Oleh: inoors | 18 Desember 2008

Tentang Nafkah

A. PENDAHULUAN

copy-of-tempeMenurut arti bahasanya nafkah berarti mengeluarkan atau membelanjakan. Dan menurut arti istilahnya berarti mencukupi kebutuhan

Nafkah wajib ada dua macam

1. Nafkah wajib seseorang atas dirinya

2. Nafkah wajib seseorang atas/kepada orang lain


Wajibnya kedua nafkah tersebut berdasarkan sabda Rosulullah saw :

ابدأ بنفسك ثم بمن تعول

Artinya : “ Mulailah dari dirimu , kemudian kepada orang yang dibawah tanggung jawabmu “ ( HR. Ahmad dan Muslim )

Sebab wajibnya nafkah seseorang kepada orang lain :

1. Hubungan suami istri

2. Hubungan kerabat

3. Nafkah wajib karena kebutuhan

B. NAFKAH ISTRI

Apabila sebuah pernikahan telah sah secara syar’i, maka seorang suami berkewajiban untuk memberikan nafkah kepada istrinya ( baik muslimah atau ahlul kitab ) berdasarkan dali-dalil sebagai berikut :

1. Alqur’an :

Artinya : “. dan kewajiban ayah memberi makan dan Pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf. seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. “ ( QS. 2 : 233 )

Artinya : “Tempatkanlah mereka (para isteri) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati) mereka. dan jika mereka (isteri-isteri yang sudah ditalaq) itu sedang hamil, Maka berikanlah kepada mereka nafkahnya hingga mereka bersalin, Kemudian jika mereka menyusukan (anak-anak)mu untukmu Maka berikanlah kepada mereka upahnya ( QS. 65 : 6 )

2. Al- hadits :

لهن عليكم رزقهن و كسوتهن بالمعروف

Artinya : “ Mereka ( istri mempunyai hak atasmu berupa rizki dan pakaian dengan baik “ ( HR. Muslim, Abu Daud dan Malik ).

3. Al- Ijma’:

Seluruh ulama bersepakat akan wajibnya seorang suami memberikan nafkah kepada istri

4. Syarat wajibnya nafkah istri

a. Akadnya sah

b. Istri tersebut telah menyerahkan dirinya kepada suami

c. Istri tersebut telah dewasa yang memungkinkan bagi suami untuk menggaulinya

d. Tidak ada halangan syar’i ( seperti nusyuz )

5. Yang menghalangi nafkah

a. Apabila istri masih kecil dan belum baligh

b. Apabila istri berpindah dari rumah suami tanpa alasan syar’i

c. Apabila istri bekerja dengan tanpa ridho dari suami

d. Apabila istri berpuasa sunnah atau i’tikaf tanpa ridho dari suami

e. Apabila istri durhaka atau berbuat maksiat terhadap suami

C. NAFKAH KERABAT

Ada perbedaan pendapat antara Fuqoha’tentang kerabat yang berhak mendapatkan nafkah :

a. Malikiyah : Kerabat yang wajib dinafkahai ialah : Bapak Ibu dan Anak-anak, berdasarkan sabda Rasulullah saw :

أنت ومالك لوالدك ان أطيب ما أكلتم من كسبكم وان أولادكم من كسبكم

Artinya : “ Kamu dan hartamu adalah milik orang tuamu, sesungguhnya sebaik-baik yang kalian makan adalah hasil kerja kalian, dan sesungguhnya anak-anak kalian adalah dari kerja kalian “ ( HR. Ahmad dan Abu Daud )

b. Syafi’iyah : Kerabat yang wajib dinafkahi ialah : Bapak ibu keatas dan anak-anak kebawah

c. Hanafiyah : Kerabat yang wajib dinafkahi ialah : Kerabat mahrom yang haram untuk dinikahi, berdasarkan firman Allah :

Artinya : “ Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat “ ( QS. 43 : 36 )

d. Hanabilah : Kerabat yang wajib dinafkahi ialah Ahli waris, berdasarkan firman Allah :

Artinya : “ Dan kewajiban ayah memberi makan dan Pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf. seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan Karena anaknya dan seorang ayah Karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian “ ( QS. 2 : 233 )

Syarat wajibnya nafkah kerabat :

1. Adanya hubungan kerabat

2. Adanya kelebihan nafkah atas dirinya ( bagi yang berkewajiban )

3. Yang berhak mendapatkan nafkah dalam keadaan miskin

D. NAFKAH KEPADA ORANG LAIN

Seorang Muslim wajib untuk memberikan nafkah kepada orang lain yang membutuhkan untuk memenuhi kebutuhan pokoknya, apabila pada dirinya ada kelebihan, berdasarkan firman Allah :

Artinya : “Dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, bagi orang ( miskin ) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa ( yang tidak mau meminta-minta)“ ( QS. 70 : 24-25 )

1. Jenis Nafkah dan Kadarnya

Para Fuqoha’ menetapkan jenis nafkah yang wajib dipenuhi oleh seorang suami atas istrinya adalah sebagai berikut :

a. Makan dan minum

b. Pakaian

c. Tempat tinggal

d. Pembantu bagi yang membutuhkannya

e. Alat kebersihan dan alat rumah tangga

Penetapan tersebut berdasarkan dalil-dalil sebagai berikut :

Artinya : “ Dan kewajiban ayah memberi makan dan Pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf. “( QS. 2 : 233 )

Artinya : Tempatkanlah mereka (para isteri) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati) mereka. “ ( QS. 65 : 6 )

Artinya : Dan an bergaullah dengan mereka secara patut. “ ( QS. 4 : 19 )

Adapun kadar nafkah yang harus diberikan adalah sesuai dengan kemampuan, Allah berfirman :

Artinya :” Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. dan orang yang disempitkan rezkinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan. “ ( QS. 65 : 7 )

Hindun – istri Abu Sufyan – berkata kepada Rasulullah saw :

يا رسول الله ان أبا سفيان رجل شحيح لا يعطيني ما يكفيني و ولدي الا ما أخذت منه و هو لا يعلم فقال صلي الله عليه و سلم : خذي ما يكفيك و ولدك بالمعروف

Artinya : Ya Rosulullah , Sesungguhnya Abu Sufyan seorang yang kikir, ia tidak memberikan nafkah yang cukup bagiku dan anakku, kecuali yang aku ambil darinya tanpa sepengetahuannya, maka Rosulullah saw bersabda : “ Ambillah untuk memenuhi kebutuhanmu dan anakmu dengan cara yang baik / secukupnya “ ( HR. Bukhori, Muslim, Abu Daud dab Nasai )

2. Hutang Nafkah

Apabilah seorang suami sudah berkewajiban untuk memberi nafkah kepada istri karena telah memenuhi syarat, tetapi kemudian suami tidak membayar, maka nafkah tersebut menjadi hutang, dan hutang tersebut tidak gugur kecuali telah dilunasi atau dibebaskan oleh istri

3. Nafkah yang terlanjur dibayarkan

Apabila seorang suami telah terlanjur memberikan nafkah kepada istri ( misalnya untuk sebualan atau setahun ), kemudian tiba-tiba terjadi sesuatu yang menyebabkan istri tidak berhak menerima nafkah ( misalnya karena nusyuz atau meninggal ), maka suami berhak meminta kembali nafkah yang telah diberikan untuk waktu yang belum dijalani dimana istri seharusnya tidak berhak menerima nafkah

4. Nafkah dalam masa‘Iddah

Wanita yang dalam keadaan ‘iddah karena tholaq baik dalam keadaan hamil atau tidak, tetap berhak untuk mendapatkan nafkah, berdasarkan firman Allah :

Artinya : “Tempatkanlah mereka (para isteri) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati) mereka. dan jika mereka (isteri-isteri yang sudah ditalaq) itu sedang hamil, maka berikanlah kepada mereka nafkahnya hingga mereka bersalin “ ( QS. 65 : 6 ).


Ditulis Oleh : Ust. H. Agung
Cahyadi, MA. (Materi
dalam program Islamic Short Course Menengah, Pusda YDSF 2008)

About these ads

Responses

  1. i lov gadis endon bab smua bila pakai jilbab nampak cntk n sejuk mata memandang


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: