Rabbi la tadzarnii fardan wa anta khairul waritsin
“Ya Tuhanku, janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri, dan Engkaulah Waris yang paling baik“.
Al Qur’an mengisahkan, bahwa do’a di atas diantaranya dipanjatkan oleh
Nabi Zakaria ‘Alaihis Salam pada usianya yang lanjut. Ketika tulang-tulangnya telah rapuh dan rambutnya semakin memutih, Zakaria memanjatkan do’a kepada Allah untuk mendapatkan keturunan, sehingga merasa khawatir tidak akan ada yang meneruskan perjuangan dakwahnya.
Di sisi lain ia merasa pesimis atas terkabulnya do’a yang dipanjatkan, mengingat usianya telah udzur. Maka kemudian ia mengatakan : “Dan Engkaulah Waris yang paling baik”. Sebagai ungkapan pasrah kepada Allah bilamana do’anya tidak dikabulkan. Penyerahan seperti ini adalah bagian dari etika berdo’a yang selalu dilakukan oleh para Nabi, sehingga kemudian do’anya dikabulkan Allah. Baca Lanjutannya…
Orang-orang mukmin yang memiliki ambisi kuat untuk meraih banyak kebaikan di bulan Ramadhan sudah tentu memiliki rencana yang matang untuk memasuki bulan yang penuh berkah ini. Baik yang terkait dengan persiapan-persiapan menyambut datangnya bulan Ramadhan maupun program-program amal shaleh selama sebulan penuh.
Niat adalah kebangkitan jiwa dan kecenderungan pada apa-apa yang muncul padanya berupa tujuan yang dituntut yang penting baginya, baik secara segera maupun ditangguhkan.
Ibunda dan Ayahanda yang sangat saya hormati, saya cintai dan sayangi, semoga Allah selalu memberkahi langkah-langkah kita dan tidak putus-putus memberikan nikmatNya kepada kita. Amin Ibunda dan Ayahanda yang sangat saya hormati…sebagai hamba Allah, saya telah diberi berbagai nikmat. Maha Benar Allah yang telah berfirman : “Kami akan perlihatkan tanda-tanda kebesaran kami di ufuk-ufuk dan dalam diri mereka, sehingga mereka dapat mengetahui dengan jelas bahwa Allah itu benar dan Maha Melihat segala sesuatu”.
Dimasa Jahiliyah dhihar dianggap thalaq, kemudian Islam membatalkannya dengan ketentuan ; suami dilarang menggauli istrinya sebelum membayar kafarah
satu tujuan yang sama. Dan salah satu tujuan perkawinan adalah mencapai kebahagiaan yang langgeng bersama pasangan hidup. Namun, jalan menuju kebahagiaan tak selamanya mulus. Banyak hambatan, tantangan, dan persoalan yang terkadang menggagalkan jalannya rumah-tangga. Buktinya, perceraian kini sudah menjadi persoalan biasa, bukan lagi soal tabu bagi sebagian masyarakat. Nah, bagaimana kita mengantisipasi supaya mahligai rumah-tangga kita tidak goyang? Inilah
Memasuki dunia baru bagi pasangan baru, atau lebih dikenal dengan pengantin baru memang merupakan suatu yang membahagiakan. Tetapi bukan berarti tanpa kesulitan. Dari pertama kali melangkah ke pelaminan, semuanya sudah akan terasa lain. Lepas dari ketergantungan terhadap orang tua, teman, saudara, untuk kemudian mencoba hidup bersama orang – yang mungkin – belum pernah kenal sebelumnya. Semua ini memerlukan persiapan khusus (walaupun sebelumnya sudah kenal), agar tidak terjebak dalam sebuah dilema rumah tangga yang dapat mendatangkan penyesalan di kemudian hari. Diantara persiapan yang harus dilakukan oleh pasangan baru yang akan mengarungi bahtera rumah tangga:
yang berarti melepas pakaian, karena wanita adalah pakaian suami
dengan digantungkan dengan suatu syarat atau disandarkan pada waktu yang akan datang
Thalaq
Menurut arti bahasanya nafkah berarti mengeluarkan atau membelanjakan. Dan menurut arti istilahnya berarti mencukupi kebutuhan
Bersabda Rasulullah saw :
Sabda Rasulullah saw :