mereka ber&#8217;azam (bertetap hati untuk) talak, Maka Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.</em> “ ( QS. 2 : 226-227 )<br />
<strong>2. </strong><strong>Hukum Iila’</strong><br />
Apabila seorang suami meng-iila’ istrinya kemudian digaulinya pada masa empat bulan, maka berakhirlah ila’ dan suami wajib membayar kafarah yamin dengan ketentuan sebagaimana dalam firman Allah  :<br />
Artinya : “   <em>Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja, Maka kaffarat (melanggar) sumpah itu, ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi Pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak. barang siapa tidak sanggup melakukan yang demikian, Maka kaffaratnya puasa selama tiga hari. yang demikian itu adalah kaffarat sumpah-sumpahmu bila kamu bersumpah (dan kamu langgar) </em>“ ( QS. 5 : 89 )<br />
<strong><em>Dan apabila telah berlalu masa iila’ dan suami tidak menggauli istri, maka hukumnya :</em></strong><br />
Hanafiyah  :  jatuh thalaq bain<br />
Mayoritas Ulama  :  istri harus menuntut suaminya agar melepaskan iila’-nya atau menthalaq.<br />
<strong><em>Dan  apabila suami menolak tuntutan istri, maka Hakim wajib menjatuhkan hukuman kepada suami dengan :</em></strong><br />
menjatuhkan thalaq   ( Imam Malik )<br />
menekan suami agar ia menjatuhkan thalaq ( Imam Syafi’i,    Ahmad dan Ahli Dhohir )<br />
<strong>3. </strong><strong>Thalaq yang terjadi pada masa  Iila’</strong><br />
Thalaq yang terjadi pada masa Iila’, jatuh thalaq bain ( Hanafiyah ), dan thalaq roj’i ( Mayoritas Ulama )<br />
<strong>C. </strong><strong>LI’AN </strong></p>
<ol>
<li><strong>1. </strong><strong>Pengertian</strong></li>
</ol>
<p>F     <strong><em>Li’an</em></strong> berarti melaknat<br />
F     Menurut pengertian syar’i  Li’an berarti : “ sumpah seorang suami apabila menuduh istrinya berzina. Dengan cara sebagai berikut  :<br />
Sumpah itu diucapkan empat kali bahwa tuduhannya benar dan pada sumpah yang kelima ia meminta kutukan Allah atas dirinya seandainya ia berdusta<br />
Sumpah tersebut juga diucapkan istri sebanyak empat kali bahwa dirinya tidak berbuat sebagaimana yang dituduhkan suaminya, dan pada sumpah yang kelima ia bersedia menerima kutukan Allah bila ternyata tuduhan tersebut benar<br />
F   Dasar li’an tersebut adalah firman Allah  :<br />
Artinya : “  <em>Dan orang-orang yang menuduh istrinya (berzina), padahal mereka tidak ada mempunyai saksi-saksi selain diri mereka sendiri, Maka persaksian orang itu ialah empat kali bersumpah dengan nama Allah, Sesungguhnya dia adalah termasuk orang-orang yang benar.  Dan (sumpah) yang kelima: bahwa la&#8217;nat Allah atasnya, jika dia termasuk orang-orang yang berdusta   Istrinya itu dihindarkan dari hukuman oleh sumpahnya empat kali atas nama Allah Sesungguhnya suaminya itu benar-benar termasuk orang-orang yang dusta.  Dan (sumpah) yang kelima: bahwa laknat Allah atasnya jika suaminya itu termasuk orang-orang yang benar</em> “ ( QS. 24  6-9 )<br />
<strong>2. </strong><strong>Bagaimana terjadinya Li’an ?</strong><br />
<strong>Li’an  bisa terjadi karena dua hal  :</strong><br />
Suami menuduh istrinya berbuat zina dengan tidak dapat menghadirkan empat saksi yang membenarkan tuduhannya<br />
Suami menolak isi kandungan istrinya<br />
Sebaiknya sebelum terjadi li’an, diberikan nasihat dan peringatan kepada wanita tertuduh, agar waspada terhadap dampak li’an<br />
Hadits berikut ini barangkali bisa dijadikan pertimbangan :<br />
أيما امرأة أدخلت علي قوم من ليس منهم  فليس من الله في شيء  و لن يدخلها الله الجنة  و أيما رجل جحد ولده و هو ينظر اليه احتجب الله منه  و فضحه علي رؤوس الأولين  و الآخرين<br />
Artinya : “ <em>Apabila seorang wanita memasukkan ke suatu kaum yang bukan dari mereka, maka ia tidak akan mendapat bagian apapun dari Allah dan ia tidak akan masuk surga, dan apabila seorang laki-laki tidak mengakui anaknya, padahal ia tahu bahwa ia adalah anaknya, maka Allah akan menjauh darinya dan Allah akan menghinakannya dihadapan orang dahulu maupun yang akan datang</em> “ ( HR. Abu Daud )<br />
<strong>3. </strong><strong>Akibat hukum Li’an</strong><br />
Apabila suami telah mengucapkan li’an, maka gugur hukuman had atas dirinya, dan istri wajib dihukum had apabila ia tidak bersedia membantahnya dengan mengucapkan li’an<br />
Apabila istri membantah dan mengucapkan li’an, maka suami tetap bebas dari hukuman had dan istri juga bebas dari hukuman tersebut<br />
Apabila suami istri saling me-li’an, maka jatuhlah perceraian antara keduanya dan haram untuk berkumpul kembali, Ibnu Mas’ud berkata  :<br />
مضت  السنة  ألا  يجتمع  المتلاعنان<br />
Artinya : “  <em>Menurut sunnah yang berlaku, suami istri yang salaing meli’an tidak boleh berkumpul kembali</em> “ ( HR. Daru Quthni )</p>
<p>Ust. H. Agung Cahyadi, MA.<br />
Dalam Islamic Short Course Menengah 2008</p>
<br />Posted in Ruang Keluarga  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/inoors.wordpress.com/373/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/inoors.wordpress.com/373/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/inoors.wordpress.com/373/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/inoors.wordpress.com/373/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/inoors.wordpress.com/373/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/inoors.wordpress.com/373/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/inoors.wordpress.com/373/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/inoors.wordpress.com/373/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/inoors.wordpress.com/373/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/inoors.wordpress.com/373/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/inoors.wordpress.com/373/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/inoors.wordpress.com/373/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/inoors.wordpress.com/373/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/inoors.wordpress.com/373/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=inoors.wordpress.com&amp;blog=3095047&amp;post=373&amp;subd=inoors&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://inoors.wordpress.com/2009/01/28/dhihar-talaq-hukum-dan-konsekuensinya-5/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3ff52b0a48e65b4e1150dd0ed13db5d3?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">inoors</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://inoors.files.wordpress.com/2009/07/divorce.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">divorce</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kiat Kiat Berumah Tangga</title>
		<link>http://inoors.wordpress.com/2009/01/28/kiat-kiat-berumah-tangga/</link>
		<comments>http://inoors.wordpress.com/2009/01/28/kiat-kiat-berumah-tangga/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Jan 2009 04:32:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>inoors</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ruang Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Rumah Tangga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://inoors.wordpress.com/?p=313</guid>
		<description><![CDATA[Perkawinan merupakan wujud menyatunya dua hamba Allah ke dalam satu tujuan yang sama. Dan salah satu tujuan perkawinan adalah mencapai kebahagiaan yang langgeng bersama pasangan hidup. Namun, jalan menuju kebahagiaan tak selamanya mulus. Banyak hambatan, tantangan, dan persoalan yang terkadang menggagalkan jalannya rumah-tangga. Buktinya, perceraian kini sudah menjadi persoalan biasa, bukan lagi soal tabu bagi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=inoors.wordpress.com&amp;blog=3095047&amp;post=313&amp;subd=inoors&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;" lang="HI"> Perkawinan merupakan wujud menyatunya dua hamba Allah ke dalam <img class="alignright size-medium wp-image-314" title="interior5" src="http://inoors.files.wordpress.com/2009/01/interior5.jpg?w=237&#038;h=162" alt="interior5" width="237" height="162" />satu tujuan yang sama. Dan salah satu tujuan perkawinan adalah mencapai kebahagiaan yang langgeng bersama pasangan hidup. Namun, jalan menuju kebahagiaan tak selamanya mulus. Banyak hambatan, tantangan, dan persoalan yang terkadang menggagalkan jalannya rumah-tangga. Buktinya, perceraian kini sudah menjadi persoalan biasa, bukan lagi soal tabu bagi sebagian masyarakat. Nah, bagaimana kita mengantisipasi supaya mahligai rumah-tangga kita tidak goyang? Inilah </span><span style="font-size:10pt;font-family:Mangal;" lang="HI">10</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;" lang="HI"> tips menuju perkawinan yang bahagia. <span id="more-313"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;" lang="IN"><span>1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;" lang="HI">Cinta (Mahabbah) </span></strong></span><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;" lang="HI">Cinta merupakan energi yang dahsyat untuk mengembangkan dan menyempurnakan kepribadian Anda. Cinta akan membantu membuang semua rintangan yang muncul di tengah perjalanan rumah tangga. Perkawinan yang dibangun tanpa landasan cinta sebetulnya adalah omong-kosong belaka. Perkawinan tanpa cinta sama saja membangun rumah tanpa tiang. Rapuh dan lama-lama akan hancur dan roboh. Meski bukan satu-satunya syarat, cinta sangat berperan dalam membangun perkawinan yang langgeng. Maka, cinta dalam perkawinan adalah sesuatu yang mutlak dan harus. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;" lang="IN"><span>2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;" lang="HI">Seiman(Ukhuwwah) </span></strong></span><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;" lang="HI">Cinta saja tentu belum cukup untuk menciptakan perkawinan yang bahagia. Prinsip memilih pasangan/pendamping yang seiman juga merupakan salah satu kunci dalam mencapai kebahagiaan rumah tangga. Jangan anggap enteng soal yang satu ini. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;" lang="IN"><span>3.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;" lang="HI">Saling percaya (Amaanah) </span></strong></span><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;" lang="HI">Tanpa rasa saling percaya antara pasangan suami-istri, perkawinan tentu tak akan berjalan mulus. Bagaimana bisa mulus jika suami atau istri selalu mengawasi gerak-gerik kita karena ketidakpercayaannya itu? Yang muncul adalah kegelisahan, kecurigaan, kekhawatiran, tak pernah merasa tenteram, dan sebagainya. Ujung-ujungnya, Anda berdua justru saling menyalahkan dan menuduh. Rasa saling percaya akan mengantarkan Anda pada perasaan aman dan nyaman. Kuncinya, jangan sia-siakan kepercayaan yang diberikan suami Anda. Istri tak perlu mencurigai suami, dan sebaliknya, suami juga tak perlu mencurigai istri. Membangun rasa saling percaya juga merupakan perwujudan cinta yang dewasa. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;" lang="IN"><span>4.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;" lang="HI">Seks (Hubb) </span></strong></span><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;" lang="HI">Ya, seks memang perlu. Dan meski aktivitas seks sebetulnya bertujuan untuk memperoleh keturunan, namun manusia perlu juga mengembangkan seks untuk mencapai kebahagiaan bersama pasangan hidupnya. Kegiatan seks mestinya adalah penyerahan total, saling menyerahkan diri kepada suami atau istrinya sehingga hubungan terpupuk semakin dalam. Kegiatan seks yang timpang akan menjadi masalah serius bagi suami- istri. Uring-uringan, cekcok, dan gelisah, merupakan akibat yang biasanya muncul jika soal yang satu ini muncul. Prinsip hubungan seks yang baik adalah adanya keterbukaan dan kejujuran dalam mengungkapkan kebutuhan Anda masing-masing. Intinya, kegiatan seks adalah untuk saling memuaskan, namun perlu dihindari adanya kesan mengeksploitasi pasangan. Kegiatan seks yang menyenangkan akan memberikan dampak positif bagi Anda berdua. Bukankah seks yang menyenangkan akan berakibat turunnya karunia dari Allah? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;" lang="IN"><span>5.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;" lang="HI">Ekonomi (Maaliyah) </span></strong></span><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;" lang="HI">Hampir sebagian besar waktu dalam keluarga dewasa ini, khususnya pasangan suami-istri muda perkotaan, adalah untuk mencari nafkah. Artinya, tak bisa dipungkiri bahwa faktor ekonomi tak bisa dianggap remeh. Bayangkan, apa yang bakal terjadi seandainya rumah tangga tak didukung oleh topangan ekonomi yang memadai. Bisa jadi timbul percekcokan. Banyak kita dengar, pasangan suami-istri yang akhirnya bercerai gara-gara persoalan ekonomi. Rumah tangga berantakan, hidup susah, suami-istri selalu bertengkar, dan sebagainya. Bisa dibilang, salah satu tolok ukur keberhasilan keluarga adalah baik secara ekonomi, meski faktor satu ini bukan merupakan satu-satunya ukuran. Mengatur ekonomi secara benar juga akan memberikan perasaan aman dan bahagia. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;" lang="IN"><span>6.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;" lang="HI">Kehadiran anak (Dzurriyyah) </span></strong></span><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;" lang="HI">Anak adalah karunia Allah yang tak terkirakan nilainya. Perkawinan tanpa kehadiran anak seringkali memicu persoalan tersendiri. Banyak keluarga atau pasangan suami-istri yang sulit mendapatkan anak dan &#8216;mati-matian&#8217; berupaya dan berikhtiar agar mempunyai keturunan. Kehadiran seorang anak juga membuat suami-istri memiliki keterikatan dan tanggung jawab untuk membesarkan, merawat dan mencintai bersama-sama. Jadi, kehadiran anak secara tidak langsung akan semakin mendekatkan pasangan suami-istri. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;" lang="IN"><span>7.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;" lang="HI">Hindari pihak &#8220;ketiga&#8221; (I&#8217;timaad &#8216;ala nafs) </span></strong></span><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;" lang="HI">Kehidupan perkawinan merupakan otonomi tersendiri, yang sebaiknya tak dicampuri secara langsung oleh pihak lain, yang biasanya disebut pihak ketiga. Kehadiran pihak ketiga yang ikut campur tangan atau memberi pengaruh negatif dan masuk ke wilayah otoritas keluarga, bisa menciptakan bencana bagi rumah tangga tersebut. Banyak contoh keluarga yang hancur gara-gara pihak ketiga. Entah karena masih satu rumah dengan mertua, saudara ipar, tetangga, dan sebagainya. Jadi, bila Anda menginginkan kehidupan rumah tangga Anda langgeng bahagia, sebisa-bisanya hindari campur tangan negatif pihak ketiga. Bila sebaliknya, justru sangat diperlukan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;" lang="IN"><span>8.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;" lang="HI">Menjaga romantisme (Muhaafadhah) </span></strong></span><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;" lang="HI">Terkadang, pasangan suami-istri yang sudah cukup lama membangun mahligai rumah tangga tak lagi peduli pada soal yang satu ini. Tak ada kata-kata pujian, makan malam bersama, bahkan perhatian pun seperti barang mahal. Padahal, menjaga romantisme dibutuhkan oleh pasangan suami-istri sampai kapan pun. Sekedar memberikan bunga, mencium pipi, menggandeng tangan, saling memuji, atau berjalan-jalan menyusuri tempat-tempat romantis akan selalu memercikkan rasa cinta kepada pasangan hidup Anda. Tentu, ujung-ujungnya pasangan suami-istri akan merasa semakin erat dan saling membutuhkan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;" lang="IN"><span>9.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;" lang="HI">Komunikasi (Muhaadatsah) </span></strong></span><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;" lang="HI">Komunikasi juga merupakan salah satu pilar langgengnya hubungan suami-istri. Hilangnya komunikasi berarti hilang pula salah satu pilar rumah tanga. Bagaimana mungkin hubungan suami-isteri akan mulus jika menyapa pun enggan dilakukan. Jika rumah tangga adalah sebuah mobil, maka komunikasi adalah rodanya. Tanpanya, tak mungkin rasanya rumah tangga berjalan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;" lang="HI">Banyak terjadi, suami atau istri apatis terhadap pasangannya karena terlalu sibuk bekerja. Suami-istri bekerja, sementara anak sibuk dengan urusannya sendiri, sehingga rumah hanya seperti tempat kos, masing-masing pribadi tidak saling tegur sapa. Ini sama halnya menaruh bom waktu yang sewaktu-waktu bisa meledak. Bisa-bisa, di antara Anda kemudian mencari pelampiasan dengan mencari teman di luar untuk curhat dan tak betah lagi tinggal di rumah. Jadi, cobalah untuk selalu menjaga komunikasi suami dan isteri. Luangkan waktu untuk duduk atau ngobrol bersama, sekalipun hanya </span><span style="font-size:10pt;font-family:Mangal;" lang="HI">5</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;" lang="HI"> menit setiap hari. Teleponlah atau kirimkan email pada saat Anda berdua berada di kantor Anda masing-masing. Atau makan siang bersama. Intinya, ciptakan komunikasi, sehingga masing-masing pribadi merasa dibutuhkan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;" lang="IN"><span>10.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;" lang="HI">Saling memuji dan memperhatikan (Mulaathofah) </span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;" lang="HI">Meski sepele, pujian atau perhatian sangat besar pengaruhnya bagipasangan suami-isteri. Ucapan bernada pujian akan semakin memperkuat ikatan suami-istri. Tanpa pujian atau perhatian, bisa-bisa yang ada hanya saling mencela dan merendahkan. Memberikan pujian ringan seperti &#8220;Masakan Mama hari ini luar biasa, lho!&#8221; atau &#8220;Wah, Papa tambah keren pakai dasi itu.&#8221; Ucapan-ucapan sepele seperti itu akan memberikan dorongan/semangat yang luar biasa. Pasangan Anda pun akan merasa dihargai. Memuji tak butuh biaya atau ongkos mahal, kok. Yang dibutuhkan adalah ketulusan dan rasa cinta pada suami.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Insya Allah dengan h</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;" lang="HI">al</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">-hal</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;" lang="HI"> inilah yang memungkinkan terbukanya hidayah dalam rumah tangga, semoga senantiasa menjadi rumah tangga yang Sakiinah, Mawaddah Warahmah. Amin. </span><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">c</span></strong><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;" lang="HI">ag</span></strong><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> (dari berbagai sumber)</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center">
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Penyaji: Ust. Endang Abdurahman, S.Ag</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">(Dalam Seminar : FIQIH MUNAKAHAT)<br />
</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><br />
</span></strong></p>
<br />Posted in Ruang Keluarga  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/inoors.wordpress.com/313/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/inoors.wordpress.com/313/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/inoors.wordpress.com/313/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/inoors.wordpress.com/313/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/inoors.wordpress.com/313/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/inoors.wordpress.com/313/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/inoors.wordpress.com/313/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/inoors.wordpress.com/313/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/inoors.wordpress.com/313/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/inoors.wordpress.com/313/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/inoors.wordpress.com/313/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/inoors.wordpress.com/313/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/inoors.wordpress.com/313/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/inoors.wordpress.com/313/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=inoors.wordpress.com&amp;blog=3095047&amp;post=313&amp;subd=inoors&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://inoors.wordpress.com/2009/01/28/kiat-kiat-berumah-tangga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3ff52b0a48e65b4e1150dd0ed13db5d3?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">inoors</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://inoors.files.wordpress.com/2009/01/interior5.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">interior5</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Persiapan Membentuk Keluarga Sakinah Mawadah Wa Rahmah</title>
		<link>http://inoors.wordpress.com/2009/01/20/persiapan-membentuk-keluarga-sakinah-mawadah-wa-rahmah/</link>
		<comments>http://inoors.wordpress.com/2009/01/20/persiapan-membentuk-keluarga-sakinah-mawadah-wa-rahmah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Jan 2009 04:13:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>inoors</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ruang Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Rumah Tangga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://inoors.wordpress.com/?p=306</guid>
		<description><![CDATA[PERSIAPAN Memasuki dunia baru bagi pasangan baru, atau lebih dikenal dengan pengantin baru memang merupakan suatu yang membahagiakan. Tetapi bukan berarti tanpa kesulitan. Dari pertama kali melangkah ke pelaminan, semuanya sudah akan terasa lain. Lepas dari ketergantungan terhadap orang tua, teman, saudara, untuk kemudian mencoba hidup bersama orang &#8211; yang mungkin &#8211; belum pernah kenal [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=inoors.wordpress.com&amp;blog=3095047&amp;post=306&amp;subd=inoors&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>PERSIAPAN</strong></p>
<p><img class="alignleft size-medium wp-image-307" title="stunning_beauty_bouquet_-_roses_iris_stargazer_lilies_carnations_asters" src="http://inoors.files.wordpress.com/2009/01/stunning_beauty_bouquet_-_roses_iris_stargazer_lilies_carnations_asters.jpg?w=182&#038;h=188" alt="stunning_beauty_bouquet_-_roses_iris_stargazer_lilies_carnations_asters" width="182" height="188" />Memasuki dunia baru bagi pasangan baru, atau lebih dikenal dengan pengantin baru memang merupakan suatu yang membahagiakan. Tetapi bukan berarti tanpa kesulitan. Dari pertama kali melangkah ke pelaminan, semuanya sudah akan terasa lain. Lepas dari ketergantungan terhadap orang tua, teman, saudara, untuk kemudian mencoba hidup bersama orang &#8211; yang mungkin &#8211; belum pernah kenal sebelumnya. Semua ini memerlukan persiapan khusus (walaupun sebelumnya sudah kenal), agar tidak terjebak dalam sebuah dilema rumah tangga yang dapat mendatangkan penyesalan di kemudian hari. Diantara persiapan yang harus dilakukan oleh pasangan baru yang akan mengarungi bahtera rumah tangga:<span id="more-306"></span><br />
<strong>1.	Persiapan Keilmuan</strong>.<br />
Perkawinan tidak lepas dari ilmu, barangsiapa mengetahui ilmunya, maka ia dapatkan hikmah dan fungsi di kemudian hari. Hidup di bawah naungan pernikahan amatlah sederhana (tetapi bukan berarti gampang), sesederhana hidup membujang. Ketika seseorang merasa berat dengan hidup membujang begitupun dengan pernikahan, bukan saja sebagai halangan, bahkan menjadi beban dalam hidupnya. Dianatara bentuk keilmuan yang harus dilalui oleh pasangan; membaca buku-buku tentang perkawinan, rajin mengikuti seminar atau workshop perkawinan, dan bertanya kepada pasangan yang mampu berbagi pengalaman kehidupannya.<br />
<strong>2</strong>.	<strong>Persiapan Mental</strong>.<br />
Perpindahan dari dunia remaja memasuki fase dewasa &#8211; di bawah naungan perkawinan &#8211; akan sangat berpengaruh terhadap psikologis, sehingga diperlukan persiapan mental dalam menyandang jabatan baru, sebagai ibu rumah tangga atau kepala rumah tangga. Kalaupun sekarang anda telah terlanjur menyandang predikat tersebut sebelum anda sempat berpikir sebelumnya, Anda belum terlambat. Anda bisa memulainya dari sekarang, menyiapkan mental anda lewat buku-buku bacaan tentang cara-cara berumah tangga, atau Anda dapat belajar dari orang-orang terdekat, yang dapat memberikan nasehat bagi rumah tangga anda<br />
Mengenali Pasangan. Kalau dulu orang dekat anda adalah ibu, teman, atau saudara Anda yang telah Anda kenal sejak kecil, tetapi sekarang orang yang nomor satu bagi Anda adalah pasangan Anda. Walaupun pasangan Anda adalah orang yang telah Anda kenal sebelumnya, tetapi hal ini belumlah menjamin bahwa Anda telah benar-benar mengenal kepribadiannya. Keadaannya lain. Masa sebelumnya dengan lingkungan rumah tangga jauh berbeda. Apalagi jika pasangan Anda adalah orang yang belum pernah Anda kenal sebelumnya. Disini perlu adanya penyesuaian-penyesuaian. Anda harus mengenal lebih jauh pasangan Anda, segala kekurangan dan kelebihannya, untuk kemudian Anda pahami bagaimana sebaiknya Anda bersikap, tanpa harus mempersoalkan semuanya. Karena sesungguhnya bersama pasangan, Anda hidup dalam rumah tangga untuk saling melengkapi satu dengan yang lainnya, sehingga tercipta keharmonisan.<br />
<strong>3.</strong> <strong>Menyusun Agenda Kegiatan</strong>.<br />
Kesibukan Anda sebagai ibu rumah tangga atau kepala rumah tangga tentunya akan lebih banyak menyita waktu di banding ketika Anda masih sendiri. Hari-hari kemarin bisa saja Anda sempat mengikuti segala macam kegiatan yang Anda sukai kapan saja anda mau. Persoalannya sekarang adalah Anda tidak sendiri, kehadiran pasangan Anda disamping Anda tidak boleh Anda abaikan. Tetapi Anda tak perlu menarik diri dari aktifitas atau kegiatan yang Anda butuhkan. Anda dapat membuat agenda untuk efektifitas kerja, pilah dan pilih kegiatan apa yang sekiranya dapat Anda ikuti sesuai dengan waktu yang Anda miliki dengan tanpa mengganggu tugas sebagai ibu rumah tangga atau kepala rumah tangga.<br />
<strong>4.	Mempelajari Kesenangan Pasangan</strong>.<br />
Perhatian-perhatian kecil akan mempunyai nilai tersendiri bagi pasangan Anda, apalagi di awal perkawinan. Anda dapat melakukannya dengan mempelajari kesenangan pasangan Anda, mulai dari selera makan, kebiasaan, hobi dan lainnya. Tidak menjadi masalah jika ternyata apa yang disenanginya tidak Anda senangi.<br />
<strong>5.	Adaptasi Lingkungan.</strong><br />
Lingkungan keluarga, famili dan masyarakat baru sudah pasti akan Anda hadapi. Anda harus bisa membawa diri untuk masuk dalam kebiasaan-kebiasaan (adat) yang ada di dalamnya. Kalau Anda siap menerima kehadiran pasangan, berarti pula Anda harus siap menerimanya bersama keluarga dan masyarakat di sekitarnya. Awalnya mungkin akan terarasa asing, kaku, tapi semuanya akan terbiasa jika anda mau membuka diri untuk bergaul dengan mereka, mengikuti adat yang ada, walaupun anda kurang menyukainya. Sehingga akan terjalin keakraban antara anda dengan keluarga, famili dan lingkungan masyarakat yang baru. Karena hakekat pernikahan bukan perkawinan antara anda dan pasangan anda, tetapi, lebih luas lagi antara keluarga anda dan keluarga pasangan anda, antara desa anda dengan desa pasangan anda, antara bahasa anda dengan bahasa pasangan anda, antara kebiasaan (adat) anda dengan kebiasaan pasangan anda. Dst.<br />
<strong>6.	Menanamkan rasa saling percaya.</strong><br />
Tidak salah jika suatu saat anda merasa curiga dan cemburu. Tetapi harus anda ingat, faktor apa yang membuat anda cemburu dan seberapa besar porsinya. Tidak lucu jika anda melakukannya hanya dengan berdasar perasaan. Hal itu boleh saja untuk sekedar mengungkapkan rasa cinta, tetapi tidak baik juga kalau terlalu berlebihan. Sebaiknya anda menanamkan sikap saling percaya, sehingga anda akan merasa tenang, tidak diperbudak oleh perasaan sendiri. Yakinkan, bahwa pasangan anda adalah orang terbaik yang anda kenal, yang sangat anda cintai dan buktikan juga bahwa anda sangat membutuhkan kehadirannya, kemudian bersikaplah secara terbuka.<br />
<strong>7.	Musyawarah.</strong><br />
Persoalan-persoalan yang timbul dalam rumah tangga harus dihadapi secara dewasa. Upayakan dalam memecahkan persoalan anda mengajak pasangan anda untuk bermusyawarah. Demikian juga dalam mengatur perencanaan-perencanaan dalam rumah tangga, sekecil apapun masalah yang anda hadapi, semudah apapun rencana yang anda susun. Anda bisa memilih waktu-waktu yang tepat untuk saling tukar pikiran, bisa di saat santai, nonton atau dimana saja sekiranya pasangan anda sedang dalam keadaan bugar.<br />
Menciptakan suasana Islami. Suasana Islami ini bisa anda bentuk melalui penataan ruang, gerak, tingkah laku keseharian anda dan lain-lain. Sholat berjama&#8217;ah bersama pasangan anda, ngaji bersama (tidak perlu setiap waktu, cukup habis maghrib atau shubuh), mendatangi majlis ta&#8217;lim bersama dan membuat kegiatan yang Islami dalam rumah tangga anda.</p>
<br />Posted in Ruang Keluarga  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/inoors.wordpress.com/306/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/inoors.wordpress.com/306/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/inoors.wordpress.com/306/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/inoors.wordpress.com/306/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/inoors.wordpress.com/306/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/inoors.wordpress.com/306/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/inoors.wordpress.com/306/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/inoors.wordpress.com/306/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/inoors.wordpress.com/306/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/inoors.wordpress.com/306/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/inoors.wordpress.com/306/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/inoors.wordpress.com/306/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/inoors.wordpress.com/306/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/inoors.wordpress.com/306/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=inoors.wordpress.com&amp;blog=3095047&amp;post=306&amp;subd=inoors&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://inoors.wordpress.com/2009/01/20/persiapan-membentuk-keluarga-sakinah-mawadah-wa-rahmah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3ff52b0a48e65b4e1150dd0ed13db5d3?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">inoors</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://inoors.files.wordpress.com/2009/01/stunning_beauty_bouquet_-_roses_iris_stargazer_lilies_carnations_asters.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">stunning_beauty_bouquet_-_roses_iris_stargazer_lilies_carnations_asters</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Lepasnya Ikatan Pernikahan Dengan Tebusan (Thalaq, Hukum dan Konsekuensinya 4)</title>
		<link>http://inoors.wordpress.com/2009/01/14/lepasnya-ikatan-pernikahan-thalaq-hukum-dan-konsekuensinya-4/</link>
		<comments>http://inoors.wordpress.com/2009/01/14/lepasnya-ikatan-pernikahan-thalaq-hukum-dan-konsekuensinya-4/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Jan 2009 03:49:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>inoors</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ruang Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Thalaq]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://inoors.wordpress.com/?p=294</guid>
		<description><![CDATA[E. KHULU’ (Lepasnya Ikatan Pernikahan Dengan Tebusan) Khulu’secara bahasa berarti melepas, dari kata “ khal-utsaubi” yang berarti melepas pakaian, karena wanita adalah pakaian suami dan demikian juga sebaliknya Khulu’juga disebut tebusan, karena wanita yang mengajukan khulu’ berarti menebus dirinya dengan sesuatu yang diberikan kepada suaminya agar ia (suaminya) menceraikannya Dan menurut pengertian syar’inya, “ khulu’ [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=inoors.wordpress.com&amp;blog=3095047&amp;post=294&amp;subd=inoors&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;   &lt;![endif]--><!--[if !mso]&gt;--></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"><span>E.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong><!--[endif]--><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">KHULU’<span> </span>(Lepasnya Ikatan Pernikahan Dengan Tebusan)</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:78pt;text-align:justify;"><strong><em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"> </span></em></strong></p>
<p><!--[if !supportLists]--></p>
<ul>
<li><span style="font-size:11pt;font-family:Wingdings;" lang="IN"><span><span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><strong><em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Khulu</span></em></strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">’secara bahasa berarti melepas, dari kata “ <em>khal-utsaubi</em>” <img class="alignright size-medium wp-image-297" title="tali-putus" src="http://inoors.files.wordpress.com/2008/12/tali-putus.jpg?w=188&#038;h=125" alt="tali-putus" width="188" height="125" />yang berarti melepas pakaian, karena wanita adalah pakaian suami<span> </span>dan demikian juga sebaliknya</span></li>
</ul>
<p><!--[endif]--></p>
<ul>
<li><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;font-family:Wingdings;" lang="IN"><span><span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Khulu’</span></em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">juga disebut tebusan, karena wanita yang mengajukan khulu’ berarti menebus dirinya<span> </span>dengan sesuatu yang diberikan kepada suaminya agar ia (suaminya) menceraikannya</span></li>
</ul>
<ul>
<li><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;font-family:Wingdings;" lang="IN"><span><span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Dan menurut pengertian <em>syar’inya</em>, “ <em><span> </span>khulu’ berarti lepasnya ikatan pernikahan dengan tebusan</em><span> </span>“<span id="more-294"></span></span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Islam membolehkan kepada seorang wanita untuk memutuskan ikatan pernikahan dengan jalan khulu’ dengan kewajiban untuk memberikan kembali kepada suaminya mahar yang diterimanya, berdasarkan firman Allah<span> </span>: </span><span style="font-size:14pt;font-family:Arial;" dir="rtl" lang="IN"><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;" lang="IN">Artinya : “ <em>Talak (yang dapat dirujuki) dua kali. setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma&#8217;ruf atau menceraikan dengan cara yang baik. tidak halal bagi kamu mengambil kembali sesuatu dari yang Telah kamu berikan kepada mereka, kecuali kalau keduanya khawatir tidak akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami istri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, Maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh isteri untuk menebus dirinya. Itulah hukum-hukum Allah, Maka janganlah kamu melanggarnya. barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah mereka Itulah orang-orang yang zalim</em>“ ( QS. 2 : 229 )</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"><span>1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong><!--[endif]--><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Iwadh / tebusan atau pengganti dalam khulu’</span></strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"><span>a.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong><!--[endif]--><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Mayoritas Ulama berpendapat</span></strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">, bahwa iwadh khulu’ boleh berupa maskawin atau sebagian dari maskawin atau dengan barang lainnya, baik jumlahnya lebih sedikit atau lebih banyak dari jumlah maskawin, baik dengan tunai atau dengan cara diangsur, berdasarkan makna umum ayat berikut<span> </span>:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;" lang="IN">Artinya : “<span> </span><em>Jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami istri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, Maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh isteri untuk menebus dirinya.</em> “<span> </span>( QS. 2 : 229 )</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"><span>b.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong><!--[endif]--><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Sebagian Ulama berpendapat,</span></strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"> bahwa suami tidak dibenarkan meminta lebih banyak dari yang pernah diberikan kepada istrinya, berdasarkan sabda Rasulullah saw<span> </span>kepada istri Abu Zubair ( istri Tsabit bin<span> </span><span> </span>Qois ),<span> </span>ketika meminta cerai<span> </span>:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:right;" align="right"><span style="font-size:16pt;font-family:Arial;" lang="IN"><span> </span></span><span style="font-size:16pt;font-family:Arial;" dir="rtl" lang="AR-SA">أتردين عليه حديقته التي أعطاك ؟<span> </span>قالت : نعم و زيادة ؟ فقال صلي الله عليه و سلم<span> </span>: أما الزيادة فلا<span> </span>و لكن حديقته<span> </span>قلت : نعم</span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" dir="rtl" lang="AR-SA"><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;" lang="IN">Artinya : <span> </span>“ <em>Apakah engkau bersedia mengembalikan kebun yang diberikannya kepadamu ? ia menjawab : ya, dan harus lebih ? Nabi saw bersabda : tambahannya tidak perlu, tetapi kebunnya saja, wanita tersebut menjawab : ya</em><span> </span>“<span> </span>( HR. Daruquthny<span> </span>)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"><span>2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong><!--[endif]--><strong><em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Khulu’ tanpa alasan syar’i</span></em></strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"><span> </span>:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Sebagaimana thalaq, khulu’ juga tidak dibenarkan jika tidak ada alasan syar’i, berdasarkan sabda Rasulullah saw :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:right;" align="right"><span style="font-size:16pt;font-family:Arial;" dir="rtl" lang="AR-SA">أيما امرأة سألت زوجها الطلاق من غير بأس<span> </span>فحرام عليها رائحة الجنة</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;" lang="IN">Artinya : “<span> </span><em>Jika seorang wanita meminta thalaq kepada suaminya dengan tanpa ada alasan<span> </span>(syar’i ), maka haram baginya bahu surga</em> “ (<span> </span>Hr. Imam Khomsah kecuali Nasaii )</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Demikian juga tidak diperkenankan untuk merekayasa khulu’, misalnya seorang suami dengan sengaja menyakiti istrinya dengan maksud agar istrinya meminta khulu’, Allah berfirman<span> </span>:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;" lang="IN">Artinya : <span> </span>“<span> </span><em>Bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, padahal sebagian kamu Telah bergaul (bercampur) dengan yang lain sebagai suami-istri. dan mereka (istri-istrimu) Telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat.</em><span> </span>“<span> </span>( QS. 4 : 20 )</span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"><span>3.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong><!--[endif]--><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Khulu’ diwaktu haidh</span></strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Khulu’ tidak terikat dengan waktu tertentu, untuk itu boleh dilakukan diwaktu suci atau haidh, hal ini berbeda dengan thalaq yang diharamkan untuk dilakukan diwaktu haidh. Yang demikian itu dimaksudkan agar suami tidak mengulur-ulur waktu ‘iddah, sedangkan khulu’ adalah permintaan istri, yang dengan demikian dapat diartikan ia (istri ) siap untuk menjalankan waktu ‘iddah dengan waktu yang lama.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"><span>4.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong><!--[endif]--><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Khulu’ : thalaq atau fasakh ? </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"><span>a.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Hanafiyah, Malikiyah dan Syafi’iyah<span> </span>: khulu’ adalah thalaq bain</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"><span>b.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Ahmad bin Hanbal, Ibnu Abbas, Utsman bin Affan dan Ibnu Umar<span> </span>: khulu’ adalah fasakh</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Ibnu Qoyyim mengatakan<span> </span>:<span> </span>Dalil yang menunjukkan bahwa khulu’ bukan thalaq, adalah bahwa Allah menetapkan adanya dua akibat hukum dari thalaq yang terjadi setelah adanya hubungan suami istri dan sebelum terjadi tiga kali thalaq. Dan dua hukum tersebut bertentangan dengan akibat hukum khulu’, yaitu :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"><span>a.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Suami berhak meruju’ istrinya selama dalam masa ‘iddah, sementara dalam khulu’suami tidak boleh untuk meruju’ istrinya dalam masa ‘iddah</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"><span>b.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Iddahnya thalaq adalah tiga quru’, sementara ‘iddahnya khulu’ adalah satu kali haidh, sebagaimana sabda Rasululah saw kepada Tsabit bin Qois ketika istrinya meminta khulu’ :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:33pt;text-align:right;" align="right"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"><span> </span></span><span style="font-size:16pt;font-family:Arial;" dir="rtl" lang="AR-SA">خذي الذي عليك<span> </span>و خل سبيلها،<span> </span>قال : نعم<span> </span>فأمرها الرسول صلي الله عليه و سلم<span> </span>أن تعتد بحيضة واحدة<span> </span>و تلحق بأهلها</span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" dir="rtl" lang="AR-SA"><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;" lang="IN"><span> </span>Artinya : <span> </span>“<span> </span><em>Ambilah yang kamu berikan kepadanya dan lepaskanlah jalannya, Tsabit menjawab : Ya, kemudian Rasulullah saw memerintahkan istri Tsabit agar ber-‘iddah dengan satu kali haidh, kemudian kembali kepada keluarganya</em><span> </span>( HR. Nasai )</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Akibat dari perbedaan pendapat tersebut, maka jika seorang suami telah men-thalaq istrinya dua kali, kemudian meng-khulu’nya, maka<span> </span>:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"><span>a.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Bagi yang mengangap khulu’ itu thalaq, maka berarti telah jatuh thalaq tiga, yang berarti suami tidak lagi halal untuk meruju’ kembali istrinya tersebut, kecuali wanita tersebut menikah dengan laki-laki lain kemudian diceraikan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"><span>b.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Bagi yang menganggap khulu’ itu fasakh, maka suami tersebut berhak untuk meruju’ istrinya, meskipun wanita tersebut belum menikah lagi dengan laki-laki lain, apabila sudah habis masa ‘iddahnya</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong> </strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong> </strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong> </strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong> </strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong>Ditulis Oleh : Ust. H. Agung<br />
Cahyadi, MA. (Materi<br />
dalam program Islamic Short Course Menengah, Pusda YDSF 2008)</strong></p>
<br />Posted in Ruang Keluarga  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/inoors.wordpress.com/294/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/inoors.wordpress.com/294/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/inoors.wordpress.com/294/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/inoors.wordpress.com/294/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/inoors.wordpress.com/294/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/inoors.wordpress.com/294/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/inoors.wordpress.com/294/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/inoors.wordpress.com/294/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/inoors.wordpress.com/294/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/inoors.wordpress.com/294/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/inoors.wordpress.com/294/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/inoors.wordpress.com/294/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/inoors.wordpress.com/294/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/inoors.wordpress.com/294/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=inoors.wordpress.com&amp;blog=3095047&amp;post=294&amp;subd=inoors&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://inoors.wordpress.com/2009/01/14/lepasnya-ikatan-pernikahan-thalaq-hukum-dan-konsekuensinya-4/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3ff52b0a48e65b4e1150dd0ed13db5d3?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">inoors</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://inoors.files.wordpress.com/2008/12/tali-putus.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">tali-putus</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ta&#8217;liq Thalaq dan Thalaq Langsung (Thalaq, Hukum dan Konsekuensinya 3)</title>
		<link>http://inoors.wordpress.com/2009/01/06/taliq-thalaq-dan-thalaq-langsung-thalaq-hukum-dan-konsekuensinya-3/</link>
		<comments>http://inoors.wordpress.com/2009/01/06/taliq-thalaq-dan-thalaq-langsung-thalaq-hukum-dan-konsekuensinya-3/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Jan 2009 08:41:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>inoors</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ruang Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Thalaq]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://inoors.wordpress.com/?p=284</guid>
		<description><![CDATA[D. TA’LIQ THALAQ DAN THALAQ LANGSUNG Thalaq dapat terjadi dengan cara diucapkan secara langsung, atau dengan digantungkan dengan suatu syarat atau disandarkan pada waktu yang akan datang : Ø Thalaq yang langsung jatuh, ialah thalaq yang diucapkan langsung tanpa ikatan syaratapapun dan tidak disandarkan pada waktu yang akan datang, misalnya suami yang mengatakan pada istrinya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=inoors.wordpress.com&amp;blog=3095047&amp;post=284&amp;subd=inoors&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;   &lt;![endif]--><!--[if !mso]&gt;--></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><a name="OLE_LINK2"></a><a name="OLE_LINK1"><span><!--[if !supportLists]--><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"><span>D.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong><!--[endif]--><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">TA’LIQ THALAQ DAN THALAQ LANGSUNG </span></strong></span></a></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:78pt;text-align:justify;"><span><span><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"> </span></strong></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Thalaq dapat terjadi dengan cara diucapkan secara langsung, atau <img class="alignright size-medium wp-image-289" title="broken-heart" src="http://inoors.files.wordpress.com/2008/12/broken-heart.jpg?w=225&#038;h=157" alt="broken-heart" width="225" height="157" />dengan digantungkan dengan suatu syarat atau disandarkan pada waktu yang akan datang<span> </span>:</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><span><span><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;font-family:Wingdings;" lang="IN"><span>Ø<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><strong><em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Thalaq yang langsung jatuh</span></em></strong></span></span><span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">, ialah thalaq yang diucapkan langsung tanpa ikatan syaratapapun dan tidak disandarkan pada waktu yang akan datang, misalnya suami yang mengatakan pada istrinya : “ engkau saya thalaq “, maka thalaqnya itu jatuh pada saat diucapkan</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><span><span><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;font-family:Wingdings;" lang="IN"><span>Ø<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><strong><em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Thalaq mu’allaq atau thalaq yang tergantung</span></em></strong></span></span><span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">, ialah thalaq yang diucapkan suami dengan suatu syarat, misalnya suami mengatakan kepada istrinya : “ kalau saya meninggalkan kamu sekian tahun, maka jatuh thalaq saya atas kamu “, maka thalaq tersebut akan jatuh/sah bila memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :<span id="more-284"></span></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><span><span><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;" lang="IN"><span>o<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Harus disandarkan pada sesuatu yang belum ada tetapi akan ada ( sebagaimana contoh diatas ). Apabila digantungkan atas sesuatu yang sudah ada, maka thalaqnya jatuh pada saat ta’liq diucapkan meskipun digantungkan pada sayarat tertentu, seperti “ apabila anak kita yang II<span> </span>lahir, kamu saya thalaq, padahal anak mereka telah lahir “</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><span><span><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;" lang="IN"><span>o<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Sewaktu ta’liq thalaq diucapkan, wanita yang akan dithalaq masih dalam ikatan pernikahan yang sah</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;"><span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:33pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><span><span><!--[if !supportLists]--><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"><span>1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong><!--[endif]--><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Ta’liq thalaq ada 2 ( dua ) macam</span></strong></span></span><span><span><em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"><span> </span></span></em></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><span><span><!--[if !supportLists]--><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"><span>a.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong><!--[endif]--><strong><em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Ta’liq Qosami / ta’liq sumpah</span></em></strong></span></span><span><span><em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">,</span></em></span></span><span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"> yaitu<span> </span>ta’liq yang maksudnya seperti sumpah untuk melakukan atau meninggalkan sesuatu, misalnya seorang suami mengatakan pada istrinya : “<span> </span>kalau kamu pergi, maka kamu saya thalaq “, maksud ucapan tersebut adalah melarang istrinya pergi dan bukan thalaq.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;"><span><span><em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Menurut Ibnu Taimiyyah dan Ibnu Qoyyim<span> </span>:</span></em></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;"><span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">1). Tidak jatuh thalaq, apabila sumpahnya tidak terjadi, dan suami <span> </span></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;"><span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"><span> </span>tersebut wajib membayar kafaroh</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;"><span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">2). Jatuh thalaq, apabila ta’liq / yang digantungkan tersebut terjadi </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><span><span><!--[if !supportLists]--><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"><span>b.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong><!--[endif]--><strong><em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Ta’liq syarthi</span></em></strong></span></span><span><span><em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">,</span></em></span></span><span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"> yaitu ta’liq yang maksudnya jatuhnya thalaq apabila syaratnya terpenuhi, misalnya suami berkata pada istrinya : “<span> </span>kalau saya tidak lulus ujian, engkau saya thalaq “.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;"><span><span><em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Thalaq seperti ini jatuh, menurut mayoritas Ulama’</span></em></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><span><strong><em><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"><span style="text-decoration:none;"> </span></span></span></em></strong></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:33pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><span><span><!--[if !supportLists]--><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"><span>2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong><!--[endif]--><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Bilangan thalaq </span></strong></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span><span><em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Thalaq itu tiga kali</span></em></span></span><span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">, dua kali ( yang I dan II ) dinamakan<strong><em> tholaq</em></strong> <strong><em>roj’i</em></strong><em> </em>( suami berhak untuk meruju’ kembali wanita mantan<span> </span>istrinya<em> )</em>, dan yang ketiga kali disebut <strong><em>thalaq</em></strong> <strong><em>bain</em> </strong>( suami tidak lagi berhak untuk meruju’ mantan istrinya kecuali dengan syarat-syarat tertentu ), berdasarkan firman Allah<span> </span>:<span dir="rtl"> </span></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:left;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl" align="right"><span><span><span style="font-size:10pt;" dir="ltr" lang="IN">Artinya <em>: “ Talak (yang dapat dirujuki) dua kali. setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma&#8217;ruf atau menceraikan dengan cara yang baik. tidak halal bagi kamu mengambil kembali sesuatu dari yang Telah kamu berikan kepada mereka, kecuali kalau keduanya khawatir tidak akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami isteri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, Maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh isteri untuk menebus dirinya. Itulah hukum-hukum Allah, Maka janganlah kamu melanggarnya. barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah mereka Itulah orang-orang yang zalim. Kemudian jika si suami mentalaknya (sesudah Talak yang kedua), Maka perempuan itu tidak lagi halal baginya hingga dia kawin dengan suami yang lain. Kemudian jika suami yang lain itu menceraikannya, Maka tidak ada dosa bagi keduanya (bekas suami pertama dan isteri) untuk kawin kembali jika keduanya berpendapat akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Itulah hukum hukum Allah, diterangkan-Nya kepada kaum yang (mau) Mengetahui. “</em></span></span></span><span><span><span style="font-size:10pt;" dir="ltr" lang="IN"> ( QS. 2 : 229-230 <span> </span></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Ayat tersebut menjelaskan bahwa thalaq itu tiga kali dan suami mempunyai hak meruju’ istrinya setelah thalaq pertama dan kedua</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:33pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><span><span><!--[if !supportLists]--><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"><span>3.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong><!--[endif]--><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Macam-macam thalaq :</span></strong></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:15pt;text-align:justify;"><span><span><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"> </span></strong></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><span><span><!--[if !supportLists]--><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"><span>a.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong><!--[endif]--><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Dilihat dari aspek bilangannya, thalaq dibagi menjadi :</span></strong></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:72pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><span><span><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"><span>1)<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><strong><em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Thalaq Roj’i</span></em></strong></span></span><span><span><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">,</span></strong></span></span><span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"> ialah tholaq yang sah dengan ketentuan suami </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:72pt;text-align:justify;"><span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">mempunyai hak untuk meruju’ istrinya ( yaitu thalaq yang dijatuhkan pada kali pertama dan kedua<span> </span>), berdasarkan firman Allah yang artinya :<span dir="rtl"> </span></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:72pt;text-align:justify;"><span><span><em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"><span> </span>“ Talak (yang dapat dirujuki) dua kali. setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma&#8217;ruf atau menceraikan dengan cara yang baik. “</span></em></span></span><span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"><span> </span>( QS. 2 : 229 )</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:72pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><span><span><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"><span>2)<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><strong><em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Thalaq Bain</span></em></strong></span></span><span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">, ialah thalaq yang sah, dimana suami tidak lagi mempunyai hak ruju’ kecuali dengan syarat tertentu.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:72pt;text-align:justify;"><span><span><strong><em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Thalaq bain ada dua macam :</span></em></strong></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:96pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><span><span><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"><span>a)<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><strong><em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Bain Shughro ( kecil ),</span></em></strong></span></span><span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"> ialah thalaq yang dengannya suami tidak boleh meruju’ wanita mantan istrinya kecuali, dengan akad baru dan mahar baru, seperti thalaq<span> </span>dengan keputusan hakim, thalaq yang berlangsung hingga habis masa ‘iddah ( 3 quru’ ), khulu’dan thalaq yang terjadi sebelum adanya hubungan suami istri, berdasarkan firman Allah yang artinya :</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:99pt;text-align:justify;"><span><span><span style="font-size:10pt;" lang="IN">Artinya : <em>“ Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu menikahi perempuan- perempuan yang beriman, Kemudian kamu ceraikan mereka sebelum kamu mencampurinya Maka sekali-sekali tidak wajib atas mereka &#8216;iddah bagimu yang kamu minta menyempurnakannya. Maka berilah mereka mut&#8217;ah, dan lepaskanlah mereka itu dengan cara yang sebaik- baiknya.<span> </span>“ </em></span></span></span><span><span><span style="font-size:10pt;" lang="IN">( QS. 33 : 49 )</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:99pt;text-align:justify;"><span><span><span style="font-size:10pt;" lang="IN">Artinya : <em>“<span> </span>Apabila mereka Telah mendekati akhir iddahnya, Maka rujukilah mereka dengan baik atau lepaskanlah mereka dengan baik<span> </span>“</em> ( QS. 65 : 2 )</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:96pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><span><span><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"><span>b)<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><strong><em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Bain Kubro ( besar ),</span></em></strong></span></span><span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"> ialah thalaq yang dengannya suami tidak berhak untuk meruju’ wanita mantan istrinya, kecuali wanita tersebut nikah lagi dengan laki-laki lain kemudian diceraikan ( yaitu thalaq yang dijatuhkan untuk yang ketiga kalinya ), berdasarkan firman Allah<span> </span>:</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:99pt;text-align:justify;"><span><span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">Artinya : <em>“Kemudian jika si suami mentalaknya (sesudah Talak yang kedua), Maka perempuan itu tidak lagi halal baginya hingga dia kawin dengan suami yang lain. Kemudian jika suami yang lain itu menceraikannya, Maka tidak ada dosa bagi keduanya (bekas suami pertama dan isteri) untuk kawin kembali jika keduanya berpendapat akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Itulah hukum-hukum Allah, diterangkan-Nya kepada kaum yang (mau) Mengetahui. “ </em></span></span></span><span><span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">( QS. 2 : 230 )</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:72pt;text-align:justify;"><span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><span><span><!--[if !supportLists]--><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"><span>b.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong><!--[endif]--><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Dilihat dari aspek hukumnya, thalaq dibagi menjadi :</span></strong></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:72pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><span><span><!--[if !supportLists]--><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"><span>1)<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong><!--[endif]--><strong><em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Thalaq Sunnah</span></em></strong></span></span><span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">, yaitu thalaq yang jatuh menurut ketentuan syar’i berikut .</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:90pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><span><span><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"><span>a)<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Thalaq tersebut dilakukan karena alasan syar’i</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:90pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><span><span><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"><span>b)<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Thalaq tersebut dilakukan dalam keadaan istri suci dan belum dicampuri</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:90pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><span><span><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"><span>c)<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Thalaq tersebut dilakukan dengan berurutan ( pertama, kedua dan ketiga )</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:72pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><span><span><!--[if !supportLists]--><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"><span>2)<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong><!--[endif]--><strong><em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Thalaq Bid’ah</span></em></strong></span></span><span><span><em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">,</span></em></span></span><span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"> yaitu thalaq yang bertentangan dengan syara’, seperti menthalaq istri tiga kali sekaligus, atau menthalaq istri dalam keadaan haidh atau menthalaq istri dalam keadaan suci yang telah dicampurinya</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;"><span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><span><span><!--[if !supportLists]--><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"><span>c.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong><!--[endif]--><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Dilihat dari aspek lafadz yang dipakai, thalaq dibagi menjadi :</span></strong></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:72pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><span><span><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"><span>1)<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><strong><em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Thalaq Sharih</span></em></strong></span></span><span><span><em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">,</span></em></span></span><span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"> ialah thalaq dengan lafadz yang jelas menunjukkan arti cerai</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:72pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><span><span><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"><span>2)<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><strong><em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Thalaq dengan kinayah</span></em></strong></span></span><span><span><em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">,</span></em></span></span><span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"> ialah thalaq yang dilakukan dengan lafadz sindiran</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><span><strong><em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"> </span></em></strong></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:33pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><span><span><!--[if !supportLists]--><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"><span>4.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong><!--[endif]--><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Masalah Thalaq Tiga pada satu waktu </span></strong></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:15pt;text-align:justify;"><span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Para ulama’ sependapat tentang haramnya thalaq tiga yang dijatuhkan sekaligus, namun mereka berbeda pendapat apakah thalaq dengan cara tersebut jatuh atau tidak ? dan kalau jatuh thalaq, apakah dianggap satu thalaq atau tiga thalaq ?</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span><span><strong><em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Jumhur ulama’</span></em></strong></span></span><span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"> berpendapat bahwa thalaq tersebut jatuh, namun mereka berbeda pendapat, apakah jatuh ketiga-tiganya atau jatuh satu thalaq<span> </span>?<span> </span>:</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><span><span><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"><span>a.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Ulama’ yang berpendapat bawa thalaqnya jatuh ketiga-tiganya, </span></strong></span></span><span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">berpegang pada beberapa dalil, diantaranya :</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:right;" align="right"><span><span><span style="font-size:16pt;font-family:Arial;" dir="rtl" lang="AR-SA">عن عبادة بن الصامت<span> </span>قال :<span> </span>طلق جدي امرأة<span> </span>له<span> </span>ألف<span> </span>تطليقة<span> </span>فانطلق<span> </span>الي رسول الله صلي الله عليه و سلم فذكر له ذلك فقال النبي صلي الله عليه و سلم : ما اتقي الله جدك، أما ثلاث<span> </span>فله<span> </span>و أما<span> </span>تسعمائة<span> </span>و سبع و تسعون فعدوان و ظلم ان شاء الله عذبه و ان شاء غفر له<span> </span></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;"><span><span><span style="font-size:10pt;" lang="IN">Artinya : <em>“ Dari ‘Ubadah bin Shamit, ia berkata : kakek saya menceraikan istrinya dengan seribu thalaq, kemudian ia menghadap Rasulullah saw<span> </span>untuk mengadukan hal itu, beliau Rasulullah saw bersabda : kakekmu itu tidak takut kepada Allah, tiga thalaq tersebut adalah haknya sedang yang sembilan ratus sembilan puluh tujuh adalah permusuhan dan aniaya, kalau Allah kehendaki Ia akan mengadzabnya dan kalau mau<span> </span>Ia akan memaafkannya “</em> ( HR. Abdur Rozaq )</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><span><span><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"><span>b.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Sedang Ulama yang berpendapat bahwa thalaq tersebut dianggap sebagai satu thalaq</span></strong></span></span><span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">, berpegang pada beberapa dalil, diantaranya :</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:right;" align="right"><span><span><span style="font-size:16pt;font-family:Arial;" dir="rtl" lang="AR-SA">ان أبا الصحباء قال لابن عباس : ألم تعلم أن الثلاث كانت تجعل واحدة في عهد رسول الله صلي الله عليه و سلم و أبو بكر و صدرا من خلافة عمر؟ قال : نعم</span></span></span><span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="AR-SA"> </span></span></span><span><span><span style="font-size:16pt;font-family:Arial;" lang="IN"><span> </span></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;"><span><span><span style="font-size:10pt;" lang="IN">Artinya : <em>“ Bahwasanya Abu Shahba’ berkata kepada Ibnu ‘Abbas : Apakah engkau tidak tahu kalau thalaq tiga itu dianggap satu thalaq di masa Rasulullah saw, di masa Abu Bakar dan di masa Umar ?<span> </span>Ibnu ‘Abbas menjawab : ya, saya tahu “</em> ( HR. Muslim)</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;"><span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Rasulullah saw bersabda kepada Rukanah yang telah menceraikan istrinya tiga kali dalam satu tempat :</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:right;" align="right"><span><span><span style="font-size:16pt;font-family:Arial;" dir="rtl" lang="AR-SA">فانما تلك<span> </span>واحدة فارجعها ان شئت، فراجعها</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;"><span><span><span style="font-size:10pt;" lang="IN">Artinya : <em>“ Thalaq tersebut adalah thalaq satu, ruju’lah kalau engkau mau, kemudian ia ( Rukanah ) meruju’nya “</em> ( HR. Ahmad dan Abu Daud )</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;"><span><span><span style="font-size:10pt;" lang="IN"> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:33pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><span><span><!--[if !supportLists]--><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"><span>5.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong><!--[endif]--><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Thalaq dengan keputusan Hakim</span></strong></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"><span> </span></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Imam Malik, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad berpendapat bahwa suami istri dapat diceraikan dengan keputusan hakim, karena beberapa alasan, diantaranya :</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><span><span><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"><span>a.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Istri tidak diberi nafkah</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><span><span><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"><span>b.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Untuk menghindari bahaya karena perlakuan dholim suami</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><span><span><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"><span>c.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Karena ditinggal suami dengan 3 syarat :</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:72pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><span><span><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"><span>1)<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Kepergian suami tanpa ada alasan syar’i</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:72pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><span><span><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"><span>2)<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Sudah lewat satu tahun</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:72pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><span><span><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"><span>3)<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Istri merasa tidak aman dengan kepergian suami</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><span><span><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"><span>d.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Syiqoq, yaitu ketika terjadi sengketa antara suami istri yang sulit untuk didamaikan</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><span><span><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"><span>e.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Karena suami menjadi narapidana</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span><strong> </strong></span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span><strong> </strong></span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span><strong> </strong></span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span><strong>Ditulis Oleh : Ust. H. Agung<br />
Cahyadi, MA. (Materi<br />
dalam program Islamic Short Course Menengah, Pusda YDSF 2008)</strong></span></span>
</p>
<p class="MsoNormal"><strong> </strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong> </strong></p>
<br />Posted in Ruang Keluarga  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/inoors.wordpress.com/284/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/inoors.wordpress.com/284/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/inoors.wordpress.com/284/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/inoors.wordpress.com/284/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/inoors.wordpress.com/284/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/inoors.wordpress.com/284/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/inoors.wordpress.com/284/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/inoors.wordpress.com/284/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/inoors.wordpress.com/284/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/inoors.wordpress.com/284/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/inoors.wordpress.com/284/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/inoors.wordpress.com/284/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/inoors.wordpress.com/284/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/inoors.wordpress.com/284/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=inoors.wordpress.com&amp;blog=3095047&amp;post=284&amp;subd=inoors&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://inoors.wordpress.com/2009/01/06/taliq-thalaq-dan-thalaq-langsung-thalaq-hukum-dan-konsekuensinya-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3ff52b0a48e65b4e1150dd0ed13db5d3?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">inoors</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://inoors.files.wordpress.com/2008/12/broken-heart.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">broken-heart</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Thalaq (Thalaq, Hukum dan Konsekuensinya 2)</title>
		<link>http://inoors.wordpress.com/2009/01/01/276/</link>
		<comments>http://inoors.wordpress.com/2009/01/01/276/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Jan 2009 07:49:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>inoors</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ruang Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Thalaq]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://inoors.wordpress.com/2008/12/24/276/</guid>
		<description><![CDATA[C. THALAQ Thalaq ialah lepasnya ikatan pernikahan dengan lafadz khusus, yang merupakan hak suami dan apabila telah terjadi tidak lagi dapat dibatalkan kembali, sebagaimana sabda Rasulullah saw : لا قيلولة في الطلاق Artinya : “ Tidak ada pembatalan dalam thalaq “ ( HR. Al-‘Uqhaili &#62; Nailul Authar VI/238 ) 1. Rukun thalaq a. Al- Muthalliq/pelaku [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=inoors.wordpress.com&amp;blog=3095047&amp;post=276&amp;subd=inoors&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;   &lt;![endif]--><!--[if !mso]&gt;--></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"><span>C.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong><!--[endif]--><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">THALAQ</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><strong><em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"> </span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><strong><em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"><img class="alignleft size-medium wp-image-291" title="16174" src="http://inoors.files.wordpress.com/2009/01/16174.jpg?w=190&#038;h=196" alt="16174" width="190" height="196" />Thalaq</span></em></strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"> ialah lepasnya ikatan pernikahan dengan lafadz khusus, yang merupakan hak suami dan apabila telah terjadi tidak lagi dapat dibatalkan kembali, sebagaimana sabda Rasulullah saw : </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:right;" align="right"><span style="font-size:16pt;font-family:Arial;" dir="rtl" lang="AR-SA">لا<span> </span>قيلولة في الطلاق</span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" dir="rtl" lang="AR-SA"><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;" lang="IN">Artinya : <em>“ Tidak ada pembatalan dalam thalaq “</em> ( HR. Al-‘Uqhaili &gt; Nailul Authar VI/238 )<span id="more-276"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"><span>1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong><!--[endif]--><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Rukun thalaq </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"><span>a.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong><!--[endif]--><strong><em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Al- Muthalliq/pelaku thalaq<span> </span></span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Dengan syarat sebagai berikut :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:72pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"><span>1)<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Suami mukallaf ( baligh dan berakal )</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:72pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"><span>2)<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Atas kehendak sendiri/tidak terpaksa</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"><span>b.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong><!--[endif]--><strong><em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Thalaq karena marah </span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Seorang yang sangat marah sehingga tidak menyadari apa yang diucapkannya , maka thalaqnya tidak sah, berdasarkan sabda Rasulullah saw :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:right;" align="right"><span style="font-size:16pt;font-family:Arial;" dir="rtl" lang="AR-SA">لا طلاق في</span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" dir="rtl" lang="AR-SA"> </span><span style="font-size:16pt;font-family:Arial;" dir="rtl" lang="AR-SA">اغلاق</span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" dir="rtl" lang="AR-SA"> <span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;" lang="IN">Artinya : <em>“ Tidak sah thalaq dalam keadaan marah “</em>( HR. Abu Daud, Ahmad dan Ibnu Majah )</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"><span>c.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong><!--[endif]--><strong><em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Thalaq karena gila</span></em></strong><em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Orang yang gila sebagaimana juga orang yang marah ( seperti pada poin I ), thalaqnya tidak sah, sabda Rasulullah saw :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:right;" align="right"><span style="font-size:16pt;font-family:Arial;" dir="rtl" lang="AR-SA">رفع القلم عن ثلاثة :<span> </span>عن الصبي حتي<span> </span>يحتلم<span> </span>و عن النائم حتي<span> </span>يستيقظ<span> </span>و عن المجنون حتي يفيق<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;" lang="IN">Artinya : <em>“<span> </span>Dimaafkan atas ummatku tiga orang :<span> </span>Seorang bayi hingga baligh, dan seorang yang tidur hingga ia bangun dan orang yang gila hingga ia sadar “<span> </span></em>( Ahmad, Abu Daud, Hakim dan yang lainnya ) </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"><span>d.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong><!--[endif]--><strong><em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Thalaq karena mabuk </span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Thalaq yang diucapkan seorang yang mabuk yang tidak menyadari apa yang diucapkanya, ada dua kondisi ;<span> </span>&gt;<span> </span>apabila mabuknya terjadi dengan cara yang haram ( dengan kesadaran dan kemauan sendiri ) , maka thalaqnya jatuh./.sah<span> </span>(<span> </span>menurut mayoritas ulama’ kecuali Hanabilah<span> </span>), &gt;. &gt;<span> </span>namun apabila mabuknya tersebut terjadi dengan cara yang tidak haram ( misalnya, karena terpaksa ) maka thalaqnya tidak sah</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"><span>e.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong><!--[endif]--><strong><em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Thalaq karena terpaksa</span></em></strong><em></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Orang yang dipaksa ( tidak punya keinginan dan tidak punya pilihan ) untuk menceraikan istrinya , maka thalaqnya tidak sah, dengan dalil sebagai berikut </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;" lang="IN">Artinya : <em>“ Kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman<span> </span>( Dia tidak berdosa ) “</em> ( QS. 16 : 106 )</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Rasulullah saw bersabda : </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:27pt;text-align:right;" align="right"><span style="font-size:16pt;font-family:Arial;" dir="rtl" lang="AR-SA">رفع عن أمتي الخطأ و النسيان<span> </span>و ما استكرهوا عليه<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;" lang="IN">Artinya : <em>“ Dimaafkan atas ummatku kekeliruan, lupa dan karena terpaksa “ </em></span><em><span style="font-size:10pt;" dir="rtl" lang="AR-SA"><span> </span></span></em><span style="font-size:10pt;" lang="IN">( HR. Ibnu Majah, Ibnu Hibban, Daru Quthni dan Hakim )</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"><span>2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Al-Qhasdu /atas dasar kesadaran </span></strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"><span>a.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><strong><em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Thalaq dengan bergurau;</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"><span>b.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Thalaq yang diucapkan dengan bergurau atau main-main dianggap jatuh/sah, sesuai dengan sabda Rasulullah saw :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:right;" align="right"><span style="font-size:16pt;font-family:Arial;" dir="rtl" lang="AR-SA">ثلاث جدهن جد<span> </span>و هزلهن جد :<span> </span>النكاح<span> </span>و الطلاق<span> </span>و الرجعة</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;" lang="IN">Artinya : <em>“ Tiga perkara yang apabila dilakukan dengan sungguh-sungguh dianggap sah, dan apabila dilakukan dengan bergurau juga dianggap sah, yaitu</em> : <em>nikah,</em> <em><span> </span>thalaq dan ruju’ “</em> ( HR. Tirmidzi )</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><strong><em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"><span>c.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></em></strong><!--[endif]--><strong><em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Thalaq karena keliru</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Thalaq yang dilakukan karena keliru, dengan tidak disengaja untuk diucapkan., hukumnya sebagai berikut :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:72pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"><span>1)<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Menurut Syafi’iyyah, </span></strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">tidak sah<strong></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:72pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"><span>2)<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Menurut Mayoritas Ulama’</span></strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"> : thalaqnya jatuh demi hukum, sedang menurut agama ( hubungan antara pelaku dengan Allah ) tidak jatuh thalaqnya, sehingga istrinya tetap halal</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><strong><em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"><span>d.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></em></strong><!--[endif]--><strong><em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Perbedaan antara bergurau dan keliru </span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Kalau <em>“ bergurau “</em> ada unsur kesengajaan dan kesadaran, namun<span> </span><em>“ keliru “<span> </span></em>tidak ada unsur kesengajaan dan kesadaran</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"><span>3.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></em><!--[endif]--><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Mahallutthalaq/obyek thalaq ( istri ) </span></strong><em></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Thalak yang dijatuhkan atas seorang wanita, tidak dianggap sah kecuali apabila memenuhi beberapa syarat berikut :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;font-family:Wingdings;" lang="IN"><span>Ø<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Ada ikatan pernikahan yang sah</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;font-family:Wingdings;" lang="IN"><span>Ø<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Masih dalam masa ‘iddah dari thalaq roj’i, karena wanita tersebut masih dalam ikatan pernikahan sampai habis masa ‘iddahnya</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"><span>4.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong><!--[endif]--><strong><em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Shighoh/bentuk lafadh yang dipakai </span></em></strong><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Thalaq dapat jatuh dengan segala macam cara yang menunjukkan berakhirnya hubungan pernikahan, baik dengan ucapan, tulisan, isyarat atau dengan utusan, dengan syarat-syarat sebagai berikut :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;font-family:Wingdings;" lang="IN"><span>F<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Memakai lafadh yang menunjukkan arti cerai secara bahasa atau kebiasaan, baik dengan ucapan, tulisan atau isyarat</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;font-family:Wingdings;" lang="IN"><span>F<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Al-Muthalliq/pelaku thalaq memahami artinya meskipun dengan bahasa asing</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;font-family:Wingdings;" lang="IN"><span>F<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Ditujukan kepada istri yang sah</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><strong><em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"><span>a.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></em></strong><!--[endif]--><strong><em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Thalaq dengan ucapan </span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Ucapan yang dipakai dalam thalaq ada dua macam ; <strong>Sharih</strong> ( tegas ) atau <strong>Kinayah</strong> ( sindiran )</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:72pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"><span>1)<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><strong><em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Ucapan sharih</span></em></strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"> ialah dengan memakai kata-kata yang dapat difahami maknanya dengan jelas, seperti : kamu saya cerai, saya thalaq atau dengan kata lain yang menunjukkan arti thalaq</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:72pt;text-align:justify;"><em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Thalaq</span></em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"> dengan kata-kata yang sharih/jelas mengakibatkan jatuhnya thalaq meskipun dengan senda gurau</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:72pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"><span>2)<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><strong><em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Kinayah atau sindiran</span></em></strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"> harus mengandung makna cerai, misalnya “ ilhaqi biahliki “/ kembalilah kepada keluargamu, atau<span> </span>“ Amruki biyadiki “ /urusanmu ditanganmu, kata tersebut mengandung makna pemberian hak dan kebebasan untuk menentukan pilihan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:72pt;text-align:justify;"><em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Thalaq</span></em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"> dengan kinayah tidak mengakibatkan sahnya thalaq kecuali dengan <strong><em>niat</em> </strong><span> </span></span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" dir="rtl" lang="AR-SA"><span> </span></span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">( niat untuk menceraikan )</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:60pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><strong><em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"><span>b.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></em></strong><!--[endif]--><strong><em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Thalaq dengan tulisan</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Thalaq dengan tulisan dapat dianggap jatuh/sah, meskipun suami yang menulis dapat berbicara/tidak bisu, dengan syarat : tulisannya <strong><em>jelas</em></strong> dan <strong><em>tertentu</em></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;"><strong><em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Jelas</span></em></strong><em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"> </span></em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">artinya dapat dibaca, misalnya dalam lembaran kertas dengan huruf yang dapat dibaca</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;"><strong><em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Tertentu</span></em></strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"> artinya ditujukan kepada istrinya, misalnya : wahai istriku, engkau saya ceraikan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Apabila tulisan tersebut tidak menunjukkan alamat yang jelas, maka tidak jatuh thalaq kecuali dengan niat thalaq, misalnya : istriku saya ceraikan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><strong><em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"><span>c.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></em></strong><!--[endif]--><strong><em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Thalaq dengan isyarat </span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Bagi orang yang bisu, isyarat merupakan bahasa komunikasi, yang karenanya kberkedudukan sama dengan ucapan orang tidak bisu dalam menjatuhkan thalaq, apabila isyarat tersebut dimaksudkan untuk mengakhiri ikatan pernikahan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><strong><em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"><span>d.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></em></strong><!--[endif]--><strong><em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Thalaq dengan mengirim utusan </span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Apabila thalaq dapat jatuh dengan ucapan atau dengan tulisan bahkan dengan isyarat, maka thalaq juga sah disampaikan oleh seorang utusan yang diutus seorang laki-laki untuk menyampaikan kepada istrinya, bahwa ia diceraikan oleh suaminya</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><em><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">CATATAN</span></span></em></strong><strong><em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"> :</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><strong><em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"><span>a.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></em></strong><!--[endif]--><strong><em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Suami yang mengharamkan istri </span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Apabila seorang suami mengatakan kepada istrinya : “ engkau haram bagiku “, apakah ucapan semacam itu dianggap thalaq atau bukan ?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;"><strong><em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Disini ada dua kemungkinan ;</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:72pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"><span>1)<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Apabila ucapan tersebut dimaksudkan hanya semata-mata ia tidak akan mencapuri istrinya, maka tidak menyebabkan jatuhnya thalaq, tetapi ia wajib membayar kafaroh yamin/sumpah, sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu ‘Abbas<span> </span>: </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:72pt;text-align:right;" align="right"><span style="font-size:16pt;font-family:Arial;" dir="rtl" lang="AR-SA">اذا حرم الرجل امرأته فهي يمين يكفرها<span> </span>ثم قال : لقد كان لكم في رسول الله صلي الله عليه و سلم<span> </span>أسوة حسنة</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:72pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;" lang="IN">Artinya : <em>“ Apabila seorang suami mengharamkan dirinya atas istrinya, maka hal tersebut termasuk sumpah yang harus ditebus dengan kafaroh, kemudian beliau berkata , sungguh telah ada contoh yang baik bagimu dalam diri Rasulullah saw “</em> ( HR. Muslim )</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:72pt;text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">‘Aisyah berkata :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:72pt;text-align:right;" align="right"><span style="font-size:16pt;font-family:Arial;" dir="rtl" lang="AR-SA">آلي رسول الله صلي الله عليه و سلم من نسائه<span> </span>و حرم<span> </span>فجعل الحرام حلالا و جعل في اليمين<span> </span>الكفارة<span> </span></span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" dir="rtl" lang="AR-SA"><span> </span><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:72pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;" lang="IN">Artinya : <em>“ Rasulullah saw pernah meng-iila’ istrinya dan mengharamkan<span> </span>( berhubungan dengan istrinya ), kemudian yang haram itu dijadikan halal dan sumpah tersebut ditebusnya dengan kafaroh “ </em>( HR. Tirmidzi )</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:72pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">2). Apabila ucapan tersebut dimaksudkan untuk menceraikan istrinya dengan menggunakan lafadh “ tahrim/pengharaman “, maka hal tersebut menyebabkan jatuhnya thalaq, karena kata “ pengharaman : itu kinayah thalaq</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><strong><em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"><span>b.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></em></strong><!--[endif]--><strong><em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Menebus sumpah thalaq<span> </span></span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Barang siapa yang bersumpah akan menthalaq istrinya dan kemudian sumpahnya ia langgar, maka ia hanya wajib membayar kafaroh dan tidak perlu menjatuhkan thalaq </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><strong><em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"><span>c.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></em></strong><!--[endif]--><strong><em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Saksi dalam thalaq </span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Mayoritas Ulama’ berpendapat bahwa thalaq dapat jatuh tanpa adanya saksi, karena thalaq adalah hak suami, Allah berfirman yang artinya :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;" lang="IN">Artinya : <em>“ Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu menikahi perempuan- perempuan yang beriman, Kemudian kamu ceraikan mereka<span> </span>.“<span> </span></em></span><span style="font-size:10pt;" lang="IN">( QS. 33 : 49 )</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong> </strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong> </strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong> </strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong> </strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong>Ditulis Oleh : Ust. H. Agung<br />
Cahyadi, MA. (Materi<br />
dalam program Islamic Short Course Menengah, Pusda YDSF 2008)</strong>
</p>
<p class="MsoNormal"><strong> </strong></p>
<br />Posted in Ruang Keluarga  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/inoors.wordpress.com/276/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/inoors.wordpress.com/276/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/inoors.wordpress.com/276/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/inoors.wordpress.com/276/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/inoors.wordpress.com/276/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/inoors.wordpress.com/276/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/inoors.wordpress.com/276/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/inoors.wordpress.com/276/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/inoors.wordpress.com/276/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/inoors.wordpress.com/276/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/inoors.wordpress.com/276/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/inoors.wordpress.com/276/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/inoors.wordpress.com/276/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/inoors.wordpress.com/276/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=inoors.wordpress.com&amp;blog=3095047&amp;post=276&amp;subd=inoors&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://inoors.wordpress.com/2009/01/01/276/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3ff52b0a48e65b4e1150dd0ed13db5d3?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">inoors</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://inoors.files.wordpress.com/2009/01/16174.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">16174</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Perselisihan Suami Istri (Thalaq, Hukum dan Konsekuensinya 1)</title>
		<link>http://inoors.wordpress.com/2008/12/24/perselisihan-suami-istri-talak-hukum-dan-konsekuensinya-1/</link>
		<comments>http://inoors.wordpress.com/2008/12/24/perselisihan-suami-istri-talak-hukum-dan-konsekuensinya-1/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Dec 2008 07:06:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>inoors</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ruang Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Thalaq]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://inoors.wordpress.com/?p=267</guid>
		<description><![CDATA[A. PERSELISIHAN SUAMI &#38; ISTRI DAN TERAPI NUSYUZ Perselisihan suami dan istri Perselisihan antara suami dan istri adalah masalah yang bisa terjadi pada sebuah keluarga siapapun, dan Islam mengakui kemungkinan terjadinya hal tersebut dan untuk itu Islam telah mengajarkan kepada kita langkah-langkah antisipasi yang seharusnya ditempuh bagi upaya perbaikan. Oleh karena suami adalah pemimpin dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=inoors.wordpress.com&amp;blog=3095047&amp;post=267&amp;subd=inoors&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><strong></strong></p>
<p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;   &lt;![endif]--><!--[if !mso]&gt;--></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;"><a name="OLE_LINK2"></a><a name="OLE_LINK1"><span><!--[if !supportLists]--><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"><span>A.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong><!--[endif]--><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">PERSELISIHAN SUAMI &amp; ISTRI DAN TERAPI NUSYUZ<span> </span></span></strong></span></a></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:153pt;"><span><span><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"> </span></strong></span></span></p>
<ol style="margin-top:0;" type="1">
<li class="MsoNormal"><span><span><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Perselisihan      suami dan istri<span> <img class="alignright size-medium wp-image-273" title="broken-home-joint-custodys600x6001" src="http://inoors.files.wordpress.com/2008/12/broken-home-joint-custodys600x6001.jpg?w=237&#038;h=177" alt="broken-home-joint-custodys600x6001" width="237" height="177" /></span></span></strong></span></span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Perselisihan antara suami dan istri adalah masalah yang bisa terjadi pada sebuah keluarga siapapun, dan Islam mengakui kemungkinan terjadinya hal tersebut dan untuk itu Islam telah mengajarkan kepada kita langkah-langkah antisipasi yang seharusnya ditempuh bagi upaya perbaikan.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Oleh karena suami adalah pemimpin dan penanggung jawab dalam rumah tangga, maka ia menjadi orang yang paling bertanggung jawab untuk ber-inisiatif<span> </span>mencari solusi dari perselisihan yang terjadi<span id="more-267"></span></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Dan tegaknya komunikasi/musyawaroh antara suami dan istri, menjadi kata kunci bagi upaya mencari solusi tersebut. Rasulullah saw bersabda kepada istrinya ‘Aisyah : </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:right;" align="right"><span><span><span style="font-size:16pt;font-family:Arial;" dir="rtl" lang="AR-SA">اني لأعلم اذا كنت عني راضية<span> </span>و اذا كنت علي غضبي &#8230; أما اذا كنت عني راضية تقولين : لا<span> </span>ورب محمد،<span> </span>و اذا كنت علي غضبي<span> </span>قلت :<span> </span>لا<span> </span>و رب ابراهيم<span> </span>فقالت :<span> </span>أجل</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span><span><span style="font-size:10pt;" lang="IN">Artinya : <em>“ Sungguh saya mengetahui dan hafal ya ‘Aisyah, kapan engkau rela padaku dan kapan engkau marah, adapun ketika engkau rela padaku, engkau akan mengatakan ( dalam sumpahmu ) “ tidak, demi Robb Muhammad “, namun bila engkau marah, engkau akan mengatakan “ tidak, demi Robb Ibrahim “, maka ‘Aisyahpun<span> </span>menjawab “ benar ya Rasulullah “</em> ( HR. Bukhori dan Muslim )</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"> </span></span></span></p>
<ol style="margin-top:0;" type="1">
<li class="MsoNormal"><span><span><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Terapi      Nusyuz<em></em></span></strong></span></span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span><span><strong><em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"><span> </span>Nusyuz</span></em></strong></span></span><span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"> adalah sebuah kemaksiatan, yaitu tidak dilaksanakannya kewajiban suami istri, baik dilakukan oleh suami, seperti suami yang berlaku kasar atau tidak memberikan nafkah kepada istri, atau dilakukan oleh seorang istri, seperti istri yang keluar rumah dengan tidak mendapatkan izin dari suami, istri yang tidak mau melayani suami </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><span><span><!--[if !supportLists]--><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"><span>a.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong><!--[endif]--><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Apabila nusyuz terjadi dari fihak istri</span></strong></span></span><span><span><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">,</span></strong></span></span><span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"> misalnya istri tidak taat kepada suami, maka ada tiga langkah yang seyogyanya ditempuh oleh seorang suami dalam rangka untuk melakukan perbaikan, sebagaimana firman Allah :</span></span></span><span><span><span style="font-size:14pt;font-family:Arial;" dir="rtl" lang="IN"> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;"><span><span><span style="font-size:10pt;" lang="IN">Artinya :<em>“<span> </span>Maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh Karena Allah Telah memelihara (mereka). wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, Maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, Maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha besar. “ </em>( QS. 4 : 34 )</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;"><span><span><strong><em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Ketiga langkah tersebut, sebagaimana dijelaskan dalam ayat diatas adalah sebagai berikut<span> </span>:</span></em></strong></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:72pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><span><span><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"><span>1)<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><strong><em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Memberikan nasihat</span></em></strong></span></span><span><span><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">,</span></strong></span></span><span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"> apabila istri durhaka, maka suami tidak boleh dengan terburu-buru menghukumnya atau menyakitinya atau menceraikannya, ia berkewajiban untuk menasehatinya dengan baik terlebih dahulu, misalnya<span> </span>dengan mengingatkannya<span> </span>akibat nusyuz di dunia dan akhirat</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:72pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><span><span><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"><span>2)<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><strong><em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Memutuskan hubungan baik</span></em></strong></span></span><span><span><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">,</span></strong></span></span><span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"> apabila nasihat – seperti pada poin pertama – belum bermanfaat bagi upaya perbaikan istri, maka suami menempuh<span> </span>langkah kedua, dengan memutuskan hubungan baik, misalnya berpisah ranjang, tidak makan bersama ( dengan batasan waktu sesuai dengan kebutuhan ), mendiamkannya dengan tidak bercakap-cakap dengannya /dengan batasan waktu maksimal tiga hari </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:72pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><span><span><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"><span>3)<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><strong><em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Memukulnya</span></em></strong></span></span><span><span><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">,</span></strong></span></span><span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"> apabila langkah kedua belum juga bermanfaat, maka suami diperkenankan menempuh langkah ketiga, dengan memukulnya dengan pukulan yang tidak menyaktinya</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><span><span><!--[if !supportLists]--><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"><span>b.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong><!--[endif]--><strong><em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Apabila nusyuz terjadi dari suami,</span></em></strong></span></span><span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"> maka fihak istrilah yang harus berinisiatif untuk melakukan perbaikan, misalnya dengan mengajak damai, meskipun ia harus merelakan untuk melepaskan sebagian haknya ( seperti yang dilakukan oleh Saudah binti Zum’ah ), langkah tersebut sebagaimana diisyaratkan oleh Allah dalam firmannya : </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;"><span><span><span style="font-size:10pt;" lang="IN">Artinya : <em>“<span> </span>Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz atau sikap tidak acuh dari suaminya, Maka tidak Mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya, dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka) walaupun manusia itu menurut tabiatnya kikir, dan jika kamu bergaul dengan isterimu secara baik dan memelihara dirimu ( dari nusyuz dan sikap tak acuh ), Maka Sesungguhnya Allah adalah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. </em>( QS. 4 : 128<span> </span>)<em></em></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><span><span><!--[if !supportLists]--><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"><span>c.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong><!--[endif]--><strong><em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Apabila upaya perbaikan dari kedua belah fihak ( suami istri ) belum juga<span> </span>memberikan manfaat dan keduanya tetap pada apa yang telah dilakukan ( nusyuz )</span></em></strong></span></span><span><span><em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">,</span></em></span></span><span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"> maka dalam kondisi tersebut diperlukan kehadiran fihak ketiga/eksternal untuk mengambil langkah perbaikan, itulah langkah antisipasi yang di isyaratkan Allah dalam firmannya :</span></span></span><span><span><span style="font-size:14pt;font-family:Arial;" dir="rtl" lang="IN"> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;"><span><span><span style="font-size:10pt;" lang="IN">Artinya : <em>“<span> </span>Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, Maka kirimlah seorang hakam ( juru pendamai ) dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan. jika kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami-isteri itu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal. “<span> </span></em>( QS. 4 : 35 )</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;"><span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Demikianlah Islam mengajarkan kepada kita, agar perselisihan antara suami istri &#8211; yang memang bisa terjadi pada keluarga siapapun juga – diupayakan<span> </span>secara optimal untuk diperbaiki, demi menjaga kedamaian keluarga yang merupakan tujuan dari sebuah pernikahan dalam Islam ( QS. 30 : 21 ), Rasulullah saw bersabda<span> </span>: </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:right;" align="right"><span><span><span style="font-size:16pt;font-family:Arial;" dir="rtl" lang="AR-SA">ألا أخبركم بأفضل من درجة الصلاة<span> </span>و الصيام<span> </span>و الصدقة ؟ قالوا : بلي يا رسول الله، قال : &#8221; صلاح ذات البين<span> </span>فان فساد ذات البين هي الحالقة لا أقول تحلق الشعر و لكن تحلق الدين &#8220;</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;"><span><span><span style="font-size:10pt;" lang="IN">Artinya : <em>“ Tidakkah aku beritahukan kepada kalian tentang sesuatu yang lebih utama derajatnya dari pada sholat, puasa dan shodaqoh ? para shahabat menjawab : tentu kami mau ya Rasulullah, Rasulullah saw bersabda : baiknya hubungan suami istri, karena sesungguhnya rusaknya hubungan suami istri itu <span style="text-decoration:underline;">Pemangkas</span>, saya tidak bermaksud memangkas rambut akan tetapi memangkas agama “<span> </span></em>( HR. Tirmidzi )</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;"><span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Adapun apabila segala upaya perbaikan bagi terwujudnya kembali “ kehidupan yang damai dan tentram<span> </span>antara suami dan istri “ dengan nasihat, pemutusan hubungan, pemukulan, perdamaian dan yang lainnya tidak juga berhasil, maka berpisah ( thalaq ) adalah jalan yang terbaik sebagai alternatif yang terakhir, meskipun hal tersebut<span> </span>tidak disukai oleh Allah swt, sebagaimana sabda Rasulullah saw :</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;" align="right"><span><span><span style="font-size:16pt;font-family:Arial;" dir="rtl" lang="AR-SA">أبغض الحلال الي الله الطلاق</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;"><span><span><span style="font-size:10pt;" lang="IN">Artinya : <em>“ Halal yang paling dibenci oleh Allah ialah thalaq “</em> ( HR. Abu Daud, Ibnu Majah dan Hakim )</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><span><span><!--[if !supportLists]--><strong><em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"><span>B.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></em></strong><!--[endif]--><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">FURQOH<em></em></span></strong></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><span><strong><em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"><span> </span></span></em></strong></span></span></p>
<ol style="margin-top:0;" type="1">
<li class="MsoNormal"><span><span><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Ma’na      Furqoh </span></strong></span></span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span><span><strong><em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Furqoh</span></em></strong></span></span><span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"> artinya lepasnya akad/ikatan pernikahan dan terputusnya hubungan suami istri.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Furqoh ada 2 macam :</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><span><span><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"><span>a.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Furqoh karena fasakh</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><span><span><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"><span>b.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Furqoh karena thalaq</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:42pt;text-align:justify;"><span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"> </span></span></span></p>
<ol style="margin-top:0;" type="1">
<li class="MsoNormal"><span><span><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Fasakh<span> </span></span></strong></span></span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span><span><strong><em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Fasakh</span></em></strong></span></span><span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"> ialah rusaknya akad pernikahan dan hilangnya hak nikah kembali secara otomatis atau hak pilih,<span> </span>karena sebab-sebab yang bisa merusak sahnya akad pernikahan, baik terjadi setelah akad, seperti murtadnya salah satu dari suami atau istri. Atau yang sudah terjadi sebelumnya, seperti nikahnya saudara sesusuan</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Sedang <strong><em>thalaq</em></strong> ialah lepasnya akad/ikatan pernikahan yang sah dengan tidak hilangnya hak nikah kembali ( kecuali thalaq bain kubro )</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span><strong> </strong></span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span><strong> </strong></span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span><strong> </strong></span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span><strong> </strong></span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span><strong>Ditulis Oleh : Ust. H. Agung<br />
Cahyadi, MA. (Materi<br />
dalam program Islamic Short Course Menengah, Pusda YDSF 2008)</strong></span></span></p>
<br />Posted in Ruang Keluarga  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/inoors.wordpress.com/267/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/inoors.wordpress.com/267/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/inoors.wordpress.com/267/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/inoors.wordpress.com/267/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/inoors.wordpress.com/267/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/inoors.wordpress.com/267/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/inoors.wordpress.com/267/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/inoors.wordpress.com/267/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/inoors.wordpress.com/267/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/inoors.wordpress.com/267/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/inoors.wordpress.com/267/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/inoors.wordpress.com/267/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/inoors.wordpress.com/267/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/inoors.wordpress.com/267/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=inoors.wordpress.com&amp;blog=3095047&amp;post=267&amp;subd=inoors&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://inoors.wordpress.com/2008/12/24/perselisihan-suami-istri-talak-hukum-dan-konsekuensinya-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3ff52b0a48e65b4e1150dd0ed13db5d3?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">inoors</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://inoors.files.wordpress.com/2008/12/broken-home-joint-custodys600x6001.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">broken-home-joint-custodys600x6001</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
