Oleh: inoors | 10 Juli 2009

Manajemen Diri dan Keluarga di Bulan Ramadhan

Allah swt Maha Pengasih dan Maha Penyayang kepada umat manusia yang beriman kepada-Nya. Diantara tanda kasih sayang Allah kepada orang-orang beriman  ialah dijadikan-Nya bulan Ramadhan sebagai kesempatan terbuka bagi mereka untuk mendekatkan diri kepada Allah, memperbanyak tabungan kebaikan serta memperbaiki kualitas diri, keluarga dan masyarakatnya.

productivity364bigOrang-orang mukmin yang memiliki ambisi kuat untuk meraih banyak kebaikan di bulan Ramadhan sudah tentu memiliki rencana yang matang untuk memasuki bulan yang penuh berkah ini. Baik yang terkait dengan persiapan-persiapan menyambut datangnya bulan Ramadhan maupun program-program amal shaleh selama sebulan penuh.

Oleh sebab itu, mengingat besarnya pahala amal di bulan Ramadhan dan banyaknya amal shaleh yang dapat dilakukan selama bulan ini, maka segalanya perlu diatur dan ditata agar dapat dilaksanakan sesuai dengan kaidah-kaidah syariah serta bermanfaat dunia-akhirat. Sehingga berpuasa tidak sekedar meninggalkan makan, minum dan ber’kumpul’ antara suami dan istri. Tetapi benar-benar berpuasa Ramadhan secara jasmani dan ruhani.

Manajemen Ramadhan

Banyak hal dalam kehidupan orang beriman – khususnya di bulan Ramadhan – yang harus dimenej dengan baik, diantaranya:

  1. 1. Manajemen Hati.

Untuk mencapai amal yang berkualitas, seorang mukmin harus memiliki hati yang bersih. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah saw:

إن فى الجسد مضغة، إذا صلحت صلح الجسد كله، وإذا فسدت فسد الجسد كله، ألا وهي القلب. متفق عليه

Sesungguhnya di dalam tubuh ada segumpal daging; jika ia baik maka baik pula seluruh tubuh, dan jika ia rusak maka rusak pula seluruh tubuh. Segumpal daging itu adalah qalbu. Muttafaq ‘alaih.

Dengan hati yang bersih, seorang mukmin memulai puasa Ramadhan dan melaksanakan semua amaliyah Ramadhan dengan niat yang ikhlas yaitu mendapatkan ridha Allah swt. semata. Dengan hati yang bersih, ia lebih mudah menerima nasihat selama bulan Ramadhan. Dan dengan hati yang bersih pula, ia lebih bisa menahan hawa nafsu serta dorongan-dorongan untuk berbuat maksiyat lainnya.

  1. 2. Manajemen Waktu

Kita banyak menjumpai ayat-ayat Al-Qur’an yang menyebutkan bahwa Allah swt bersumpah dengan waktu. Perhatikan saja firman-firman Allah yang berisi tentang sumpah dengan waktu shubuh, dhuha, siang, sore, malam dan seterusnya. Hal ini menunjukkan betapa mulianya kedudukan waktu di sisi Allah dan betapa pentingnya memperhatikan waktu.

Ibadah Ramadhan adalah ibadah yang sangat ketat aturan waktunya. Hal-hal yang terkait dengan waktu dan penting untuk diperhatikan selama menjalankan shiyam Ramadhan diantaranya: penentuan awal dan akhir Ramadhan, sahur, ifthar (berbuka), qiyamullail, i’tikaf dan sebagainya. Sementara itu, ada ibadah-ibadah yang dapat dilakukan sepanjang waktu, seperti: dzikrullah, tilawah Al-Qur’an, thalabul ’ilmi (mencari ilmu), ith’am (memberi makan/ifthar), infaq dan sebagainya.

Oleh sebab itu, orang mukmin yang berpuasa harus memenuhi bulan Ramadhan dengan ibadah dan amal shalih secara maksimal. Jangan sampai ada hari atau detik yang terlewati sementara tidak ada kebaikan atau pahala yang bisa didapatkan. Sangat rugi orang yang mengisi siang hari Ramadhan dengan ’main kartu’ atau tidur semata dan amat sangat rugi orang yang menghabiskan malam-malam bulan Ramadhan dengan begadang atau menghitung laba bisnis duniawi semata atau digunakan untuk tidur semalam suntuk.

عن عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: أَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمَنْكِبِي فَقَالَ: (كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ) وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ يَقُولُ: إِذَا أَمْسَيْتَ فَلَا تَنْتَظِرْ الصَّبَاحَ وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلَا تَنْتَظِرْ الْمَسَاءَ وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ. رواه البخاري

Abdullah bin Umar ra berkata: Rasulullah saw pernah memegang pundakku lalu bersabda, “Hiduplah di dunia ini seperti orang asing atau orang yang sedang menyeberang jalan”. Kemudian Ibnu Umar berkata: ”Apabila kamu berada di waktu sore, maka jangan menunggu datangnya waktu pagi. Dan apabila kamu berada di waktu pagi, maka jangan menunggu datangnya waktu sore. Manfaatkan sehatmu sebelum datang sakitmu dan manfaatkan hidupmu sebelum datang kematianmu”. (Hr. Bukhari)

Dengan manajemen waktu yang baik selama Ramadhan, diharapkan seorang mukmin menjadi orang yang disiplin, tepat waktu dan menghargai waktu dengan harga yang sangat mahal.

  1. 3. Manajemen Tenaga.

Ibadah di bulan Ramadhan membutuhkan energi fisik yang besar. Di siang hari, kita harus menahan lapar karena berpuasa. Padahal aktivitas ubudiyah tidak boleh berkurang, bahkan harus ditingkatkan dari bulan-bulan sebelumnya. Sementara di malam hari, kita harus mengurangi jatah istirahat/tidur sebab ada qiyam Ramadhan serta tadarus Al-Qur’an yang sering sampai larut.

Oleh sebab itu, untuk sempurnanya ibadah di bulan Ramadhan dibutuhkan kondisi fisik yang baik. Karenanya kita harus menghemat energi agar tidak terbuang untuk hal-hal yang tidak bermanfaat atau duniawi semata serta mengharuskan kita untuk mengkonsumsi makanan dan minuman yang benar-benar halal dan thayyib, minimal tidak menimbulkan gangguan terhadap tubuh selama berpuasa.

Selain itu, puasa bukanlah sarana untuk memperlemah dan menyaikit fisik orang mukmin. Justru sering terbukti bahwa berbagai penyakit manusia dapat disembuhkan dengan cara berpuasa.

Oleh karena itu, sahur dan ifthar menjadi ’keharusan’ untuk dilakukan oleh orang yang berpuasa agar tubuhnya tetap mendapatkan hak selama bulan Ramadhan.

عَنْ أَنَسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: (تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً) الترمذى

Dari Anar ra, bahwasanya Rasulullah saw bersabda, “Barsahurlah, sebab sesungguhnya pada makan sahur itu ada berkahnya”. (hr. Tirmidzi)

Dengan memenej energi secara baik selama bulan Ramadhan, maka diharapkan seorang mukmin menjadi sehat jasmani sehingga mampu memikul beban ibadah dan dakwah di luar Ramadhan.

  1. 4. Manajemen Harta.

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ وَكَانَ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ فَلَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنْ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ (رواه البخاري)

Dari Ibnu Abbars ra, ia berkata, “Rasulullah saw adalah orang yang paling pemurah. Dan sifat pemurah beliau itu semakin bertambah pada bulan Ramadhan ketika didatangi oleh Jibril. Jibril selalu mendatangi beliau setiap malam di bulan Ramadhan, lalu bertadarus Al-Qur’an dengan Rasulullah. Sesungguhnya Rasulullah saw. sangat pemurah dengan kebaikan melebihi kebaikan angin yang berhembus”. (hr. Bukhari).

Hadits diatas mengajari kita untuk memiliki sifat hubbul infaq (cinta infaq) dengan segala bentuk kebaikan kepada orang lain terutama di bulan Ramadhan. Infaq di bulan Ramadhan bisa berupa; menunaikan zakat, ifthar sho’im (memberi makan berbuka kepada orang yang berpuasa), kafalah yatim (memberi santunan kepada anak yatim), kiswatul ’Ied (memberi pakaian hari raya kepada orang lain) atau bentuk kebaikan lainnya.

Sementara itu, dalam realita kehidupan masyarakat muslim kita menjumpai peningkatan anggaran belanja selama bulan Ramadhan melebihi bulan-bulan sebelumnya. Peningkatan itu ’biasanya’ digunakan untuk meningkatkan menu berbuka dan sahur, mempercantik rumah, membeli makanan dan minuman untuk hidangan tamu iedul fitri, ongkos transportasi mudik plus oleh-olehnya, pakaian hari raya dan lain-lain.

Dengan demikian, diperlukan manajemen keuangan yang tepat selama bulan Ramadhan. Tujuannya agar harta yang kita miliki tidak habis untuk memenuhi kebutuhan jasmani semata. Tetapi ada diantaranya yang disimpan di rekening bank ukhrawi, dan hanya itulah harta kita yang sesungguhnya.

  1. 5. Manajemen Keluarga

عن عائشة رضي الله عنها أن النبي صلى الله عليه وسلم كان إذا دخل العشر الاواخر أحيى الليل، وأيقظ أهله، وشد المئزر. رواه البخاري ومسلم

Dari Aisyah ra, bahwasanya Nabi saw. apabila telah memasuki sepuluh hari terakhir (bulan Ramadhan); beliau menghidupkan waktu malam, membangunkan keluarganya dan mengencangkan ikat sarungnya. (hr. Bukhari dan Muslim).

Selama bulan Ramadhan, suasana keluarga harus dikondisikan untuk mematuhi dan menghormati bulan suci. Sehingga meskipun di dalam sebuah keluarga  terdapat anggota yang tidak berpuasa, namun kondisi umum dalam rumah tersebut harus tetap dalam suasana berpuasa. Meskipun hubungan antara suami dan istri ’tidak sebebas’ seperti di luar Ramadhan, namun kaharmonisan antara keduanya tetap harus dijaga. Di bulan Ramadhan, keharmonisan keluarga bukan semata-mata ketika makan sahur dan berbuka bersama. Tetapi keharmonisan itu juga dapat tercipta ketika semua anggotanya melakukan qiyam Ramadhan, tadarus Al-Qur’an, i’tikaf di masjid pada sepuluh malam terakhir dan lain-lain.

Kita semua menyadari bahwa yang berkuasa untuk melakukan ta’liful qulub (menyatukan hati) hanyalah Allah swt. Oleh sebab itu, kita harus banyak memohon kepada Allah agar hati-hati semua anggota keluarga dijadikan-Nya menyatu dengan cara mendekatkan diri kepada-Nya. Dengan demikian, Ramadhan menjadi sarana yang tepat untuk menjalin keharmonisan keluarga.

Wallahu a’lam bishshawab.

Oleh: Ust. Farid Dhofir, Lc.M.Si.

(Dalam Islamic Short Course Ramadhan 2008)


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: