Oleh: inoors | 1 September 2009

Tingkatan Ahli Waris (Faraidh 2)

TINGKATAN AHLI WARIS

harta-warisWarisan diberikan kepada ahli waris berdasarkan urutan tingkatannya ( kepada tingkat pertama , kedua dan berikutnya ), bila tingkat pertama tidak ada , baru kepada tingkat yang berikutnya

Berikut ahli waris berdasarkan urutan dan derajatnya :

  1. 1. Ash-habul Furudh, golongan inilah yang pertama diberi bagian harta warisan sebelum yang lainnya, yaitu mereka yang ditetapkan Al-Qur’an, As-Sunnah dan Ijma’ mendapatkan bagian dari harta waris dengan jumlah tertentu. Mereka ada dua belas orang ;  4 laki-laki dan  8 perempuan, yaitu :
    1. Bapak, Kakek keatas, Suami dan Saudara laki-laki seibu
    2. Istri, Anak perempuan, Saudari kandung, Saudari seayah, Saudari seibu, Putri anak laki-laki, Ibu dan Nenek keatas
  2. 2. ‘Ashabah An-Nasabiyah, setelah ash-haabul furuudh, golongan inilah yang mendapat giliran ke dua untuk mendapatkan bagian dari harta warisan, yaitu kerabat yang mempunyai hubungan nasab dengan mayit yang berhak mengambil seluruh harta waris bila sendiri, dan berhak mendapatkan sisa harta waris setelah dibagi kepada Ash-habul Furuudh.

Dan mereka ada 3 kelompok :

  1. ‘Ashabah Bin-nafsi ( laki-laki ), mereka ialah :

1)      Fihak Anak, yaitu Anak kebawah

2)      Fihak Bapak, yaitu Bapak keatas

3)      Fihak Saudara, yaitu Sudara kandung, Saudara sebapak, Anak paman kandung, Anak paman sebapak kebawah

4)      Fihak Paman, yaitu Paman kandung, Paman sebapak, Anak paman kandung, Anak paman sebapak kebawah

  1. ‘Ashabah Bil Ghoiri (  Perempuan ), mereka ialah :

1)      Anak putri, apabila mempunyai saudara laki-laki

2)      Putri anak laki-laki, apabila mempunyai saudara laki-laki

3)      Saudari kandung, apabila mempunyai saudara laki-laki

4)      Saudari sebapak, apabila mempunyai saudara laki-laki

  1. ‘Ashabah Ma’al Ghoiri, yaitu  Saudari-saudari kandung atau sebapak, apabila pewaris mayit  mempunyai putri dan tidak mempunyai putra
  2. 3. Dikembalikan ke Ash-habul Furuudh/penambahan jatah bagi Ash-habul Furudh ( selain suami istri )

Apabila harta warisan yang telah dibagikan kepada Ash-haabul Furuudh dan ‘Ashabah diatas masih juga tersisa, maka sisa tersebut diberikan/ditambahkan kepada Ash-habul Furuudh selain suami istri ( sesuai dengan bagian masing-masing ), hal tersebut dikarenakan hak waris suami istri disebabkan adanya ikatan pernikahan, sedangkan hak waris bagi Ash-habul Furuudh selain suami istri disebabkan karena nasab, yang karenanya lebih berhak dibandingkan yang lainnya.

  1. 4. Uulul Arhaam/kerabat, yaitu kerabat mayit yang ada kaitan rahim – dan tidak termasuk Ash-habul Furuudh dan juga bukan ‘Ashabah -, seperti paman dan bibi dari fihak ibu, bibi dari fihak ayah.

Apabila amayit tidak mempunyai kerabat sebagai Ashaabul Furuudh maupun ‘Ashabah, maka para kerabat yang masih mempunyai ikatan rahim dengannya berhak mendapatkan waris, berdasarkan firman Allah :

و أولوا الأرحام  بعضهم أولي  ببعض

Artinya : “ Dan orang-orang yang mempunyai hubungan darah satu sama lain lebih berhak ( waris mewarisi ) “ ( QS. 33 : 6 )

Dan sebagaimana sabda Rasulullah saw :

الخال  وارث  من  لا  وارث  له

Artinya : “ Paman dari fihak ibu adalah pewaris bagi yang tidak mempunyai ahli waris :” ( HR. Ahmad, Abu Daud, Nasai, Ibnu Majah , Hakim dan Ibnu Hibban )

5. Dikembalikan/ditambahkan kepada bagian suami istri

  1. 6. ‘Ashabah karena sebab, ada beberapa bentuk yang disebut dengan ‘Ashabah karena sebab :
    1. Orang yang memerdekakan budak, tetapi untuk bagian ini tidak ada lagi pada masa kini
    2. Orang yang diberikan wasiat lebih dari sepertiga harta warisan ( selain ahli waris )
    3. Baitul Maal, Rasulullah saw bersabda :

الله  و  رسوله  مولي  من  لا  مولي  له

Artinya  : “ Allah dan Rasul-Nya merupakan maula bagi yang tidak mempunyai maula “, maksudnya  ialah pewaris bagi yang tidak mempunyai ahli waris  ( HR. Ahmad dan yang lainnya).

(Ust. H. Agung Cahyadi, MA.)

About these ads

Responses

  1. kapan status hak waris kita berakhir,,,

  2. Mau bertanya, Bagaimana hukumnya kalo warisan itu dibagi rata antara hak laki-laki dan perempuan, tetapi pihak laki-laki setuju dengan di bagi rata tersebut. wassalam

  3. Oyok, mohon maaf lama ndak update. Secara hukum Islam sudah jelas pembagian waris itu bagaimana. Alangkah lebih baik jika hukum Islam itu ditegakkan. Adapun ketika ada inisiatif dibagi rata dengan semua fihak maka menurut saya : 1) Niatkan dan laksanakan dulu dibagi menurut Islam, 2) Jika ingin dibagi merata, maka bagian anak laki laki hibahkan kepada anak perempuan dengan hasil nilai akhir sama semuanya 3) Maka bagi anak laki laki akan mendapatkan kemuliaan dari Allah. Terimakasih.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: